16 Januari 2015
Sejak beberapa hari, aku suka
mendengar lagu-lagu Glenn Fredly. Tentu lagu-lagu mellow-nya yang kusuka. Tidak
banyak yang kutahu tentang dia selain karya-karya dan agamanya. Suatu hal yang
aneh memang jika yang terbentuk dalam pikiranku ketika mengenal orang, agama
menjadi salah satu bagian penting yang perlu kuketahui. Padahal aku sudah
belajar banyak bahwa agama biar jadi urusan masing-masing.
Yang menyebabkanku seperti ini
kemungkinan karena sejak kecil aku diajari untuk membeda-bedakan orang. Mana NU
mana Muhammadiyah, mana LDII. Mana kristen mana Islam. Walaupun dalam pergaulan
kecilku di sekolah dasar, tak ada permusuhan yang dilandasi perbedaan kelompok
Islam, masih saja aku terpengaruh oleh lingkunganku untuk mencari
perbedaan-perbedaan yang ada di antara temanku. Mulai dari cara berpakaian,
cara berdo, cara adzan dan hal-hal kecil lain.
Sampai sekarang aku masih terbawa. Membedakan orang dari golongannya. Sebenarnya yang membuat perbedaan itu adalah aku sendiri yang sudah memetakan orang dari segi agama. Perbedaan itu pada hari ini tak bermasalah lagi.
Perbedaan adalah abadi, sampai kapan pun ada perbedaan yang tak mungkin bisa disamakan. Yang menjadi permasalahan adalah jika perbedaan tersebut menjadi sebab sebuah pertikaian bahkan sampai pada peperangan.
Selesai menonton film PK, sebenarnya aku tak terlalu kaget. Aku sudah lama setuju dengan pluralisme dan tak pernah mempersoalkan siapa yang bakal masuk surga dan neraka. Apakah Islam atau non muslim. Semuanya hak Allah.
Yang berpikir seperti ini tentu sedikit. Kebanyakan adalah orang yang merasa diri dan agamanya lebih benar dari yang lain. Yang berhak memasuki surga.
Saat ada manusia saling membunuh, menzalimi orang lain? Mengapa Tuhan diam saja? Bagi orang fatalis, jawabannya adalah. “Kau harus bersabar. Semua ada hikmahnya.”
Jawaban yang sudah lumrah terjadi di sini. Aku tak puas dengan jawaban begitu sekalipun suatu ketika aku bakal mengatakan hal yang sama. Sebab berpikir adalah aktifitas melelahkan. Lebih baik jika terkena musibah adalah dengan berusaha mengkompromikan diri untuk sabar tanpa ada usaha untuk menganalisa kesalahan, lalu pasrah kepada Tuhan.
Tuhan memang tempat mengaduh yang baik. Tapi tentu kalau sedikit-sedikit mengeluh, yang ada hanyalah sebuah citra bahwa Tuhan lah yang menciptakan kejahatan sehingga ia layak protes kepada yang maha kuasa melalui doa-doa.
Pada akhirnya, agama menjadi pelarian bagi orang-orang yang kalah dan lemah. Selesai. Islam yang mengatur sistem hidup secara keseluruhan hanya dianggap sebagai agama yang mengajarkan bagaimana agar bisa masuk surga dan menghindari neraka dengan ibadah-ibadah konvensional.
Wirid, sholat, doa, puasa dan seterusnya. Sementara pekerjaan, penelitian dan kegiatan ilmiah untuk mengembangkan teknologi tidak dianggap sebagai ibadah. Sebaliknya dianggap sebagai perilaku sekuler yang tak ada hubungannya dengan agama.
No comments:
Post a Comment