Ternyata setelah kuhitung, jumlah pelajaran terbanyakku ada di kelas X B. Bagaimana aku harus menghindar darinya, dia duduk tepat di kursi guru. Aku tak mau menghubung-hubungkan ini dengan perjodohan. Tak ada hubungannya sama sekali. Ini hanya kebetulan yang mengasyikkan. Tadi malam aku berbincang dengan Haris Muzammil hingga jam satu malam. Dia banyak membicarakan hal-hal yang sudah lama tak kudengar yakni tentang ijazah ini itu dan cerita-cerita tentang benda-benda antik yang dimiliki Kiai. Lalu aku menceritakan tentang bagaimana kehidupan kampus. Tentang dosen yang ingin dipanggil Kiai, tentang penyelewengan dana bantuan sosial pemerintah provinsi yang melibatkan teman-temanku dan lainnya. Aku yakin dia belum pernah mendengar kisah-kisah seperti itu. Kemudian cukup lama menyinggung tentang dunia bisnis. Ternyata sosoknya tak seangker yang kukenal dulu. Memang dia sepertinya menampakkan diri di hadapan santri dan berbeda dengan teman. Besok aku dapat jam mengajar kelas X B lagi. Dan aku akan menjumpai primadona itu. Kenapa harus sering mendapatkan jam di kelas itu, baik sekolah maunpun diniyah. Ini membuatku sering melihat wajahnya, menatap matanya. Sementara itu, aku sudah bicara keseriusanku untuk mengajak Nurul menikah meski belum pasti. Rumit.
No comments:
Post a Comment