Oleh: Rizal Mubit
Sudah enam tahun kau tinggalkan negeri ini, Kang Mas. Sudah waktunya untuk kembali dari tanah para wali.
Mungkin akan lebih baik jika kembali nanti, kamu langsung melangsungkan akad nikah. Kalau tidak, bisa-bisa pesonamu akan menghanyutkan banyak wanita. Mereka bisa mabuk seperti perempuan-perempuan yang kehilangan akal sehat sampai memotong jarinya saat melihat ketampanan Yusuf.
Kang Mas, kepingan kenangan sembilan tahun lalu tak akan kulupa. Betapa dekatnya kita saat itu. Walaupun kita sangat berbeda. Ya, berbeda sekali. Kamu tinggi, tampan dan putra seorang Kiai, sedang aku hanya anak petani. Tapi apalah itu semua, Kang. Kamu egaliter, tak pernah membedakan teman, termasuk padaku.
Usiaku empat belas tahun waktu itu dan Kang Mas sendiri sudah lima belas tahun. Hanya terpaut setahun. Kita dulu duduk sebangku. Tentu Kang Mas masih ingat ini. Bahkan kita dua tahun duduk sebangku, Kang. Sampai tahun pertama nyantri di Gresik.
Ah, Kang. Aku suka tersenyum sendiri ketika ingat begitu asyiknya aku membersihkan jerawat di wajahmu dengan jari dan kukuku yang mungkin saja malah jadi penyebab jerawatmu semakin banyak.
Aku baru mengenalmu waktu kelas tiga, walau sejak kelas satu sudah tahu siapa namamu. Hei, siapa yang tak tahu kamu. Satu sekolahan yang muridnya ribuan pun tahu siapa lelaki berpawakan tinggi dan tampan sepertimu. Semua guru pun tahu.
Apalagi saat kamu menjabat ketua Osis dulu. Gadis mana yang tak tertarik padamu. Walaupun ada sesuatu yang membuat banyak orang segan padamu. Entah apa itu. Mungkin akhlakmu atau juga kau terlalu mempesona. Kang Mas lebih tahu apa penyebabnya.
Aku tahu banyak yang ingin menjadikanmu kekasih dan banyak pula yang mendukungmu agar punya pasangan. Tapi Kang Mas tak tergoda dengan perempuan secantik apapun.
Apa karena sejak dulu abah sudah mengajarimu tentang cinta, Kang? Tentang cinta yang tak akan pernah ada yang sempurna. Mungkin juga begitu atau ada sebab lain seperti misalnya Kang Mas sudah tangguh untuk tak tergoda setan yang tak berhenti membujukmu untuk pacaran? Mungkin juga bisa seperti itu. Sebab aku tahu banyak teman-teman kita yang justru merasa senang jika kau berkekasih.
Ah iya. Dulu Kang Mas pernah bercerita tentang adik kelas berkacamata itu. Di sela kegiatan pondok, Kang Mas bercerita dengan detail tentang adik kelas yang ruangannya di samping kelasmu itu. Kang Mas dan salah satu teman kita menyukainya. Singkat cerita, Kang Mas mengalah. Dan, hei, itu terjadi waktu kelas dua bukan? Atau awal kelas tiga MTs? Ah pokoknya peristiwa itu terjadi tahun 2004, tepat sepuluh tahun lalu.
Kalau mengingat kejadian itu lalu melihat kondisi sekarang, rasanya seperti menertawan lelucon masa silam tentang anak-anak ingusan yang sok tahu tentang cinta. Buktinya, sahabat kita menikah dengan perempuan lain, sedang gadis berkacamata itu tak tahu lagi kabarnya.
Baiklah, Kang. Kuakui ketangguhanmu. Anak seusia belasan tahun punya rasa ingin tahu tinggi untuk menjalin hubungan. Termasuk aku. Untung aku tak setampan dirimu sehingga tak ada gadis yang tertarik jadi kekasihku. Aku diselamatkan oleh Tuhan dengan wajah pas-pasan.
Kalau membandingkan dengan anak-anak sekarang rasanya jauh sekali. Kita dibesarkan ketika film-film kartun Jepang masih mendominasi tayangan pada hari Minggu. Kita suka berdiskusi tentang Son Goku atau Sungokong dalam Kera Sakti. Tak ada internet waktu itu. Hp canggih pun yang punya hanya orang-orang kaya. Dan HP Kang Mas lah yang tercanggih saat itu.
Kini beda, Kang. Ini yang jadi PR kita. Anak-anak semakin beringas, free sex meluas ke desa-desa, anak-anak muda tak takut dosa, biduan orkes kelewat nekat dan macam-macam kerusakan, Kang. Pokoknya moral sudah jadi barang mahal digantikan kedunguan manusia sok modern padahal jahiliah. Ah, aku sok moralis sepertinya. Moralku sendiri masih buruk. Tapi bagaimana lagi. Itulah faktanya.
