Ternyata orang-orang yang rajin ke masjid di desaku usianya sudah tua. Giginya sudah tanggal. Mereka ayah teman-temanku sedang bapakku sendiri tampaknya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan dunia, untuk mencari nafkah untukku dan adik-adikku. Teman-teman yang seusiaku atau yang di bawah maupun di atasku lebih suka disibukkan dengan dunianya sendiri. Aku tak tahu apa pertimbangan mereka, tapi itulah kenyataan. Mereka tak lagi suka bertandang ke masjid seperti waktu kecil dulu. Bahkan kawanku yang dulu gemar adzan pun tak kunjung kulihat menapakkan kaki di serambi masjid. Memang begitulah kenyataannya. Kuharap aku bisa terus istiqamah dan lebih rajin lagi ke masjid. Terkadang ada rasa iba dengan peserta tadarrus. Dari segi bacaan masih banyak yang salah. Matanya pun sudah tak kuasa menatap Quran terlalu lama. Kulihat beberapa dari mereka butuh kacamata untuk membaca. Namun keinginannya untuk ikut membaca quran di masjid barang selembar dua lembar tetap ada. Tiap hari pasti menyempatkan diri. Sementara anaknya, tak tahu dimana. Padahal kemampuan anaknya dalam membaca Quran mungkin lebih baik.
No comments:
Post a Comment