Monday, November 26, 2012

RABU, 21 NOVEMBER 2012

Dalam sebuah desa ada sepuluh orang yang hidup. Sembilan diantaranya sedang sakit. Hanya satu yang masih sehat. Orang-orang mengira orang sehat itu aneh. Ya, aneh karena berbeda. Jikalau hal itu dianalogikan dalam kehidupan di sini, mungkin bisa diakui kebenarannya. Tapi apakah begitu? Apakah tidak malah aku terlalu sombong. Terkadang aku merasa aku tak cocok hidup di pesantren. Terkadang juga aku berpikir bahwa aku harus membuat lembaga pendidikan sendiri yang bernuansa ‘islam’ yang telah lama kupahami dan kukagumi. Aku ingin Islam yang kukagumi tak dikerdilkan. Qur’an seolah mantra mencari rizki, Zikir seolah jampi-jampi dan tradisi pengkultusan tokoh karena faktor keturunan yang tak kusukai. Manusia tetaplah manusia. Dia mulia karena ketakwaannya. Bagaimana dengan ketakwaanku? Belum. Aku masih belum bisa bertakwa. Bagaimana bisa? Merasakan kehadiran Allah di hati saja susah. Menjadikan-Nya tempat keluh kesah juga susah. Ada tuhan-tuhan lain yang masih kusembah. Rasa-rasanya memang seperti itu.

No comments:

Post a Comment