Saturday, August 13, 2011

RABU, 10 AGUSTUS 2011

Sudah lama aku tak menuliskan hari-hariku. Kemalasan menggelayuti tanganku untuk mengetik huruf demi huruf menjadi kata lalu untaian kalimat indah. Seandainya saja aku tak mendengar cerita tentang temanku, mungkin aku tak akan membuat catatan harian.
Tak sengaja saat aku berada di salah satu bilik kamar pesantren Langitan, temanku menceritakan kisah cintanya. Begini ceritanya. akan kuceritakan dengan tokoh utama aku.
Dalam kesibukan PKL (praktek kerja lapangan) seorang perempuan menelponku. Entah siapa dia, akhirnya kutahu dia salah sambung. Dia asyik diajak ngobrol. Namanya istiqomah orang Solo tapi sedang kuliah di Kediri. Sambil kuliah dia memiliki butik batik milik ayahnya, seorang pengusaha batik sukses di Solo. Hampir tiap hari dia menelponku. Katanya dia nyaman berbicara denganku. Statusku sebagai santri dianggapnya seperti manusia alim dan sholih, pas dijadikan pemimpin hidupnya. Cara berpikirnya sudah dewasa melebihi umurnya. Di usianya yang masih belia dia sudah menginginkan pendamping hidup. Aku dianggapnya sebagai pilihannya yang tepat.
Otomatis aku bingung. Ijazah aliyah saja belum keluar. Lagi pula setelah lulus aku juga harus mengabdi di pesantren selama setahun. Mana mungkin aku bisa menjadi pasangannya. Akhirnya kami memutuskan untuk pacaran dulu.
Anehnya, meski belum pernah bertemu, aku memberanikan diri untuk menerima hatinya. Begitu juga Isti. Kuteruskan besok saja. Sudah jam dua belas malam. Para santri sudah tidur. Hanya kamarku yang berisik. Teman-teman masih guyon.

No comments:

Post a Comment