Oleh: Rizal Mubit
Belasan kemarau menyertai Ihsan menunggu Rani beranjak dewasa,
berharap agar gadis itu percaya bahwa dirinyalah yang mengajari setia. Kisah
ini barangkali sekedar drama sederhana tentang Ihsan, seorang mahasiswa
Pascasarjana di salah satu universitas tidak ternama di pulau Jawa.
Usianya berkata bahwa sudah selayaknya dia menikah walau bibir
dan aktifitasnya tak menyiratkan keinginannya. Bukan karena dia tak laku atau
terlalu memilih pasangan. Yang menjadikannya sendiri adalah bahwa baginya setia
adalah fana sama dengan perasaan-perasaan lainnya seperti rindu, dendam dan
gembira yang bisa datang dan pergi tanpa dinyana.
Pada sebuah Senin jam kerja, ia menjumpai Rani dalam dunia maya.
Ihsan bukan orang yang banyak bicara sehingga tak banyak teman dipunyainya.
Dalam dunia maya maupun nyata, hanya segelintir orang yang mau diajaknya
bicara.
Rani adalah satu diantara sedikit perempuan yang dikenalnya baik
di dunia maya maupun nyata. Dia anak guru les bahasa Inggris Ihsan waktu SMA.
Jarak usia mereka jauh. Ihsan lahir tujuh tahun sebelum Rani hadir di dunia.
Ihsan memulai percakapan dengan bahasa yang biasa-biasa saja,
menanyai kabir dan kesibukan.
“Kok aktif di fb? Apa ndak sekolah?”
“Lagi sakit, Mas.”
“Oh. Semoga lekas sembuh.”
Percakapan tak dilanjut. Ada pakewuh untuk melanjutkan
percakapan. Bukan karena hal-hal rumit yang membuatnya tak lagi berkutik. Ihsan
merasa malu untuk mendekati gadis SMA. Ada rasa sungkan kalau-kalau apa yang
dilakukannya dianggap modus.
Selama lebih dari satu jam, Ihsan mengamati foto-foto yang ada
dalam album facebook Rani. Dalam berbagai pose dan gaya berjilbab yang
aneh-aneh, Rani terlihat mempesona. Pesona gadis remaja yang beranjak dewasa
dengan wajah yang dibuat-buat. Bibir yang ditipis-tipiskan, mata yang
dipicing-picingkan dan mode yang sedang tren remaja masa kini.
Di sela asyiknya menikmati keindahan karya Tuhan berupa
perempuan, Ihsan dikagetkan oleh sapaan Rani di laya maya.
“Sedang apa, Mas? Ndak kuliah?”
Dengan tangan terampilnya, Ihsan menjawab tanya itu.
“Aku ndak ada kuliah. Kuliahku hanya hari Rabu dan Kamis. Ini
lagi nulis-nulis saja.”
“Oh. Kok enak kuliah Cuma dua hari.”
“Kuliah S2 ya begitu. Cuma dua hari tapi full.”
Rani tak nampak hidup lagi di dunia maya. Ihsan melanjutkan
melihat foto-foto Rani sampi tertidur.
***
Rani hanya terbaring di kasur karena sakit yang sedang
dideritanya. Sudah lebih dari seminggu dia begitu sehingga kebosanan menjadi
satu hal yang mengerikan. Setiap hari hanya makan bubur dan minum obat yang
lebih dari lima biji.
Ia butuh teman bercerita lebih-lebih teman yang bisa diajaknya
becanda, menghibur diri yang tak dapat pergi kemana-mana.
Berkomunikasi di dunia maya sudah membosankan karena hanya like,
komentar dan mengobrol tak ada juntrung. Kebanyakan yang mengajaknya mengobrol
adalah lelaki yang ingin dekat dengannya.
Rani juga bukan orang yang suka membaca walau sebenarnya ia
ingin suatu ketika ia bisa seperti temannya yang rakus membaca.
Gelap malam menyelimuti langit. Rani masih belum bisa tidur.
Suhu tubuhnya panas, sama seperti beberapa hari kemarin.
Kling....
Terdengar suara dari laptopnya. Ihsan kembali menyapa dari dunia
maya.
“Belum tidur?”
“Belum tidur?”
