Wednesday, April 1, 2015

SEKILAS TENTANG PERNIKAHAN MAS ZIYAD

Rabu, 1 April 2015

Teman-teman pasca sedang asyik-asyiknya membahas tentang pernikahan karena Mas Ziyad melangsungkan pernikahan seminggu lalu dengan seorang Ning Atiqoh asal Purwoasri. Dia membicarakan perubahan secara psikologis seoorang yang baru saja menikah. Dari kehati-hatian dalam bertindak dan cara pandang pada perempuan lain.

Yang lebih menarik lagi adalah kisah Pak Ziyad dengan istrinya sebelum menikah sampai akhirnya melangsungkan pesta. Kabarnya mereka berdua sudah mulai dijodohkan sejak tahun 2007 tapi sekalipun mereka tak pernah bertemu. Padahal di zaman seperti ini kesempatan untuk bertemu sangat mudah karena teknologi telah membantu. Bisa saja mereka bertemu di dunia maya lalu janjian di suatu tempat. Hebatnya, mereka tak melakukannya selama delapan tahun. Sedang mereka masih sangat mungkin untuk bertemu.

Hubungan seperti itu tentu sangat asing di tengah banyaknya pelajar justru memanfaatkan alat komunikasi sebagai sarana untuk janjian, bertemu, pacaran dan lebih dari itu sampai berzina. Naudzubillah. Beruntungnya lagi, Pak Ziyad diambil mantu oleh kiainya sendiri, pengasuh pondok Al Hikmah Purwoasri Kediri. O… betapa bahagia.

Sedang Rofiq, putra seorang Kiai yang sejak kemarin ingin mencari pasangan. Dia banyak minta pendapat dari teman yang sudah menikah termasuk pada pak Alifi. Bagaimana denganku? Barangkali aku belum mantap untuk menikah karena ada keinginan lain yang harus kupenuhi. Bergelar doktor dahulu.

Beberapa waktu terakhir ini aku mulai bosan memikirkan perempuan apalagi melakukan pendekatan untuk diajak menikah. Zahra yang beberapa kali kuajak komunikasi pun masih tak bisa memantapkan hatiku walau sesekali aku ingin hidup bersamanya. Barangkali itu hanya perasaan negative yang tengah menguasaiku agar kuliahku tak berlanjut. Aku tak tahu.

Ada aktifitas lain yang lebih penting. Tentunya mencari segala cara agar bisa mendapat uang dengan cara halal, baik menjual buku, menerbitkan buku ataupun menjual alat falak. Doaku yang kusebut ba’da sholat juga tak lupa meminta agar Tuhan memberi cara agar aku bisa membayarnya. Selain doa agar belajarku semakin rajin untuk kuliah. Dan lagi, barangkali sudah di luar kepala, doaku pada Nurul terselip begitu saja tanpa sadar. Sepertinya dia juga begitu. Masih mendoakanku.

Luka yang sudah sempat membuatku remuk setahun lalu sudah menghilang. Aku hidup normal dengan langkah yang tak lagi seperti dulu. Langkah yang berbeda dengan rencana sebelum berpisah dengan Nurul. Kini dia juga merasakan hal yang sama, sembuh dari luka. Dia juga lebih mengerti dan sedikit dewasa.

Rasanya masih ada keinginan untuk kembali bersama dengan menjajaki perasaan masing-masing untuk sekedar mengkonfirmasi bahwa tak ada salahnya untuk memulai lagi dengan yang baru. Kita tak lagi ingin mengulang rasa sakit lagi. Olehnya, tak perlu lagi menjadi sepasang kekasih yang suatu ketika mungkin akan dirusak lagi oleh sesuatu yang dinamakan restu

Alangkah lebih baik aku tak dulu memikirkan siapa pun. Cukup bercumbu dengan buku, tulisan dan data-data yang harus diselesaikan di sekolah dan di Inkafa. Itu saja cukup menguras tenaga dan pikiran. Kalau ditambah mikir calon istri yang belum jelas malah bisa jadi membuatku tambah pikiran.

Lebih baik lagi kalau aku mengkhatamkan buku Al Milal wa An Nihal karya Syahrastani yang tebal ini. Tentang sejarah pemikiran, aliran kepercayaan dan filsafat di dunia.


No comments:

Post a Comment