Saturday, September 8, 2012

SENIN, 13 AGUSTUS 2012

Sampai sekarang aku belum ingin memiliki motor. Terpikirpun tidak meski bapak beberapa kali menyindirnya. Aku lebih suka bersepeda pancal milik emak. Kemana pun pergi sepeda itu selalu menemani. Ke masjid, ke warnet, ke pasar dan tempat lain. Seandainya dihubungkan dengan kendaraan ramah lingkungan, sepeda lah salah satunya. Meski bentuknya kuno, aku bersyukur tak minder menggunakannya. Orang-orang seusiaku bahkan yang masih SMA pun sekarang sudah membawa motor entah membeli langsung atau kredit. Sekarang, hampir tiap rumah memiliki motor. Di rumahku juga ada. Sepeda motor yang bagiku termasuk barang mewah bisa dimiliki siapa pun meski miskin. Memang banyak manfaatnya tapi aku sempat berpikir barang itu merugikan para sopir angkot. Pernah kutemui sopir angkot di Surabaya yang mengeluh karena setorannya berkurang sebab kendaraan pribadi sudah marak. Lalu bagaimana dengan tukang becak? Mereka pasti lebih menderita. Bagi pemuda, sepeda motor bisa digunakan untuk sekolah dan pasti untuk membonceng kekasihnya. Mudah-mudahan mereka mau mengantar orang tuanya ke pasar. Dan harapan terbesarku, kendaraan itu dapat menjadikan mereka semakin rajin ke masjid. Ramadhan sebentar lagi akan berlalu. Perasaanku biasa saja. Yang kubayangkan adalah masjid yang akan kembali sepi setelah ramadhan pergi. Lampus masjid tak akan bersinar terang setelah Isya. Orang akan semakin malas, tak ada lanutan Quran di malam hari. Masjid akan terasa hampa lagi. Namun kesakralan masjid akan tetap terjaga. Masjid akan menjadi tempat terindah untuk beribadah. Di sela ramadhan, aku mencoba serius dalam mencari pasangan. Bukan untuk pacaran tapi lebih dari itu. Pacaran itu terlalu sederhana. Aku tengah meninggalkan semua gadis-gadis cantik yang sempat kudekati dan hanya mencoba meyakinkan Nurul Azizah agar dia mau menjadi pendamping hidupku nanti. Dia masih kelas tiga aliyah. Targetku adalah beberapa tahun ke depan. Dia akan tumbuh jadi wanita dewasa yang cantik dan sederhana. Akan kudidik dia mulai sekarang agar jadi wanita yang solihah, pejuang dan bisa berkarya. Cinta itu sederhana dan aku tak ingin semuanya jadi susah gara-gara aku terlalu mempersulitnya. Biar kini Nurul masih belum mau. Hanya butuh telaten dalam menghadapi anak seusianya. Mulai sekarang akan kuperkenalkan diriku dan akan kukenal dia lebih jauh. Kuberi dia tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh gadis seusianya untuk masa depan. Aku tahu dia masih ragu. Terkadang sikapnya masih terlalu seperti bocah. Memang wajar dia masih terlalu muda untuk diajak bicara hal-hal yang serius apalagi masalah menikah yang tak main-main. Suatu saat dia akan menerimaku, tepatnya menerima lamaranku. Akan kutunggu sampai dia mau.

No comments:

Post a Comment