Setelah seminggu berdialektika bersama mahasiswa aktifis HMI di Surabaya, mulai hari ini aku berusaha beradaptasi dengan lingkungan pesantren salaf. Peraturan, larangan, Kiai, santri, jama'ah, kamar sempit, banyak nyamuk, harus bersarung dan berkopyah, kitab, dan lainnya.
Sudah lama aku tak merasakan dunia seperti ini. Aku sempat ragu bisakah bertahan selama tujuh belas hari disini. Kemerdekaanku terkungkung lagi. Memang inilah konsekweksi. Kuharap dapat menjalaninya.
Tadi aku bertemu temanku. Setelah mondok dia bekerja. Pandangannya sangat sempit sekali. Dia bilang tak ada gunanya kuliah, tak ada gunanya sekolah. Entah apa yang menyebabkannya berpikir sesempit itu.
Aku menemukan fakta sosial yang agak memprihatinkan. Santri lebih suka menerima ilmu dari kiai daripada membaca sendiri. Kulihat tradisi membacanya kurang. Setelah beli kitab langsung dimasukkan lemari.
Nanti aku akan belajar kitab yang tebalnya kurang lebih seratus halaman di depan kiai tanpa ada kesempatan mengkritisi. Kalau hanya memaknai seperti itu, kenapa tidak dibaca sendiri saja. Setelah kubaca beberapa halaman sepertinya bahasa kitabnya juga tak sulit, mudah dipahami.
Monday, August 8, 2011
MINGGU, 31 JULI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment