Kemarin aku dibuat emosi seorang santriwati. Bukan sampai marah, hanya ada rasa hati tak enak ketika dia maju ke depan menuliskan kata-kata tak berkualitas yang menyindirku. Ya, dia mengira aku suka dengan salah satu teman di kelasnya. Padahal tidak. Memang aku mengagumi kecantikannya tapi bukan berarti aku menyukainya. Anak ingusan bertubuh tambun itu seolah menganggapku. Aku biasa saja sebab memang tak terlalu merisaukan tingkah. Mau apa pun dia, silakan. Dulu dia juga pernah memperlakukanku demikian. Tiba-tiba dia masuk kelas saat aku mengajar lalu mengambil paksa sebuah kursi. Aku tak bereaksi karena tak sudi mencampuri urusan demikian. Bahkan beberapa hari setelahnya aku masih merespon pertanyaannya. Tiga hari lalu aku membeli buku Api Sejarah. Harganya cukup mahal, seratus dua puluh lima ribu. Tapi aku tetap beli karena aku mengemban tanggung jawab menjadi pendidik sejarah. Aku juga masih memiliki banyak uang. Jadi tak ada salahnya kalau aku membelinya. Dan setelah kubaca, isi bukunya ternyata lebih mahal dari harganya. Kewajiban jadi pendidik, menjadi pendamping belajar santri banyak menguras waktu sehingga memang harus ada manajemen waktu untuk menyelesaikan semua amanat yang dibebankan padaku. Bahkan kalau perlu jam tidurku harus dikurangi.
No comments:
Post a Comment