Monday, November 26, 2012

JUMAT, 16 NOVEMBER 2012

Ingin tertawa dengan tawa sinis saat kulihat beberapa elit pesantren melakukan hal-hal yang lucu. Ya, antar elit satu dengan lain meminta dengan seenaknya tanpa pandang bagaimana seseorang sedang memiliki kesibukan lain. Sebenarnya bukan minta bantuan tapi semacam eksploitasi. Setidaknya kesimpulan ini kuambil sebab sejak di sini sedikit demi sedikit tanggung jawab diserahkan padaku. Ya, barangkali mereka mencium kemampuanku. Untungnya aku masih bergumul dengan santri. Merekalah orang-orang dekatku. Yang bisa kucandai tanpa memandang sebuah strata. Lain halnya dengan para elit. Kurasa seperti ada jembatan yang menyusahkan gerak. Untungnya aku bisa menelikung dengan jeli. Apa yang kudapat di Semarang telah menjadi pelajaran berharga untuk melangkah lebih baik. Aku kesal namun bukan dendam. Kekesalan ini sebab aku dipaksa untuk memakai sepatu pantovel dalam mengajar. Oh tidak. Langsung saja tatapan mataku jadi sinis. Elit pesantren tak melihat apa yang ekspresiku. Ya, sebuah ekspresi kekecewaan sebab kukira dia masih belum memahami bagaimana sebuah proses dalam belajar. Tak ada paksaan, tak ada beban dan tanpa tanggungan. Inilah pelajaran untukku bahwa jangan sampai melakukan tindakan tak benar itu.

No comments:

Post a Comment