Kita hidup dalam zona waktu di saat ba'da maghrib adalah waktu untuk mengaji bukan pada saat di mana televisi mengajarkan bagaimana cara memakai rok mini. Aduh, Maaf Kang Mas. Aku jadi membicarakan aib negeri ini. Tapi aku kadang susah menahan diri untuk tidak bercerita tentang negeri yang sudah lama kamu tinggalkan.
Kalau dibandingkan dengan tanah para wali tempatmu menuntut ilmu kini, aku yakin sangat jauh berbeda. Aku sering mendapat cerita betapa kejujuran dalam ujian sangat ditekankan di sana. Jauh berbeda dengan kualitas ujian nasional di sini yang hanya merupakan proyek pengeruk uang rakyat dan pembodohan masyarakat. Kecurangan pun sudah dianggap wajar.
Dalam hubungan lawan jenis di sana pasti sangat terjaga kan, Kang? Di mana ada pemisahan laki-laki perempuan, juga cara berpakaian pun sesuai syariat Islam. Dengan kondisi seperti itu, Kang Mas jadi lebih terjaga di sana. Tak ada lagi gadis-gadis yang meneriakkan namamu dari kejauhan sewaktu main bola atau basket. Juga tak ada lagi kirim-kirim salam yang setiap hari berseliweran dari si A, si B dan yang lain-lain.
Aku jadi teringat ceritamu, Kang. Tentang seseorang yang rajin mengucap.
"Dapat salam dari ini. . . ."
Tiap kali bertemu entah di musholla, kantin dan tempat lain. Dialah yang rajin menjadi kurir penyampai salam dari salah seorang pengagummu. Dan kamu masih tetap tangguh untuk tak menanggapinya. Seandainya itu terjadi padaku. Tentu sangat berbeda ceritanya. Untung tidak terjadi padaku yang mudah tergoda oleh wanita saat itu.
Dan kisahmu menjadi seperti dalam skenario FTV murahan, Kang. Justru akhirnya kamu menjalin hubungan dengan kurir penyampai salam itu. Ah, sepertinya aku harus menuliskannya agak panjang tentang kisah ini. Bagaimana pun aku ikut terlibat bukan? Masih ingat dulu pernah membohongiku mengajak ke kota Babat. Tapi ternyata Kang Mas mengajakku datang ke sebuah desa terpencil tempat bersemayamnya rumah si kurir.
Mana aku tahu kalau ternyata kalian sudah menjalin hubungan sebelum aku dan Kang Mas nyantri di Gresik. Kisahmu terlalu cepat dan singkat Kang Mas. Sebuah keputusan aneh yang kauambil. Di saat mau nyantri justru kalian menjalin kasih. Untungnya ini tak berlalu lama.
Kurir berhidung mancung itu kini sudah menikah barangkali sudah punya anak. Tapi aku yakin Kang Mas tak mungkin mengusik perasaan kepada pacar pertama dan terakhir itu. Aku tahu bagaimana Kang Mas akhirnya memilih jalan sufi, menghindari cinta duniawi termasuk cinta pada perempuan.
Prinsip hidup yang kaujalani ini pasti membuat banyak perempuan patah hati. Ya, biarlah mereka patah hati. Itu salah mereka sendiri bukan? Semoga kita tetap bisa istiqomah dalam prinsip ini, Kang.
Tapi nanti dulu Kang Mas. Ada hal yang masih jadi pertanyaan buatku. Setan macam apa yang mampu menganggu lelaki sepertimu hingga menggoyahkan prinsip. Kalau hanya karena kecantikan si A, aku tak percaya. Aku yakin ada persekongkolan setan jin dan setan berbentuk manusia hingga ego pun akhirnya ikut-ikutan.
Aku tahu. Saat itu, kita masih kelas tiga MTs. Banyak teman-teman yang berpasang-pasangan, termasuk teman sekelas kita. Mereka masih terlalu naif dalam menafsirkan cinta sehingga lebih mudah tergoda dibanding lelaki sepertimu, Kang.
Yah, walaupun aku tahu, Kang Mas tidaklah kaku dalam berkomunikasi dengan teman-teman perempuan. Berbeda sekali dengan teman yang duduk di bangku belakang kita. Dia terlampau protektif terhadap dirinya sendiri sampai-sampai melihat wajah perempuan pun tak sudi. Malu katanya.
Ada juga teman di belakang kita yang sama sepertimu, Kang. Dia tak terlalu respon terhadap perempuan. Tapi dia tak tampan sepertimu, Kang. Dia tak jadi incaran banyak cewek-cewek centil di sekolah kita.
Sudah-sudah. Nostalgia masa lalu takkan ada habisnya. Tugas kita sudah menumpuk di depan. Kita bereskan sedikit demi sedikit ketololan manusia modern yang hampir mencapai titik nadir. Aku yakin Kang Mas setuju denganku untuk menyelesaikan ini semua dengan cara yang bijaksana. Dengan tauladan dan kasih sayang seperti yang diajarkan rasul kita.
No comments:
Post a Comment