Monday, November 26, 2012

AHAD, 28 OKTOBER 2012

Hari ini bukan hari yang baik. Setidaknya ketidakbaikan itu kurasakan malam ini. Ada banyak deadline yang harus diselesaikan, tugas sekolah, membimbing lomba LKTI, koreksi ujian, baca buku, menulis, mengurus proses pembuatan cerpen, majalah, dan masih banyak lainnya. Sebenarnya semua bisa kuatasi jika manajemen waktuku bagus. Sayang aku lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca. Aku lebih suka menyelesaikan tugas-tugas pribadi. Untuk membantu menyelesaikan tugas dari sekolah atau siswa-siswi aku masih belum bisa maksimal. Boleh jadi karena aku terlalu idealis terhadap konsep-konsep belajar sementara pelajar saat tak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Lalu apakah aku harus mengikuti jalan orang lain? Permasalahan lain ialah aku berada di sebuah lingkungan pesantren yang mau tak mau dan tak bisa dihindari masih kental dengan unsure otoriter sementara aku suka kebebasan dan cenderung egaliter. Kedua sifat itu sudah mendarah daging. Aku tak ingin merubahnya sebab bagiku banyak positifnya. Kemarin aku merasa dilecehkan orang. Harus kusadari bahwa aku mudah tersinggung dan jika diremehkan akan emosi. Dan pelecehan kemarin meski hanya dengan kata-kata yang diucapkan oleh santri putri membuat emosiku naik. Untungnya aku hanya mengekspresikan dengan menjauh dari kerumunan anak-anak ingusan itu. Aku teringat bahwa kejadian serupa pernah kualami saat kelas enam SD. Ketika aku tiba-tiba dianggap tak adil oleh teman sekelasku yang berjenis kelamin wanita. Saat itu aku merah dengan membentaknya. Tapi pasca itu, seingatku aku tak pernah marah sampai keluar ucapan. Hanya ekspresi tindakan dan tulisan saja. Tak ada gunanya marah bukan? Lalu tadi tiba-tiba Shofa, salah seorang santri putri yang sudah jadi pengurus mengataiku lagi dengan mengkritik metode belajarku. Sikap egaliterku dianggap tidak pas, dianggap perlu dirubah. Kukira itu hanya wujud kecemburuan saja. Beberapa hari lalu dia juga melakukan dengan membuat komentar di status facebook. Ekspresi orang cemburu memang aneh. Untungnya semua hal yang menyebabkan ketidaktenanganku dapat tenang dengan hadrinya adikku, Nurul Azizah. Dialah yang bisa kuajak bicara, menjadi teman becanda sekalipun terkadang aku lupa waktu karena memang waktu yang terbatas untuknya. Bagaimana jika di sini aku diasingkan karena cara berpikir dan sikapku yang tak lazim di hadapan orang-orang di lingkungan sini. Sama sekali aku tak pernah gentar. Aku rela diasingkan. Duniaku luas, sangat luas. Jika di sini aku tak dapat tempat atau sahabat, maka di dunia yang entah di mana ujungnya aku dapat berperan dan berteman dengan siapa pun. Maka aku harus berterima kasih sebab ketidakenakan di hatiku memaksaku untuk meluapkannya dengan kata-kata setelah sekian hari direnggut oleh malas

No comments:

Post a Comment