Friday, April 3, 2015

BELAJAR DARI SINGAPURA

Jumat, 3 April 2015


Revolusi mental adalah omong kosong. Takkan ada perubahan masyarakat Indonesia tanpa pemimpin otoriter yang berani menghukum berat pelanggar kedisiplinan. Keterlambatan harus disanksi dengan penjara. Kalau perlu orang yang membuang sampah tidak pada tempatnya harus dibui dan didenda.

Patutlah mencontoh Singapura yang melakukan revolusi mental sejak jauh hari. Adalah jasa Lee Kuan Yiew yang berhasil mengubah kelembekan warga Singapura menjadi manusiai bermental tinggi setara dengan negara maju di dunia. Apalah penyebabnya kalau bukan tangan besinya. Hukum ditegakkan mulai dari hal-hal kecil. Mulai dari meludah sembarangan yang dimasukkan dalam kategori pelanggaran pidana. Begitu pula pembuangan sampah, keterlambatan dan kebiasaan malas-malasan warga Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia.

Kalau tidak demikian, tak perlu mengkampanyekan revolusi mental sebab itu hanya akan membuat orang yang terbiasa hidup disiplin dengan etos kerja tinggi malah menjadi sakit hati melihat masih banyak orang di samping kanan kirinya masih hidup dalam kemalasan. Melihat orang-orang yang tak bertanggung jawab atas kehidupan dirinya adalah siksaan tersendiri bagi orang yang sudah bermental tinggi.

Barangkali benar adanya, jangan hidup Indonesia jika memiliki mental disiplin, bertanggung jawab dan memiliki etos kerja tinggi. Orang seperti itu cocoknya hidup di negara maju seperti di Eropa atau malah di Singapura.



No comments:

Post a Comment