Senin, 27 April 2015
Ada ibu-ibu yang rutin mengadakan yasinan dan tahlilan. Ada juga ibu-ibu yang
membawa bendera tahlil dan berdemo dipinggir jalan. Semuanya sama,
mengatasnamakan Tuhan. Yang satu terbawa khusyu mengingat Allah, yang satu
berwajah garang meneriakkan asma Allah. Ada yang bilang beribadah kepada Tuhan
adalah dengan banyak berzikir kepada-Nya. Sementara yang lain bilang beribadah
adalah dengan membantu Tuhan untuk merebut Indonesia.
Sedang aku sempat menanggapinya dengan tersenyum jenaka melihat
kelompok yang suka berteriak di jalanan itu. Melihat ibu-ibu menggendong
anaknya sambil berteriak menjawab apa yang disampaikan oleh orator di depan dengan bertakbir. Betapa
kurang ajarnya aku melihat fenomena itu sebagai bahan lelucon alam semesta.
Mau bagaimana lagi. Wong mereka memang begitu adanya. Sedang selama aku
belajar Islam tidak pernah ada kitab yang memerintahkan demikian baik dalam
kitab tafsir, fikih, hadis apalagi tasawuf. Namun boleh jadi karena aku belum
membacanya dan mereka sudah menemukan bab itu. Tentang demo membela Tuhan di
jalan dengan bendera tahlil beserta dalil-dalil yang perlu disampaikan dalam
orasi.
Sama-sama mengatasnamakan Islam, saya lebih suka usaha yang dilakukan Raja
Abdullah II dalam orasi di hadapan pemimpin Eropa. Dia dengan elegan
menyampaikan bahwa Islam suka damai, nabi mengajarkan bahkan memerintakan
menghormati tetangga. Tentu saja tidak ada beda antara musllim maupun tidak. Asal
manusia dan tidak merongrong keimanan, tetangga harus dihormati. Kalau punya
makanan dibagi. Kalau bertemu, didoakan dengan mengucap salam. Bukan dengan
melukai orang lain baik secara lisan maupun perbuatan. Itu yang dicontohkan
nabi. Dengan begitu mata orang Eropa bisa terbuka. Selama ini sentimen negatif
muncul salah satu penyebab utamanya karena perilaku umat Islam yang aneh-aneh. Khususnya
ekstremis. Memberi contoh kekerasan, anti demokrasi tapi menggunakan cara
demonstrasi.
Tentu saja, kekerasan yang selalu dilekatkan pada orang Islam ada
penyebabnya. Termasuk kelompok yang suka demo dipinggir jalan tersebut. Bukan malah
mencontohkan yang baik malah memberi sumbangsih pada image negatif Islam.
Sementara itu, elit muslim sendiri masih sibuk dengan sesuatu yang berada
di langit. Boleh jadi termasuk aku yang dipaksa oleh kurikulum perguruan tinggi
untuk mempelajari hal-hal yang tak jelas tujuannya seperti hermeneutika yang
masih kontroversi tapi sudah dipelajari.
Baru saja melihat video konflik di Syiria yang memperlihatkan pembantaian
manusia dan pemerkosaan perempuan-perempuan di sana. Walhasil, saya menjadi
bingung. Apa sebenarnya yang terjadi di sana. Sesama kelompok saling menuduh
dan mengklaim. Yang bertanggung jawab atas kebrutalan itu semua siapa
sebenarnya. Yang memulai konflik siapa dan bagaimana kondisi saat ini. Yang jelas,
banyak mayat terbunuh sia-sia oleh senjata. Darah ada dimana-mana.
Lalu dalam video tersebut menyebut pemimpin timur tengah hanya bicara omong kosong tanpa ada upaya damai. Malah melibatkan orang-orang Eropa dan Amerika untuk ikut campur urusan mereka. Apa benar demikian atau bagaimana sebenarnya yang terjadi. Semuanya membuat video untuk mendukung kelompok masing-masing agar mendapat dukungan dari dunia.
Konfliknya terjadi atas nama agama yang dipahami secara berbeda oleh sesama
orang Islam. Semoga di Indonesia tak terjadi seperti itu walaupun rasa-rasanya
kelompok yang suka kekerasan mulai tumbuh subur. Aku tak ingin kelak keluarga,
teman-teman dan saudara se tanah air jadi korban kebrutalan manusia atas nama
agama.

No comments:
Post a Comment