Kenapa haru ada KKN? Bukannya mahasiswa selama empat tahun sudah hidup bermasyarakat saat tinggal di kos. Kalau mau mengembangkan desa? Kenapa hanya untuk beberapa hari saja? Apakah anggapanku benar bahwa KKN hanya proyek kampus dengan masyarakat kampugn yang ditinggali.
Bagaimana tidak, pengeluaran uang saat KKN dipastikan lebih banyak dibanding tidak melakukannya. Bayar uang KKN sebesar lima ratus ribu, lalu juga membutuhkan biaya hidup sendiri saat terjun ke desa lokasi KKN. Mahasiswa yang tak punya uang, otomatis tak bisa mengikuti kegiatan ini meski sudah melakukan tindakan yang bermanfaat kepada masyarakat selama menjadi mahasiswa.
Memang kegiatan kalau sudah diberi stempel sakti instansi tak dapat lagi diganggu gugat oleh pihak manapun. Dalam hal ini, mahasiswa akan menjadi korban eksploitasi biaya dan tenaga. Betapa tidak, saat KKN secara tak langsung mereka melakukan promosi kampus. Kampus akan mendapat mahasiswa banyak dengan bantuan mahasiswa.
Malam ini aku berada di Demak, tepatnya di masjid Agung Demak mencari tempat berzikir setelah beberapa menit sebelumnya bertukar pikiran dalam forum diskusi. Berzikir setelah berfikir.
Tema diskusinya adalah Fikih Hisab Rukyat. Kebetulan aku mendapat giliran menjadi pengisi diskusi. Kami banyak bertukar pikiran hingga akhirnya berujung pada pola pendidikan Islam yang mengajarkan fanatisme sejak kecil. Anak orang NU akan diajari ke-NU-an tanpa diajari toleransi terhadap perbedaan. Begitu pula orma yang lainnya. Akibatnya banyak yang mudah menyalahkan orang lain. Bahkan mengkafirkan. Untuk itu, diperlukan formula baru untuk mengajari cara ber-Islam dengan baik tanpa meragukan kepercayaan yang lain. Sudah ngantuk. Tidur dulu di masjid Agung Demak.
Saturday, October 8, 2011
JUMAT, 7 OKTOBER 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment