Kata Nuril, aku adalah manusia sok keren. Dia benar. Bahkan
aku juga sok multitalen. Padahal kenyataannya aku hanya manusia bodoh yang tak
sadar bahwa dirinya bodoh. Penyababnya tak lain adalah kesombonganku. Ya,
kesombongan yang kuwarisi dari Iblis.
Baru baca sedikit merasa sudah pintarnya sedunia, tak mau
menerima ilmu dari orang lain yang lebih pandai. Baru menulis remeh temeh sudah
merasa menulis sesuatu yang maha penting. Dua hal itu baru contoh belum
kesombongan lain yang tak kusadari.
Mengapa aku begitu susah menerima saran dari orang lain.
Kalaupun menerima, aku selalu pilih-pilih orang yang berbicara bukan karena ide
orang lain. Ya, ini kemungkinan juga salah satu bentuk kesombongan.
Aku memilih sendiri, mencari kebenaran sendiri dari buku-buku
dan dari orang-orang yang kuanggap benar dalam versiku. Siapalah aku ini?
Biar nanti Tuhan menunjukkanku dengan caranya. Kalau
petunjuk itu harus kucari atau kuminta dari-Nya, semoga dia memberiku kekuatan
untuk mencarinya. Semoga ada jalan sebelum aku mati.
Kemarin adikku sms, tanya apakah aku akan mengirim dia uang?
Pertanyaan itu membutuhkan jawaban bahwa aku harus mengirimnya uang. Orang
tuaku di rumah pasti dalam keadaan kekurangan finansial. Sedang aku adalah anak
pertama. Apalagi yang harus saya lakukan kalau bukan harus cari uang untuk
memenuhi kebutuhan adikku yang sedang nyantri.
Tak ada salahnya cari uang halal bahkan untuk menjadi kaya
pun, menurutku saat ini adalah sebuah keharusanku sebagai makhluk Tuhan.
Menurut sebagian filsuf, alam semesta ini adalah salah satu cerminan Tuhan.
Salah satu sifatnya adalah ghoni, maha kaya. Jika aku atau banyak orang ingin
kaya, maka sebenarnya itu hal wajar. Justru Tuhan tak memiliki sifat miskin.
Asal satu, bahwa kekayaan yang didapat tidak boleh dianggap miliknya. Dan dalam
kekayaan itu ada hak orang lain. Begitu menurut tafsir al Misbah.
Kata mal (harta) dalam bentuk mufrod dalam Quran selalu
disandarkan pada kepemilikan harta orang-orang yang tidak baik karena merasa
hartanya bukan titipan Tuhan. Sementara dalam bentuk jama’, amwal selalu
dikaitkan dengan harta yang di dalamnya terdapat hak orang lain bukan milik
sendiri. Harta yang harus diinfakkan dan disedehkahkan.
Aku memang belum berkeluarga tapi aku punya adik yang dalam
sebuah tradisi yang berlaku harus kunafkahi sebagai saudara tua. Aku setuju
dengan konsep itu. Bahkan merupakan suatu perbuatan terpuji selain sebagai
alasan logis bagiku untuk bekerja.
Pekerjaan apa yang saat ini bisa kulakukan kalau bukan
penerbitan buku. Ya, aku sedang merintis sebuah penerbitan yang bermula dari
keisenganku menerbitkan karyaku. Saat ini mulai berkembang. Jika kemarin
sampulnya hanya bisa nyetak dengan alat sendiri, sekarang tidak. Dan hasilnya
bisa lebih baik. Tentu dengan proses trial and error.
Aku akan serius dalam pekerjaan ini. Jika dulu hanya bisa
mencetak satu buku, sekarang lebih dari lima judul buku yang kucetak. Buku
karya sendiri ada empat. Ada dari teman-temanku yang baru merintis jadi
penulis.
Pekerjaan ini kuusahakan menjadi besar kelak agar bisa
mendanai adikku dan biaya kuliahku. Gaji dari mengajar di pondok tidak cukup
untuk memenuhi itu semua.
Apakah dengan ini aku meninggalkan pengabdian? Kalau
meninggalkan, tidak. Tapi kalau mengurangi jam, iya. Aku harus mencari ilmu
lagi dan bekerja demi adik-adikku walau pada akhirnya aku tak mengajar lagi di
sekolah formal.
No comments:
Post a Comment