Wednesday, January 6, 2016

PETUAH GURU BAHASA INDONESIA



Pak Harmaji ternyata masih sama seperti dulu, terlihat masih muda dan energik. Walupun aat ini usianya sudah lima puluh tahun. Waktu masih mengajar bahasa Indonesia dulu, usianya baru empat puluh tahun. Pada usia tersebut, pernah pak Harmaji menunjukkan karyanya berupa sebuah buku kumpulan puisi. Nama bekennya dalam dunia sastra adalah Pringgo Hr. sampai sekarang nama itu masih dipakai.

Waktu itu tak ada sedikit pun keinginanku untuk menjadi seorang penulis. Walaupun beberapa hari sebelum aku melihat buku kumpulan puisi berjudul Sungai Asal yang memuat tulisan Pak Harmaji, aku menulis kata-kata yang masih belum pantas disebut puisi. Ketika aku menulisnya, aku tak tahu kalau guru bahasa Indonesiaku telah membuat sebuah karya

Pada tahun itu, Pak Harmaji juga pernah menunjukkan bahwa dirinya dimuat dalam harian Kompas sebagai salah satu penyair dari Lamongan yang masu sepuluh besar penulis puisi. Betapa bahagianya beliau saat itu dengan keberhasilannya. Sebagai guru bahasa Indonesia, karya puisi di luar waktu sekolah adalah prestasi yang mengaguman bagi diri dan muridnya. Sampai suatu ketika ada salah satu puisi tentang kemerdekaan Indonesia yang dibaca di dalam kelas.

Kira-kira empat jam kami mengobrol tentang apapun. Obrolan guru dan murid yang sudah lama tak bertemu semenja sepuluh tahun lalu. Darinya aku tahu ternyata pak Harmaji mengamati tulisan-tulisanku. Bahkan masih ingat pernah membaca karyaku di Koran Republika lima tahun lalu. Rasanya seperti terlecut lagi semangatku untuk membuat karya sastra. Terlebih setelah beliau menyampaikan dunia sastra yang sejak dari zaman Jahiliah sudah maju. Bahkan dalam al-Quran ada surat as-syuaro. Namun demikian, sejak dari dulu sampai sekarang, seorang penyair kebanyakan adalah orang-orang yang dekat dengan minuman keras dan perzinahan. Hanya orang yang berpegung pada iman dan takwa yang akan terlepas dari dunia itu. Jadi tak perlu heran jika beberapa sastrawan suka menggambarkan tentang hal-hal yang mendekati sensualitas dalam karyanya.

Beberapa kali beliau berpesan padaku untuk melanjutkan kemampuanku menulis. Jangan sampai aku meninggalkannya walaupun kegiatan padat. Sastra dari pesantren bagi beliau cukup menarik. Sebab santri mampu menguasai bahasa Arab yang memiliki nilai sastra tinggi. Selain itu pula sebagai upaya untuk mengimbangi sastrawan hitam yang tak menutup kemungkinan kata-kata yang ditulis adalah berasal dari bisikan setan. Maka, tak perlu heran jika ada beberapa karya sastra yang menggambaran ketelanjangan, kebinalan dan perzinahan dengan kalimat yang indah. Beberapa orang bisa mabuk dan terpengaruh dengan kata-kata tersebut.

Dalam perbincangan semalam, ada satu hal yang masih memprihantinkan. Ternyata setelah aku dan teman-teman menjadi juara olimpiade matematika tingkat provinsi, sekolahku masih belum bisa melanjutkan tradisi tersebut walaupun jumlah siswa jauh lebih banyak dengan input yang lebih bagus. Begitu tutur Pak Harmaji. Jadi, pengalaman menjuarai olimpiade matematika sepuluh tahun yang lalu adalah prestasi yang sangat membanggakan. Pak Harmaji pun mengakui sebab beliau yang mengantarkan kami.

Membicarakan masa-masa itu memang sangat membahagiakan. Betapa waktu itu aku tak menyangka bisa mengangkat piala besar yang kupersembahkan untuk sekolah. Sekarang, prestasi yang membanggakan itu bukan lagi berupa piala melainkan karya-karya tulisku dalam bidang sastra. Di saat aku terpikir untuk berpaling dari dunia sastra, apa yang disampaikan pak Harmaji padaku menyadarkanku bahwa azam tersebut adalah sebuah kesalahan.

Jika muridnya di madrasah Aliyah ada yang jadi penulis nasional yakni Aguk Irawan, di Mts ada Rizal Mubit. Begitu ungkapnya. Ini adalah harapan besar pak Harmaji dan tantangan berat buatku. Selama ini tulisan-tulisanku dibacanya walaupun tak pernah dilike atau dikomentari agar seolah dalam dunia maya kami tak kenal. Itu bukan omong kosong sebab ternyata selain tahu tulisan-tulisanku, Pak Harmaji juga paham puisi-puisi yang diciptakan Saifuddin (Sogol) teman yang sowan ke Pak Harmaji bersamaku. Dia banyak sibuk dalam pekerjaannya menjadi intelijen Pajak di Papua. Untuk menulis, harus pandai mencuri waktu.

Masih ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentang pertemuan semalam. Dari sekian petuah yang disampaikan. Pesan Pak Harmaji yang paling keramat buatku dan Sogol adalah; Menikahlah.

Dukuan, 6 Januari 2016

1 comment: