11 April 2015
Orang boleh belajar dari socmed dan situs-situs di internet
asalkan secara pemahaman epistemologi, orang tersebut sudah mapan sehingga bisa
memilah sumber ilmu yang bisa dijadikan referensi. Lebih-lebih dalam soal agama
yang takkan cukup dipahami hanya melalui sosial media.
Orang yang sedang mengalami semangat beragama tinggi
seharusnya belajar langsung dari kitab atau kiai dengan mengetahui latar
belakang pemikiran orang yang bersangkutan. Tanpa mengetahui, biasanya sosok
tersebut akan dinabikan dan menjadikan apapun yang diucapkan sebagai sebuah
kebenaran tanpa tahu tendensinya.
Seseorang perlu kritis dalam beragama terlebih kritis
terhadap orang yang mengaku atau dianggap pandai dalam beragama. Banyak ustadz
buatan media tanpa ilmu mumpuni tampil di ruang publik sehingga membuat ummat justru mempraktikkan Islam secara serampangan. Islam hanya akan dianggap
sebagai ajaran agama yang melulu soal ritual, cara berpakaian, dan kening
hitam. Cara membuang sampah pada tempatnya, menguasai matematika dan biologi
hanya dianggap ilmu umum yang tak ada sangkut pautnya dengan agama.
Pemikiran yang menganggap Islam hanya seperangkat agama yang
mengajarkan fikih saja secara tidak langsung hanya akan menyempitkan Islam
sendiri sambil dibarengi dengan pola pikir picik bahwa orang yang berbeda
dengannya adalah salah dan keliru.
No comments:
Post a Comment