“Aku susah tidur, Mas. Terbiasa tidur di atas jam dua belas sejak
setahun lalu. Apalagi kalau sakit begini.”
“Oh.”
Perbincangan dilanjutkan dengan video call skype. Mereka mulai
saling tahu, mulai keluarga, cita-cita dan aktifitas sehari-hari.
Ihsan tahu bahwa tak ada yang special dari Rani. Ia sama dengan
anak SMA lainnya. Menyukai drama Korea dari pada membaca. Memilih jalan-jalan
di pusat perbelanjaan dari pada ke museum atau perpustakaan.
***
Dua minggu berikutnya, Ihsan menjumpai Rani di perpustakaan
kota. Awalnya Ihsan ragu kalau gadis yang berdiri di rak buku Kimia itu adalah
Rani. Ihsan tahu Rani tak suka membaca. Jadi agak janggal jika Rani berada di
sana.
Ihsan menemukan buku yang dicarinya. History of Astronomy. Dia
duduk di kursi yang telah teredia. Sampai sepuluh enit kemudian, sms masuk dari
nomor baru.
“Lagi di perpustakaan Bung Karno, Mas?”
“Iya. Siapa ini?”
“Aku, Mas. Rani. Tadi saya juga di situ. Mau nyapa ragu. Kukira
bukan sampean, Mas.”
“Sekarang dimana? Sudah pulang?”
“Belum. Ini saya masih di Kebonrojo.”
Ihsan berinisiatif menyusul Rani. Ia menuju tempat peminjaman
dan meluncur menuju Kebonrojo kota Blitar.
Di taman, Ihsan mencari gadis tinggi berbaju biru muda. Dia
mendapatinya berada di kursi beton sendiri tak jauh dari tempat parkir. Rani
sedang menunduk tangan kanannya memegangi pena dan digerak-gerakkan menyentuh
hidungnya. Mempesona.
“Sendirian, Ran?”
“Loh. Kok menyusul ke sini?”
“Perpusnya mau tutup. Mau pulang masih malas. Mending ke sini
saja. Tumben baca buku?”
Rani tersenyum seraya menutup bukunya, memasukkan ke dalam tas.
Ulahnya mencipta sebuah ekspresi manja anak SMA yang tengah malu berada di
hadapan seorang yang akrab dengan buku. Ihsan pun tak mau banyak bicara tentang
buku. Sore itu biarlah jadi pertemuan ringan yang menyenangkan tanpa membahas
hal-hal rumit.
Mereka duduk agak berjauhan. Tak ada yang tahu kalau usia mereka
terpaut tujuh tahun. Postur rani tinggi dan wajahnya lebih tua dari usia.
Barangkali orang mengira kalau mereka adalah pasangan baru suami istri yang
tengah berbulan madu.
Mereka pulang ke arah yang berbeda setelah membicarakan hal-hal
remeh dan tak penting. Walau demikian, perjumpaan itu meninggalkan angan-angan
di hati Ihsan. Harapan bila suatu ketika Ihsan bisa jadi teman hidup Rani, anak
mbarep guru les bahasa Inggrisnya waktu SMA dulu.
Walaupun jarak usia jauh. Ihsan rela menunggu. Begitu batinnya.
Jika hari ini Rani masih kelas tiga SMA maka enam tahun yang akan datang, Ihsan
sudah doktor dan Rani sudah jadi sarjana. Adalah suatu yang ideal jika pada
akhirnya mereka menikah.
Ihsan memberanikan diri untuk menemui Rani sepulang sekolah,
mengajaknya makan siang di salah satu warung bakso Alun-alun kota Blitar. Rani
mengiyakan ajakan Ihsan. Setelah makan bakso, Ihsan mengantar Rani pulang.
Sebelum Rani masuk rumah, Ihsan mengatakan maksudnya, tentang
rencananya agar Rani kelak mau menjadi istrinya.
“Maaf, Mas. Maaf sekali. Aku tak bisa menerima tawaranmu. Bukan
karena apa-apa, Mas. Aku tak yakin dengan sela waktu yang lama ini bisa merawat
perasaan. Aku juga tak melihat sisi menarik darimu, Mas. Aku takut
mengecewakanmu.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi untuk saat ini aku akan tetap
begini, memelihara perasaan ini sampai suatu waktu nanti kau berubah pikiran.”
