Catatan harian semalam dibaca orang yang merasa tersindir oleh perkataanku. Aku bersyukur. Namun tak selamanya syukur itu ada karena kenikmatan. Malam ini nikmat ketenanganku melayang jauh. Sangat jauh. Shofa membaca catatanku kemarin. Dia sangat marah. Dan aku adalah orang yang sangat takut membuat orang lain marah. Apalagi marah itu disebabkan olehku, oleh tulisanku. Rasa takutku kepada orang marah barangkali lebih besar dibanding takutku kepada Tuhan. Kuakui itu. Rasa takut ini melebihi rasaku saat dulu Wildan membaca catatanku. Inilah konsekwensi menulis, kadang baik dan kadang buruk, nyelekit di hati. Dan selekitan ini semakin dalam, mendalam. Ketika aku meresah, jurus untuk mengeluarkan segala keresahan ini ialah doa. Doa agar dia yang sedang kusakiti akan mereda dan mau memaafkanku. Dan biasanya aku akan berusaha melakukan segala hal yang bisa meredakan marahnya padaku. Ini bukan cerita ftv.
No comments:
Post a Comment