Saturday, January 28, 2012

JUMAT, 27 JANUARI 2012

Kubaca novel yang baru saja kubeli dari Toga Mas Yogya sebelum tidur. Tapi aku lelah. Mataku kantuk berat. Kuputuskan meletakkan bukuku di sampingku. Gara-gara buku itu, semangatku menulis ada lagi. Terutama menulis kejadian yang miris, yang kualami malam ini. Begini ceritanya. Ini pengalamanku pada hari Jumat, 27 Januari 2012 di Aula pesantren Nurul Haromain Kulon Progo Yogyakarta pada sela istirahat para mahasiswa santri berprestasi.
Belum sempat aku tak tersadarkan diri dalam tidur, mataku terbangun gara-gara ulah sekelompok mahasiswa. Mereka berteriak di atas tengah malam. Saat kulirik jam, ternyata sudah jam satu. Mereka tidak berdemo, mereka tidak sedang berdiskusi dan sedang tidak mengigau. Mereka duduk membuat sebuah forum yang menjiikkan. Mereka main kartu sambil terbahak-bahak melihat kekalahan kawannya. Entah mereka manusia yang berotak atau tidak, yang kutahu mereka adalah mahasiswa santri penerima program beasiswa santri berprestasi dari kementerian agama.
Sesekali mereka mengeluarkan umpatan. Seperti "Jancuk", "Sikat" dan umpatan lain. Inilah salah satu hal yang membuatku acuh tak acuh dengan pendidikan di Indonesia. Moral tak pernah dianggap hal serius. Padahal mereka cerdas dan berada di perguruan tinggi ternama. Aku harus menyebutkan di kampus mana mereka belajar. Di UGM, IAIN dan UIN. Akupun kuliah di IAIN. Tapi aku tak sepenuhnya suka dengan kampusku bahkan akhir-akhir ini aku sentimen. Jangan merasa bangga dengan almameter, jika kualitas individual masih diragukan.
Saat aku menulis ini pun, mereka masih berteriak-teriak. Kira-kira ada sepuluh mahasiwa yang sedang bermain. Tawanya menggemakan ruangan di saat puluhan mahasiswa lain sedang tidur. Mudah-mudahan yang sedang tidur tak mengalami hal serupa denganku karena telingaku sangat peka saat tidur. Sedikit saja mendengar suara, aku bisa terbangun apalagi mendengar suara tawa yang keras. Sampai sekarang, saat aku menulis ini mereka masih bermain dan masih sering tertawa lepas.
Sempat ada keinginan untuk mendatangi mereka dan mengumpat. Letak mereka bermain tak jauh dariku. Tapi tak ada gunanya. Mereka sudah besar, mahasiswa pintar karena mendapat beasiswa. Kecerdasannya tak diragukan.
Apapun alasan mereka bermain dan berteriak, alasan itu hanya sekedar alibi yang tak berarti. Aku mencoba menduga-duga, apa kiranya hingga mereka melakukan hal yang tidak manusiawi itu. Apakah mungkin mereka hanya rombongan liar dalam arti oknum-oknum yang berpura-pura jadi mahasiswa agar bisa mengikuti acara pembinaan. Tapi tampaknya dugaanku salah. Mereka memang MAHASISWA SANTRI BERPRESTASI. Memang perbuatannya tidak dosa, tapi apakah etis perbuatan itu dilakukan manusia seperti mereka. Salahkah aku jika menyebutnya sebagai mahasiswa bejad? Mungkin terlau ekstrim. Di luar sana masih banyak mahasiswa yang lebih parah. Mengkonsumsi minuman keras dan narkotika seperti yang diceritakan temanku tadi.
Itulha potret mahasiswa masa kini. Jika tidak berlebihan aku mau menghubungkan dengan banyaknya pejabat negeri ini yang tak punya hati. Jangan pernah mengatakan "Dulu para pejabat adalah aktifis yang idealis. Tapi saat jadi pejabat, idealismenya terkikis." Tapi katakan bahwa dulu mereka mahasiswa. Entah aktifis atau tidak. Entah idealis atau tidak. Intinya saat jadi pejabat mereka jadi manusia yang tak berhati.
Yang tersinggung, semoga sadar. Yang tak tersinggung, mohon bisa mendoakan. Maafkan saya rektor UGM, rektor UIN dan rektor IAIN.
Na'udzubillahi min Syarri zdalik. (Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan bejad seperti itu).
Salam mahasiswa

No comments:

Post a Comment