Baru saja kulihat film Rann produksi Bollywood. Dalam film itu digambarkan persekongkolan antara pengusaha hitam, politisi dan pers. Ketika ketiga komponen itu melakukan perselingkuhan maka akan melahirkan sebuah kebusukan. Masyarakat lah yang menjadi korban. Untungnya masih ada sosok idealis yang tak bisa dibujuk oleh harta maupun tahta. Meski hanya dua orang.
Hampir sama persis dengan kasus yang terjadi di Indonesia, kasus yang terdapat dalam film India itu berkutat seputar korupsi, terorisme, rasisme dan kemiskinan. Barangkali ketiga penyakit inilah yang wajib diderita oleh Negara berkembang dengan system demokrasi. Korupsi dilakukan oleh penguasa sedangkan kasus terorisme dan rasisme hanyalah setting yang dibuat oleh media busuk untuk menutupi kasus korupsi oleh penguasa. Jika media tak bisa bersikap independent, maka sukseslah apa yang dilakukan oleh koruptor karena kasusnya tertutupi.
Peran pengusaha hitam tak lain adalah untuk melanggengkan proyeknya dengan memelintir atau memesan undang-undang kepada penguasa dengan uang tips. Lalu media yang seharusnya bersikap kritis terhadap pemerintahan bisa ditutup mulutnya dengan uang. Seorang Purab dalam film tersebut dapat jujur hingga akhir karena dia tak mau merasakan uang haram dari orang-orang yang merayunya seperti pemilik stasiun TV 24 dan bahkan tak mau diiming-imingi oleh Pandey, penjahat Negara yang mau merebut posisi Perdana Menteri.
Begitu lihainya para penjahat memainkan media sehingga semua masyarakat bisa dikelabui. Tapi becik ketitik olo ketoro. Itulah kata yang cocok bagi para penipu. Semoga di Indonesia masih banyak sosok Jurnalis jujur seperti Purab dan Mallik yang diperankan oleh amitabh Bachan.
Baru saja kubuka komentar di facebook temanku yang sangat memukulku. Tapi tak kuhiraukan. Biar saja dia berkicau. Wajar saja dia terlalu banyak main game. Jarang sekali kulihat dia baca buku atau ikut berdiskusi. Waktunya banyak dihabiskan dengan main game. Yang sangat disayangkan dia berstatus mahasiswa. Semoga aku tak tertular. Aku akan tetap berusaha membuktikan diri bahwa aku manusia. Manusia yang berakal. Meski akal itu kugunakan sebatas untuk membaca, menulis coretan-coretan tak penting dan berdiskusi untuk tukar pikiran. Aku tak mau waktuku habis hanya untuk bermain-main saja. tak ingin nanti pertanggungjawabanku di akhirat menjadi semakin berat dengan tak melaksanakan perintah pertama Allah. Iqra”!.
Aku teringat saat ngobrol ringan dengan temanku di Asemrowo. Dia bilang bahwa aku terlalu sibuk dengan duniaku. Dengan buku, HMI dan aktifitas pribadiku. Setelah liburan ini kubuktikan dengan membuat forum diskusi kecil. Alhamdulillah semakin hari semakin maju. Semoga dapat melahirkan ide-ide cemerlang dan mendapat ridho Allah. Temanku yang pernah bilang bahwa aku terlalu sibuk dengan duniaku malah tak pernah kelihatan batang hidungnya ikut dalam diskusi. Dia punya kerisauan yang sama denganku. Sama-sama tak suka dengan tradisi main game yang sudah berlebihan. Barangkali jika orang yang bersangkutan membaca tulisanku ini akan merasa gatal kupingnya.
Hanya penyesalan yang akan menjadi obat terakhir bagi orang-orang yang telah menyalahgunakan waktunya. Maafkan aku Tuhan.
Wednesday, October 5, 2011
Senin, 26 September 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment