Pak Harmaji ternyata masih sama seperti dulu, terlihat masih muda
dan energik. Walupun aat ini usianya sudah lima puluh tahun. Waktu masih
mengajar bahasa Indonesia dulu, usianya baru empat puluh tahun. Pada usia
tersebut, pernah pak Harmaji menunjukkan karyanya berupa sebuah buku kumpulan
puisi. Nama bekennya dalam dunia sastra adalah Pringgo Hr. sampai sekarang nama
itu masih dipakai.
Waktu itu tak ada sedikit pun keinginanku untuk menjadi seorang
penulis. Walaupun beberapa hari sebelum aku melihat buku kumpulan puisi
berjudul Sungai Asal yang memuat tulisan Pak Harmaji, aku menulis kata-kata
yang masih belum pantas disebut puisi. Ketika aku menulisnya, aku tak tahu
kalau guru bahasa Indonesiaku telah membuat sebuah karya
Pada tahun itu, Pak Harmaji juga pernah menunjukkan bahwa dirinya
dimuat dalam harian Kompas sebagai salah satu penyair dari Lamongan yang masu
sepuluh besar penulis puisi. Betapa bahagianya beliau saat itu dengan
keberhasilannya. Sebagai guru bahasa Indonesia, karya puisi di luar waktu
sekolah adalah prestasi yang mengaguman bagi diri dan muridnya. Sampai suatu
ketika ada salah satu puisi tentang kemerdekaan Indonesia yang dibaca di dalam
kelas.
Kira-kira empat jam kami mengobrol tentang apapun. Obrolan guru dan
murid yang sudah lama tak bertemu semenja sepuluh tahun lalu. Darinya aku tahu
ternyata pak Harmaji mengamati tulisan-tulisanku. Bahkan masih ingat pernah
membaca karyaku di Koran Republika lima tahun lalu. Rasanya seperti terlecut
lagi semangatku untuk membuat karya sastra. Terlebih setelah beliau
menyampaikan dunia sastra yang sejak dari zaman Jahiliah sudah maju. Bahkan
dalam al-Quran ada surat as-syuaro. Namun demikian, sejak dari dulu sampai
sekarang, seorang penyair kebanyakan adalah orang-orang yang dekat dengan
minuman keras dan perzinahan. Hanya orang yang berpegung pada iman dan takwa
yang akan terlepas dari dunia itu. Jadi tak perlu heran jika beberapa sastrawan
suka menggambarkan tentang hal-hal yang mendekati sensualitas dalam karyanya.
Beberapa kali beliau berpesan padaku untuk melanjutkan kemampuanku
menulis. Jangan sampai aku meninggalkannya walaupun kegiatan padat. Sastra dari
pesantren bagi beliau cukup menarik. Sebab santri mampu menguasai bahasa Arab
yang memiliki nilai sastra tinggi. Selain itu pula sebagai upaya untuk
mengimbangi sastrawan hitam yang tak menutup kemungkinan kata-kata yang ditulis
adalah berasal dari bisikan setan. Maka, tak perlu heran jika ada beberapa
karya sastra yang menggambaran ketelanjangan, kebinalan dan perzinahan dengan
kalimat yang indah. Beberapa orang bisa mabuk dan terpengaruh dengan kata-kata
tersebut.
Dalam perbincangan semalam, ada satu hal yang masih
memprihantinkan. Ternyata setelah aku dan teman-teman menjadi juara olimpiade
matematika tingkat provinsi, sekolahku masih belum bisa melanjutkan tradisi
tersebut walaupun jumlah siswa jauh lebih banyak dengan input yang lebih bagus.
Begitu tutur Pak Harmaji. Jadi, pengalaman menjuarai olimpiade matematika
sepuluh tahun yang lalu adalah prestasi yang sangat membanggakan. Pak Harmaji
pun mengakui sebab beliau yang mengantarkan kami.
Membicarakan masa-masa itu memang sangat membahagiakan. Betapa
waktu itu aku tak menyangka bisa mengangkat piala besar yang kupersembahkan
untuk sekolah. Sekarang, prestasi yang membanggakan itu bukan lagi berupa piala
melainkan karya-karya tulisku dalam bidang sastra. Di saat aku terpikir untuk
berpaling dari dunia sastra, apa yang disampaikan pak Harmaji padaku
menyadarkanku bahwa azam tersebut adalah sebuah kesalahan.
Jika muridnya di madrasah Aliyah ada yang jadi penulis nasional
yakni Aguk Irawan, di Mts ada Rizal Mubit. Begitu ungkapnya. Ini adalah harapan
besar pak Harmaji dan tantangan berat buatku. Selama ini tulisan-tulisanku
dibacanya walaupun tak pernah dilike atau dikomentari agar seolah dalam dunia
maya kami tak kenal. Itu bukan omong kosong sebab ternyata selain tahu
tulisan-tulisanku, Pak Harmaji juga paham puisi-puisi yang diciptakan Saifuddin
(Sogol) teman yang sowan ke Pak Harmaji bersamaku. Dia banyak sibuk dalam
pekerjaannya menjadi intelijen Pajak di Papua. Untuk menulis, harus pandai
mencuri waktu.
Masih ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentang pertemuan
semalam. Dari sekian petuah yang disampaikan. Pesan Pak Harmaji yang paling keramat
buatku dan Sogol adalah; Menikahlah.
Dukuan, 6 Januari 2016
Hhehe
ReplyDelete