Ada kesan menarik untuk hari ini. Bukan karena padatnya kegiatan KKN, bukan karena gadis-gadis desa yang cantik bukan pula karena aktifitas pribadiku. Akan tetapi tentang kehidupan teman seposko KKN yang akrab dipanggil ganja.
Begini ceritanya, dia anak seorangibu setengah baya yang berjualan gorengan dan es di dekat tempat parkir kebun cengkeh terluas se-Indonesia. Letaknya berada di gunung Ungaran. Siapa sangka ternyata orang secerdas dia ternyata kesulitan ekonomi. Kuliahnya yang tak lulus-lulus bukan karena bodoh. Kuakui dia cerdas bahkan paling cerdas di antara teman-teman KkN. Bukan hanya cerdas intelektualnya, emosionalnya juga luar biasa. Cara bicaranya pasti menyenangkan lawan bicara. Baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Namanya Solikhul Muttaqin akrab dipanggil ganja.
Sejak di posko KKN dia dapat memberikanku banyak pengetahuan yang tak kudapatkan di kampus. Dia dapat memetakan masyarakat desa dengan baik dan amazing. Begitu santunnya dia dengan semua orang apalagi dengan ibunya. Tadi dia pernah bercerita pernah berjualan di tempat ibunya berdagang selama seminggu sekali untuk membiayai kuliah. "Tiap bayar semesteran selalu hutang ke Bank." Begitu tukasnya.
Dulu pertama kali berdiskusi dengannya di kampus sedikitpun aku tak menduga bahwa dia secerdas itu. Dia paling pandai membicarakan sejarah Indonesia. Berulang kali dengan merasa tanpa dosa mengatakan kalau orang ini tak pintar, orang itu tak pintar. Tentu saja aku minder dengannya selain karena kecerdasannya juga karena usianya yang tiga tahun lebih tua di atasku.
Monday, October 31, 2011
MINGGU, 23 OKTOBER 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment