Saturday, January 28, 2012

KAMIS, 26 JANUARI 2012

Kembali lagi aku berada dalam keramaian sebuah bangunan seperti aula yang dipaksa menjadi kamar untuk puluhan mahasiswa. Ada yang asyik bermain musik, mendengar mp3, nonton film, bercengkerama dengan kawan-kawana, main game dan lainnya. Hanya sebagian kecil yang sibuk membaca buku. Tak kutemukan sebuah forum diskusi.
Aku dan mereka adalah para mahasiswa penerima beasiswa dari kementerian agama. Dulu kami santri berprestasi dari pesantren-pesantren seluruh Indonesia. Kami diseleksi untuk masuk perguruan tinggi ternama. Kami sangat beruntung bisa kuliah gratis dan digaji tiap bulan untuk kehidupan sehari-hari. Pencapaian yang membuat banyak mahasiswa iri. Lalu bagaimana dengan kualitasnya? Apakah benar-benar berprestasi? Mudah-mudahan benar.
Dalam event tahunan perkumpulan mahasiswa depag, lagi-lagi tak kutemukan hubungan ideologis sehingga tak ada keakraban antara mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda. Entah itu dari kampusku, IAIN, atau dari kampus lain UIN Sunan Kalijaga dan UGM.
Sejak acara pembukaan pertemuan mahasiswa ini, baru hari ini aku kesini lagi. Kemarin kunikmati hari-hariku di kota Yogya. Jalan-jalan ke Malioboro mencari souvenir untuk pelatihan, Sholat di masjid kepatihan Paku Alam, Mengunjungi Sekaten, ke Toga Mas dan menghabiskan waktu di kos temanku. Jujur, aku jatuh cinta pada Yogyakarta.
Banyak hal yang tak ditemukan di kota lain. Tradisi yang masih terjaga, bangunan-bangunan artistik dan nuansa mistiknya masih terasa. Warganya juga ramah. Banyak wisatawan asing berkeliaran di Yogya untuk menikmati keindahan kota yang pernah menjadi ibukota Indonesia ini. Tapi ada satu hal yang belum cocok denganku. Harga makanan yang lebih mahal dibanding Semarang.
Keberadaanku di Yogya kali ini juga tidak hanya sekedar menghadiri acara rutin dan jalan-jalan. Aku harus kembali beberapa kali mendatangi kos-kosan Syamsul untuk keprluan penerbitan buku dan mencetak modul pelatihan ilmu falak yang akan segera kulakukan bersama teman-teman Farabi Institute. Untungnya aku selalu dibantu oleh Rozikin, teman MTsku yang sampai saat ini masih akrab. Aku banyak merepotkannya. Menjemputku dan mengantarkanku. Aku dan Rozikin masih akrab tak lain karena mind set berpikir yang sama dan cita-cita yang sama. Tiap kali bertemu, pasti punya bahasan yang menarik. Tentang aktifitas di luar kampus, perpolitikan di Indonesia, tentang cinta dan topik utama yakni buku dan tulisan. Aku dan dia gemar membaca dan diskusi. Tapi kasihan dia tak menjumpai kawan diskusi yang imbang di Yogya. Selalu dia menjadi penceramah saat berada dala forum diskusi. Karena teman-temanya hanya diam. Mungkin keberadaanku di Yogya bisa menjadi teman diskusinya. Meluapkan pemikiran dan ide terbarunya padaku.
Saat berada di kamar kos Rozikin, aku menemukan novel yang berkualitas. Sebuah novel berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Akhirnya aku mendapat bacaan yang bagus setelah lama diam tak menemukan buku yang cocok denganku

No comments:

Post a Comment