Kamis, 23 April 2015
Tahun 2008, aku
bersama almarhum Havi pergi ke warnet di Dukun Gresik. Waktu itu aku masih
kelas tiga Aliyah dan hampir lulus. Tanpa sengaja, kutemui salah seorang
pelajar SMA yang usianya sama denganku. Aku lupa apa yang ada dalam pikiranku. Hanya
memang waktu itu aku ingin mengenalnya. Di dalam tas, ada majalah pondok. Aku menjadi
salah satu redaksinya. Tentu itu menjadi nilai tawar sendiri buatku jika aku
memberinya.
Kami berkenalan
sambil kuberi dia satu majalah dan kutunjukkan namaku ada di dalamnya. Waktu itu
masih belum ada hp apalagi bbm dan android seperti sekarang. Anak sekolah masih
jarang yang memiliki ponsel. Jadi perkenalan itu tak ada tindak lanjutnya.
Lima tahun
kemudian, dia muncul saat aku sudah lupa. Dia menyapaku dari facebook. Tentu aku
sudah lupa namanya. Hanya samar-samar aku mengingat peristiwa perkenalan
singkat di warnet setelah dia menceritakannya. Lalu komunikasi berlanjut lewat
sms sampai hari ini.
Beberapa kali aku
berjanji padanya untuk datang ke rumahnya. Dan baru bisa mewujudkannya dua hari
lalu. Aku mendatangi rumahnya setelah melalui jalan yang keliru sehingg
perjalanan yang seharusnya bisa kutempuh sejam harus menghabiskan waktu hampir
dua jam.
Hari itu adalah
pertemuan yang kedua. Kami ngobrol saja sambil melihat apakah ada perubahan
fisik setelah tak bertemu selama tujuh tahun lamanya. Kulihat dia masih sama,
terlihat lebih mudah dari pada usianya. Sedang aku sebaliknya, terlihat jauh
lebih tua dari usiaku. Aku memang sengaja berpenampilan begini. Walaupun harus
ada beban moral sebagai orang yang dianggap tua. Biar aku menuakan diri sebelum
usia itu tiba.
Oh iya. Namanya Ella,
hitam manis dan berhidung mancung. Sempat aku berpikir apa dia yang bakal jadi
istriku kelak? Wallahu a’lam. Hanya kalau memang iya, tak masalah. Dia keluarga
sederhana, gadfis rumahan dan tak macam-macam. Sepertinya dia dididik menjadi
perempuan yang taat pada keluarga. Jadi, menurutku, kalaupun kelak dia akan
menjadi seorang istri, dia akan sama seperti ibunya, setia pada keluarga.
Soal pendidikan,
aku tahu dia hanya lulus SMA. Tapi apa itu penting dalam sebuah keluarga? Bukankah
lebih baik jika seorang ibu adalah perempuan yang lebih banyak waktunya di
rumah? Bukan perempuan karir yang banyak menghabiskan waktu di tempat kerja
sambil meninggalkan anaknya.
Tentu beberapa
lelaki, bukan hanya aku punya pikiran yang sama dalam ide bagaimana peran istri
dalam keluarga. Walaupun sekarang banyak juga perempuan yang memilih jadi buruh
baik di pabrik maupun kantor. Saya menyebutnya buruh sebab hakikatnya sama. Istilah
karyawan atau pegawa kantor hanya sebatas kata penghalus. Dalam prakteknya
sama, menjadi seorang pekerja.
Mau berpikir
ideal seperti apapun, seorang perempuan akan kembali berada di rumah, mengasuh
anak dan berusaha membahagiakan suami. Seperi Kartini, yang pada akhirnya
dipoligami setelah nalar kritisnya menggugat feodalisme keluarga Jawa. Soal
poligami, nanti saja lah. Aku masih belum setuju.
Perempuan bekerja
memang tak salah asal tugas di rumah tidak lupa. Orang bekerja karena ingin
mendapat uang. Uang didapat agar bisa membeli banyak hal untuk dibelanjakan. Dan
ujung dari segalanya adalah kebahagiaan. Jika demikian, maka sebenarnya markas
kebahagiaan itu tidak di hotel, mall atau tempat wisata. Kebahagiaan itu ada di
rumah. Saat suami, istri dan anak bercengkerama bersama, menertawakan sesuatu
yang dianggap lucu dalam keluarga. Itulah bahagia yang hakiki bukan kebahagiaan
yang sudah dipermainkan oleh kemewahan.
Tantangannya,
suami harus bekerja maksimal untuk mencukupi kehidupan keluarga. Seperti bapakku
yang baru pulang selepas maghrib. Emak selalu di rumah, mempersiapkan sesuatu
untuk keluarga. Pekerjaan sampingan ada menjadi penjual nasi di rumah Budhe.
Dan nanti aku
harus seperti apa? Harus seperti bapak. Bekerja keras dan membiarkan istri di
rumah mengajari anak-anakku baca dan tulis alquran serta membacakan buku-buku
yang sudah lama kukumpulkan.
No comments:
Post a Comment