Wednesday, January 28, 2015

MARAH DALAM BERAGAMA

Kamis, 29 Januari 2015

Dalam salah satu video kurang dari satu menit, terdapat tayangan seorang berkopyah putih dan bersorban sedang marah-marah di atas mimbar menyebut pak Quraish Shihab dengan ‘ulama as-suu’, ulama yang buruk. Dalam terminologi Islam, ulama as-suu’ adalah kategori ulama yang jahat. Kategori ini dibuat oleh Imam Ghozali dalam salah satu kitabnya, Ihya Ulumuddin.

Tidak jelas siapa lelaki yang teriak-teriak dalam video tersebut. Dari luas masjid dan jumlah jamaah terlihat bahwa Kiai tersebut adalah tokoh agama yang disegani masyarakat. Hanya saja, ulahnya tersebut justru tidak memperlihatkan kesantunan sebagai panutan.

Niat lelaki itu baik, membela nabi yang dibilang oleh Quraish Shihab tidak mendapat jaminan surga. Pernyataan kontroversial yang disampaikan oleh penulis tafsir Al-Misbah tersebut memang benar adanya. Kalau Allah menjamin seseorang masuk surga, berarti Tuhan memiliki kewajiban, yakni memasukkan nabi ke dalam surga. Kalau demikian, mengapa tidak semua umat manusia dimasukkan surga? Mengapa hanya nabi yang terpilih?

Perbedatan masalah kewajiban Tuhan ini sebetulnya sudah sangat klasik. Tepatnya diskursus sifat Allah antara muktazilah dan Asy’ariyah. Muktazilah menyatakan Allah memiliki kewajiban yakni menciptakan ash-sholah (kebaikan) dan al-ashlah (yang lebih baik). Sementara Asy’ariyah menentang pendapat tersebut. Quraish Shihab sependapat dengan kubu kedua.

Tidak ada masalah dengan ucapan Professor Quraish Shihab jika dipahami dengan referensi dan tanpa emosi. Sehingga tak perlu berteriak di atas mimbar sambil menghakimi seseorang sebagai ulama buruk. Sayangnya, banyak orang yang suka mengklaim tanpa adanya klarifikasi terlebih dahulu. Akibatnya yang muncul adalah anggapan bahwa orang lain salah dan dirinya benar.

Marah-marah di atas mimbar tersebut barangkali adalah wujud rasa cintanya kepada rasulullah yang menyala-nyala. Rasa cinta yang dilukai karena ada yang ‘menghina’ orang yang dicintainya. Kesan yang muncul adalah upaya untuk membela nabi. Sama halnya dengan orang yang merasa terhina jika ada yang menjelekkan praktek agama.

Reaksi keras atas hinaan tersebut terkadang justru memunculkan stigma buruk terhadap agama. Misalnya pembunuhan atas pimred kartun Charlie Hebdo. Kartun satir yang menggambarkan Rasulullah memang keterlaluan. Namun demikian cara menanggapinya tak perlu dengan membunuh.

Habib Ali al Jufri memberikan contoh yang sangat bijak. Ketika kasus kartun tersebut muncul, dia mengatakan. Gambar yang ada dalam kartun tersebut bukan Rasulullah tapi kelakuan umat Islam saat ini yang tak bisa mencontoh akhlak rasul. Islam hanya sekedar difokuskan pada jenggot, surban dan jubah. Kerendahan hati, kebijakan dan kejujuran tidak menjadi ciri khas yang dikenal oleh dunia. Sebaliknya, kekerasan dengan bendera agama yang menyebar di mana-mana.

No comments:

Post a Comment