Kamis, 29 Januari 2015
Dalam salah satu video kurang dari
satu menit, terdapat tayangan seorang berkopyah putih dan bersorban sedang
marah-marah di atas mimbar menyebut pak Quraish Shihab dengan ‘ulama as-suu’,
ulama yang buruk. Dalam terminologi Islam, ulama as-suu’ adalah kategori ulama
yang jahat. Kategori ini dibuat oleh Imam Ghozali dalam salah satu kitabnya,
Ihya Ulumuddin.
Tidak jelas siapa lelaki yang
teriak-teriak dalam video tersebut. Dari luas masjid dan jumlah jamaah terlihat
bahwa Kiai tersebut adalah tokoh agama yang disegani masyarakat. Hanya saja,
ulahnya tersebut justru tidak memperlihatkan kesantunan sebagai panutan.
Niat lelaki itu baik, membela nabi
yang dibilang oleh Quraish Shihab tidak mendapat jaminan surga. Pernyataan kontroversial
yang disampaikan oleh penulis tafsir Al-Misbah tersebut memang benar adanya. Kalau
Allah menjamin seseorang masuk surga, berarti Tuhan memiliki kewajiban, yakni
memasukkan nabi ke dalam surga. Kalau demikian, mengapa tidak semua umat
manusia dimasukkan surga? Mengapa hanya nabi yang terpilih?
Perbedatan masalah kewajiban Tuhan
ini sebetulnya sudah sangat klasik. Tepatnya diskursus sifat Allah antara
muktazilah dan Asy’ariyah. Muktazilah menyatakan Allah memiliki kewajiban yakni
menciptakan ash-sholah (kebaikan) dan al-ashlah (yang lebih baik). Sementara Asy’ariyah
menentang pendapat tersebut. Quraish Shihab sependapat dengan kubu kedua.
Tidak ada masalah dengan ucapan
Professor Quraish Shihab jika dipahami dengan referensi dan tanpa emosi. Sehingga
tak perlu berteriak di atas mimbar sambil menghakimi seseorang sebagai ulama
buruk. Sayangnya, banyak orang yang suka mengklaim tanpa adanya klarifikasi
terlebih dahulu. Akibatnya yang muncul adalah anggapan bahwa orang lain salah
dan dirinya benar.
Marah-marah di atas mimbar tersebut
barangkali adalah wujud rasa cintanya kepada rasulullah yang menyala-nyala. Rasa
cinta yang dilukai karena ada yang ‘menghina’ orang yang dicintainya. Kesan
yang muncul adalah upaya untuk membela nabi. Sama halnya dengan orang yang
merasa terhina jika ada yang menjelekkan praktek agama.
Reaksi keras atas hinaan tersebut
terkadang justru memunculkan stigma buruk terhadap agama. Misalnya pembunuhan
atas pimred kartun Charlie Hebdo. Kartun satir yang menggambarkan Rasulullah
memang keterlaluan. Namun demikian cara menanggapinya tak perlu dengan
membunuh.
Habib Ali al Jufri memberikan
contoh yang sangat bijak. Ketika kasus kartun tersebut muncul, dia mengatakan. Gambar
yang ada dalam kartun tersebut bukan Rasulullah tapi kelakuan umat Islam saat
ini yang tak bisa mencontoh akhlak rasul. Islam hanya sekedar difokuskan pada
jenggot, surban dan jubah. Kerendahan hati, kebijakan dan kejujuran tidak
menjadi ciri khas yang dikenal oleh dunia. Sebaliknya, kekerasan dengan bendera
agama yang menyebar di mana-mana.
No comments:
Post a Comment