Adikku datang dari Jakarta saat sahur tiba. Aku ingat saat kecil sering bertengkar dengannya, hampir setiap hari. Memang dia dulu nakalnya minta ampun. Saat SMP bapak pernah sakit karena memikirkan tingkahnya. Namun dia kini berubah jadi anak yang berbakti ke orang tua. Bahkan baktinya melebihiku. Sejak masuk SMA, aku sudah tak tahu lagi perkembangannya. Saat itu aku sudah kuliah sedang dia masih kelas tiga SMP dan adikku yang satu lagi kelas 6 SD. Kami memang berbeda, sangat berbeda. Dari segi fisik ia tinggi besar sedang aku kecil. Kecerdasan dan latar belakang pendidikan pun berbeda. Wajar saat dewasa pun antara aku dan dia punya karakter yang jauh berbeda. Sejak kecil di kampung aku memang sudah dikenal pintar, sering juara kelas sedang dia sama sekali tidak. Namun dia punya kelebihan lain dari segi fisik. Ia seperti bapak, tinggi besar. Fisiknyalah yang sejak SMA dirawat dengan mengikuti perguruan silat. Sekarang dia lulus SMA dan aku sudah sarjana. Setelah ini ia ingin melanjutkan pendidikan tentara di Kalimantan. Jujur, aku terkadang merindukannya. Kuharap cita-citanya tergapai tanpa halangan yang berarti. Semoga keluargaku menjadi keluarga bahagia di dunia dan akhirat.
No comments:
Post a Comment