“Aku tak memintamu menunggu. Aku tak mau sampean menganggapku
PHP, Mas.”
****
Ihsan sudah melupakan perjumpaan dengan Rani. Kesannya memang
dia putus asa. Tapi tidak demikian. Aktifitas harian di organisasi mahasiswa
dan lembaga pendidikan yang didirikannya menyita waktu dan pikiran.
Sebentar lagi tesisnya mulai digarap. Ia ingin penelitiannya ditulis
dengan bahasa Inggris agar kelak bisa menjadikannya modal untuk melanjutkan S3
di luar negeri. Rani tak lagi dia hubungi, begitu pula sebaliknya.
Mereka disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Tak ada yang tahu
bahwa keduanya pernah bertemu, membicarakan tentang masa depan. Ihsan masih
memelihara harapan sambil berdoa agar kelak Rani berubah pikiran.
Ihsan lulus dengan predikat cumlaude. Tak lama kemudian,
cita-citanya terkabul. Ia mendapatkan beasiswa di Spanyol. Ia memilih negara Andalusia
karena penelitian yang diajukannya adalah tentang sejarah mufassir pada masa
kejayaan Islam di Eropa.
Lima bulan berada di Spanyol, ia mendapatkan pekerjaan menjadi
seorang host sebuah acara televisi nasional yang sedang mengkaji sejarah Islam
di Spanyol. Orang tua dan teman-temannya di Indonesia kini bisa melihat Ihsan
melalui tv. Tak perlu lagi menghubungi Ihsan melalui telpon atau dunia maya.
Rani sudah jadi mahasiswi ilmu komunikasi di salah satu universitas
swasta di Malang. Ia melihat Ihsan di tv yang rasa-rasanya menjadi semakin
menawan. Ada sesal yang tersirat sebab dulu pernah menolak halus ajakan Ihsan.
Rani tak lagi bisa menghubungi Ihsan. Semenjak dia menolak
ajakannya dulu, Ihsan menonaktifkan semua akun di dunia maya untuk fokus kuliah
dan melupakan sejenak perihal pernikahan.
***
Ihsan menyelesaikan program doktoralnya. Ia menggondol gelar Ph.D
dalam bidang Islamic History. Kabar gembira ini dia beritahukan kepada
orang tuanya. Pada akhirnya dia mengaktifkan facebook, twitter dan akun social
media lainnya agar bisa berkomunikasi dengan keluarganya baik melalui tulisan
maupun video call. Teknologi telah memudahkan komunikasi. Ihsan yang ada di
Granada bisa berbicara dengan orang tuanya yang ada di desa Pojok Garum Blitar.
“Mak. . . . Bapak. . . . Kulo lulus, Mak. Alhamdulillah. Bulan
depan insya Allah kulo wangsul.”
“Alhamdulillah. Lha sido nikah kapan, Le? Opo wes nemu calon?”
“Kalau bisa, nanti setelah pulang harus sudah ada gandengan. Biar
waktu tasyakuran kelulusan sekalian dengan tunangan.”
Ihsan hanya tersenyum sambil menggeleng. Ia merasa terbebani dengan
harapan kedua orang tuanya. Sedang selama ini dia menutup hati sementara waktu
demi studinya di luar negeri.
Ia berinisiatif untuk menghubungi Rani dengan facebook. Ya, dia
masih merawat perasaannya. Tapi ia ragu, sungkan kalau Rani sudah punya kekasih
atau malah sudah menikah. Dia mengurungkan niatnya.
Dalam kebahagiaan yang tak sempurna, Ihsan mencari tahu tentang
Rani di dunia maya. Seperti dulu, dia melihat-lihat foto-foto Rani yang saat
ini semakin menawan. Terlihat matang untuk perempuan seusianya.
Yang membuat Ihsan bersyukur, tak ada satu pun foto lelaki
bersamanya kecuali bapaknya. Kalaupun ada, foto itu adalah foto bersama. Hanya
saja cuitan dengan tagar ‘#kalamrinduindonesiaandalusia’ di akun twitternya
membuat Ihsan luruh, runtuh seketika. Ada bermacam kode rindu yang sebenarnya
disampaikan padanya.
