Well. Tidak pantas bagi seorang pemuda merasa berada di posisi aman dengan segala kenyamanan. Seperti posisiku saat ini. Dianggap sebagai seorang ustadz yang dihormati banyak santri. Tapi tunggu dulu, apakah hidup seperti ini sudah ideal. Memang aku menjadi praktisi pendidikan, ikut membantu belajar santri di pondok pesantren. Dari dulu sampai sekarang aku menganggap pesantren sebagai lembaga pendidikan ideal di Indonesia. Tapi kita perlu melakukan evaluasi terutama untuk diriku yang punya posisi strategis dalam membantu perkembangan santri. Akan kumulai dengan tradisi yang masih belum bisa kulakukan seperti jamaah dengan jubah karena memang aku belum punya jubah. Dzikir yang ‘berlebihan’ tanpa memberikan rasionalisasi kepada santri alas an untuk berzikir. Akibatnya beberapa santri tak ikut berzikir malah bermain atau tertidur karena lelah. Lalu, coba melihat alumni pondok yang masih seusiaku atau yang beberapa tahun di atasku. Berapa persen yang akhirnya bisa menjadi harapan pondok. Nampaknya perlu melakukan sensus untuk mengetahui ini semua. Untuk teman seangkatanku, saat reuni lebih dominan guyonan dan senang-senang meski diimbangi dengan kegiatan pembacaan manaqib. Terakhir aku melihat video teman-temanku sedang berjoget tanpa kaos. Semua punya hak dan pilihan sendiri bukan? Biarlah. Dari bebrapa catatan singkat di atas perlu ada solusi. Aku teringat perkataan Ramdani saat diskusi dulu bahwa Islam atau ajaran suatu agama akan luntur ketika hanya diajarkan secara doktrinal. Jadi perlu rasionalisasi hal-hal yang memang butuh rasionalisasi.
No comments:
Post a Comment