Wednesday, April 22, 2015

PEREMPUAN RUMAHAN

Kamis, 23 April 2015
 
Tahun 2008, aku bersama almarhum Havi pergi ke warnet di Dukun Gresik. Waktu itu aku masih kelas tiga Aliyah dan hampir lulus. Tanpa sengaja, kutemui salah seorang pelajar SMA yang usianya sama denganku. Aku lupa apa yang ada dalam pikiranku. Hanya memang waktu itu aku ingin mengenalnya. Di dalam tas, ada majalah pondok. Aku menjadi salah satu redaksinya. Tentu itu menjadi nilai tawar sendiri buatku jika aku memberinya.

Kami berkenalan sambil kuberi dia satu majalah dan kutunjukkan namaku ada di dalamnya. Waktu itu masih belum ada hp apalagi bbm dan android seperti sekarang. Anak sekolah masih jarang yang memiliki ponsel. Jadi perkenalan itu tak ada tindak lanjutnya.

Lima tahun kemudian, dia muncul saat aku sudah lupa. Dia menyapaku dari facebook. Tentu aku sudah lupa namanya. Hanya samar-samar aku mengingat peristiwa perkenalan singkat di warnet setelah dia menceritakannya. Lalu komunikasi berlanjut lewat sms sampai hari ini.

Beberapa kali aku berjanji padanya untuk datang ke rumahnya. Dan baru bisa mewujudkannya dua hari lalu. Aku mendatangi rumahnya setelah melalui jalan yang keliru sehingg perjalanan yang seharusnya bisa kutempuh sejam harus menghabiskan waktu hampir dua jam.

Hari itu adalah pertemuan yang kedua. Kami ngobrol saja sambil melihat apakah ada perubahan fisik setelah tak bertemu selama tujuh tahun lamanya. Kulihat dia masih sama, terlihat lebih mudah dari pada usianya. Sedang aku sebaliknya, terlihat jauh lebih tua dari usiaku. Aku memang sengaja berpenampilan begini. Walaupun harus ada beban moral sebagai orang yang dianggap tua. Biar aku menuakan diri sebelum usia itu tiba.

Oh iya. Namanya Ella, hitam manis dan berhidung mancung. Sempat aku berpikir apa dia yang bakal jadi istriku kelak? Wallahu a’lam. Hanya kalau memang iya, tak masalah. Dia keluarga sederhana, gadfis rumahan dan tak macam-macam. Sepertinya dia dididik menjadi perempuan yang taat pada keluarga. Jadi, menurutku, kalaupun kelak dia akan menjadi seorang istri, dia akan sama seperti ibunya, setia pada keluarga.

Soal pendidikan, aku tahu dia hanya lulus SMA. Tapi apa itu penting dalam sebuah keluarga? Bukankah lebih baik jika seorang ibu adalah perempuan yang lebih banyak waktunya di rumah? Bukan perempuan karir yang banyak menghabiskan waktu di tempat kerja sambil meninggalkan anaknya.

Tentu beberapa lelaki, bukan hanya aku punya pikiran yang sama dalam ide bagaimana peran istri dalam keluarga. Walaupun sekarang banyak juga perempuan yang memilih jadi buruh baik di pabrik maupun kantor. Saya menyebutnya buruh sebab hakikatnya sama. Istilah karyawan atau pegawa kantor hanya sebatas kata penghalus. Dalam prakteknya sama, menjadi seorang pekerja.

Mau berpikir ideal seperti apapun, seorang perempuan akan kembali berada di rumah, mengasuh anak dan berusaha membahagiakan suami. Seperi Kartini, yang pada akhirnya dipoligami setelah nalar kritisnya menggugat feodalisme keluarga Jawa. Soal poligami, nanti saja lah. Aku masih belum setuju.

Perempuan bekerja memang tak salah asal tugas di rumah tidak lupa. Orang bekerja karena ingin mendapat uang. Uang didapat agar bisa membeli banyak hal untuk dibelanjakan. Dan ujung dari segalanya adalah kebahagiaan. Jika demikian, maka sebenarnya markas kebahagiaan itu tidak di hotel, mall atau tempat wisata. Kebahagiaan itu ada di rumah. Saat suami, istri dan anak bercengkerama bersama, menertawakan sesuatu yang dianggap lucu dalam keluarga. Itulah bahagia yang hakiki bukan kebahagiaan yang sudah dipermainkan oleh kemewahan.

Tantangannya, suami harus bekerja maksimal untuk mencukupi kehidupan keluarga. Seperti bapakku yang baru pulang selepas maghrib. Emak selalu di rumah, mempersiapkan sesuatu untuk keluarga. Pekerjaan sampingan ada menjadi penjual nasi di rumah Budhe.

Dan nanti aku harus seperti apa? Harus seperti bapak. Bekerja keras dan membiarkan istri di rumah mengajari anak-anakku baca dan tulis alquran serta membacakan buku-buku yang sudah lama kukumpulkan.



No comments:

Post a Comment