Jika aku tak setuju dengan sikap para elit pesantren maka bukan berarti aku lepas dari para santri. Tidak. Aku malah sangat dekat dengan mereka. Malam ini kumulai membuat perpustakaan keliling dengan julah bukuku yang terbatas. Hanya sebelas buku. Aku minta bantuan Shobah. Kukira dia santri yang sangat potensial. Cerdas. Sore tadi aku membaca status mantan Nurul. Sepertinya baru saja dia bertemu dengan Nurul. Hah, pria Korea itu masih ada di hatinya. Dan aku harus siap-siap merelakan untuk dicampakkannya. Apapun yang terjadi, aku bukanlah lelaki yang bisa tenggelam dalam depresi. Kamis malam kemarin, aku pertama kali menjadi orang yang melakukan renungan malam. Tak kusangka hampir semua santri menangis dan memelukku erat ketika kubicarakan tentang kematian. Kematian yang penuh misteri. Aku ingin menangis bersama mereka lagi. Tenggelam dalam kesedihan bersama untuk melakukan perbaikan diri. Hari ini kusadari tak ada kehadiran Tuhan dalam hati. Harus kuakui itu. Sholat, zikir dan semua yang kulakukan hanya untuk pengguguran kewajiban. Hanya untuk mencari kepuasan. Entah kepuasan akal atau hati. Apakah agama tercipta hanya untuk kepuasan? Tidak. Islam adalah jalan hidup yang diridhoi Tuhan. Tuhanku adalah Allah. Tapi dimana dia, seharusnya ada di hatiku setiap waktu seperti saat aku sedang menulisnya. Apa aku sudah membunuh Tuhan yang ada dalam hatiku. Atau aku mengabaikannya seperti seseorang yang memutuskan kekasihnya. Allah ada dimana-mana. Tapi aku belum bisa merasakannya.
No comments:
Post a Comment