Yang kehilangan rindu ialah yang kerap bertemu. Yang kehilangan
cinta adalah yang tak mampu setia. #kalamrinduindonesiaandalusia
Rindu ini adalah musafir tanpa cinta, yang berkenalan di negeri
Andalusia. #kalamrinduindonesiaandalusia
Semenjak rindu mewujud doa. Aku tak tahu berapa lama kualirkan air
mata. #kalamrinduindonesiaandalusia
Bila cintamu adalah aksara yang berantakan. Biarkan rindu yang
datang merapikan. #kalamrinduindonesiaandalusia
Dan masih banyak lagi untaian kata yang ditujukan pada Ihsan. Dia
membalas salah satu cuitan twitter Rani.
Rindu ada di segala penjuru. Ia kan datang tanpa mengetuk pintu.
Dia bisa datang kapan saja, bersiaplah menjemputnya.
#kalamrinduindonesiaandalusia
Malam telah tiba. Ihsan menyalakan obrolan dalam facebook, menunggu
Rani hidup dalam dunia maya. Jam sebelas lebih beberapa menit waktu Indonesia,
Rani muncul. Ihsan tak menunggu waktu lama untuk memutuskan memanggilnya dengan
video call.
Rani seperti anak kecil lama kehilangan ibunya. Seandainya waktu
itu perjumpaannya bukan di dunia maya, adegan yang tepat menggambarkan
pertemuan itu adalah peluk rindu sepasang kekasih yang lama tak bertemu.
Mereka saling pandang, saling tersenyum bahagia, tertawa. Rani
menutupi wajahnya malu-malu mau. Ihsan membuka percakapan.
“Kalam Rindu Indonesia Andalusia sudah kubaca, Ran.”
Rani malah menutup wajahnya dengan bantal.
“Ah. Aku malu, Mas.” ucap Rani.
Mereka melanjutkan percakapan dan langsung membicarakan pertunangan.
Rani masih perlu berbicara dengan orang tuanya. Dan jawabannya sudah bisa
ditebak. Orang tua Rani setuju. Orang tua Ihsan pun mengiyakan rencana
tersebut.
Akhirnya rencana itu akan segera terwujud. Kebahagiaan yang pada
akhirnya akan menjadi sempurna. Sebelum pulang, Ihsan ke Amsterdam karena
pesawat yang terdekat akan terbang adalah pesawat yang ada di Belanda.
Semua keluarga berbahagia menunggu kedatangan Ihsan. Tapi. . . .
Sebuah berita menggegerkan dunia. Malaysia Airlines dari Amsterdam
tujuan Kuala Lumpur ditembak jatuh di Ukraina. Pesawat dengan nomor penerbangan
MH17 dalam perjalanan dari Belanda ke Kuala Lumpur melewati daerah konflik
Ukraina. Pesawat itu jatuh pada Kamis sore waktu setempat. Tak ada yang selamat
dalam kecelakaan tersebut. Sebelas warga negara Indonesia jadi korban. Satu
diantaranya adalah Ihsan.
Kebahagiaan berubah duka. Bapak, Emak dan keluarga di Indonesia
mendengar info itu dari berita tv. Mereka merintih, menangis dengan suara yang
mengiris. Rani yang mendengar berita itu langsung pingsan. Pesta tasyakur dan
rencana tunangan batal. Semua gagal.
“Anakku. . . Anakku Ihsan. . . Muleh, Naaaak. Pulaang. . . Emak
kangen. . . .” Emak menangis dalam
keadaan terbaring lemah. Bapak Ihsan agak tegar. Keempat adik Ihsan menangis
sambil berpelukan.
Bagaimana dengan Rani? Rani tersungkur. Jatuh pingsan di kamar kos.
Teman-temannya membawa ke rumah sakit. Setelah tersadar, ia sudah berada di
rumah Kanigoro Blitar. Rani menangis lagi lalu pingsan. Dalam kondisi tak
sadar, dia menangis lirih memanggil-manggil nama Ihsan. Isakannya membuat orang
yang melihatnya ikut tenggelam dalam kegetiran.
Sumber, 25 Januari 2015
No comments:
Post a Comment