Monday, November 26, 2012

KAMIS, 15 NOVEMBER 2012

Ketidakikutanku dalam acara rapat dinas di Tulungagung sepertinya berbuntut sampai hari ini. Setidaknya aku tahu itu saat tak ada sapaan dari gus-gus yang ada di sini. Kutahu para gus-gus di sini baik. Semuanya berpikir pada kemajuan pondok. Tapi itu tidak berarti aku harus ikut apapun yang jadi perintah elit pesantren itu. Seperti agenda rapat dinas yang tak semestinya dilakukan di hotel dengan tambahan rekreasi. Bersyukurlah aku masih tak bisa mempertahankan keinginan untuk tidak mengikuti agenda yang diselipkan rekreasi. Kenapa penyakit semacam ini menjangkit lembaga pendidikan pesantren? Kenapa? Why? Untuk refreshing? Untuk motivasi? Apapun itu, aku tak suka. Ya, lebih baik aku sendiri di kamar di hadapan laptop atau mengkhatamkan buku yang kubeli beberapa hari lalu. Dan sampai hari ini aku belum memiliki keberanian mengungkapkan apa yang kupikirkan. Hanya tulisan yang bisa jadi curhatan. Tulisan yang saya yakin juga terbaca oleh Tuhan, Allah. Sekalipun aku bukanlah hamba Allah yang setaat para gus itu. Dan memang harus diakui terkadang santri atau ustadz sekalipun yang stratanya di bawah gus banyak yang mengesankan diri sedang cari muka. Barangkali itu juga terjadi padaku. Itu sulit dihindari. Tapi akan kubuang itu semua. Biar aku jadi manusia tak berguna di sini tapi aku tak akan berhenti agar bisa mempengaruhi santri. Tentunya untuk hal-hal positif. Malam penampilan pentas seni di pondok malam ini cukup meriah sekalipun performance-nya monoton. Semuanya hampir sama. Hanya yel-yel yang berbeda. Ah, malam ini mengingatkanku akan pentas seni beberapa tahun lalu saat pentas seni bersama CSS MoRA. Waktu itu aku 'menggila' dengan peran Kiai yang didramakan. Ternyata saat-saat seperti itu sampai kapanpun tetap seru. Ya,setidaknya ada rasa yang membuatku ingin mengulang lagi. Mesti menggila dan seringkali aku jadi provokator! Sedang hari ini jika aku mengulang hal itu dengan santri di sini, kemungkinan ada ditertawakan. Padahal seni tak mengenal usia, tak kenal kelamin dan barangkali juga tak kenal agama. Seni itu universal. Hal-hal lain seperti usia, kelamin dan agama hanya ekspresi saja. Pada prinsipnya semua manusia dapat menikmati dan mencipta seni.

No comments:

Post a Comment