Ketika browsing
gambar library, akan ada banyak pemandangan perpustakaan megah di luar negeri.
Pemandangan yang bikin ngiri. Ternyata di luar sana banyak bangunan raksasa,
buku tertata rapi dan ruangan yang bersih. Saya jadi teringat pengalaman
pertama tahu perpustakaan. Waktu itu saya masih SD. Saya lupa kelas berapa.
Belakangan saya sadar ruangan itu tidak representatif untuk belajar sebab
digabung dengan UKS. Padahal cukup banyak siswa yang ingin membaca di sana.
Buku yang ada hanya
satu rak. Untuk ukuranku dulu, bukunya jumlahnya sudah banyak. Dan sejak saat
itu saya pernah pinjam bukunya. Bukan buku aneh-aneh yang saya pinjam. Hanya
buku cerita yang hampir di tiap membalik halamannya ada gambar. Seusia SD,
membaca buku tanpa gambar akan sangat membosankan. Selama enam tahun sekolah
SD, seingat saya tak lebih dari lima kali saya pinjam.
Saya meyakini, ada
banyak anak yang suka baca. Persoalannya adalah buku yang disediakan waktu itu
terbatas. Anak SD butuh banyak buku dengan berbagai genre. Mereka akan memilih
sesuai dengan passion masing-masing. Hanya saja persediaan yang tidak banyak.
Sampai sekarang,
perpustakaan di SDku mungkin nasibnya tak jauh beda. Agaknya hal serupa juga
terjadi di banyak sekolah dasar di seluruh Indonesia. Akses bacaan anak SD
hanya dari buku semacam LKS. Buku ini tipis dengan kertas buram. Isinya
ringkasan materi dan latihan soal. Betapa tidak menariknya buku itu. Selain itu
juga ada buku paket yang full tulisan. Harganya agak mahal dan isinya jelas
tidak menarik. Tidak ada hasrat membaca buku itu sendiri. Mengkaji buku itu
selalu dengan bimbingan guru di kelas. Betapa banyak waktu yang tersiakan.
Ketika masuk
tsanawiyah, perpustakaan lebih baik. Hanya saja suasananya agak angker.
Bangunannya masih kurang besar sebab jumlah muridnya ribuan. Sementara
perpustakaan hanya satu ruangan. Ketika masuk pondok pun demikian. Perpustakaan
tidak representatif. Masuk ke sana adalah memasuki ruangan sepi tanpa dialog.
Saya beberapa kali ke sana dan tidak menemukan buku yang menarik sampai kubaca
khatam sebagaimana waktu SD.
Waktu masuk Aliyah
pesantren semangat membaca jadi tinggi. Membaca menjadi salah satu hiburan
alternatif di tengah padatnya kegiatan pondok yang seolah tanpa koma.
Mengunjungi perpustakaan hanya bisa saya lakukan setelah kegiatan sekitar pukul
sembilan malam. Buku-bukunya tidak hanya seputar agama.
Lagi-lagi
perpustakaannya belum bisa mewakili jumlah santri yang banyak. Buku yang
disediakan terbatas untuk ukuran pondok dengan jumlah santri lebih dari dua
ribu. Apalagi batas waktu buka perpustakaan yang tidak lama.
Masuk kuliah,
perpustakaan lumayan besar. Ada perpustakaan computer juga. Banyak mahasiswa
yang membaca di situ. Saya hanya sesekali sebab lebih suka membeli buku sendiri
dari pada pinjam di perpustakaan. Sekalian sambil nyicil untuk bikin
perpustakaan kelak. Belakangan, dari uang beasiswa saya mencoba menyisihkan
uang dua ratus ribu untuk membeli buku perbulan.
Ide beli buku
sendiri sebetulnya sudah diperintah bapak jauh-jauh hari. Sejak waktu SD dulu.
Tapi saya tak pernah hirau. Dulu lebih suka pinjam teman atau mewarisi kakak
kelas. Saya sadar kondisi keuangan di rumah. Beli buku akan menyusahkan bapak.
Dua tahun lalu kondisi berbalik. Bapak malah meminta untuk tidak terlalu banyak
beli buku. Lebih baik dicelengi juga untuk keperluan sewaktu-waktu.
Setelah melanjutkan
S2, sampai sekarang belum pernah masuk perpustakaan. Saya beli buku sendiri
untuk referensi kuliah. Selain itu juga meminjam buku bisa saya lakukan di
perpustakaan tempatku bekerja. Hal ini bukan berarti saya sama sekali tidak
mengunjungi perpustakaan. Saya beberapa kali dating ke perpustakaan umum
dimakam Soekarno.
Tinggal di kota yang
menyediakan perpustakaan adalah keberuntungan. Tidak semua kota menyediakannya.
Jumlah perpustakaan yang ada di tiap kota tidak sebanyak jumlah supermarket
apalagi minimarket. Bukan hanya perpustakaan yang memprihatinkan tetapi juga
toko buku. Ada banyak kota yang tidak punya perhatian khusus terhadap
pengetahuan warganya baik dengan membuat pespustakaan atau dengan member
subsidi buku (untuk sekarang masih mustahil).
Dengan tidak
memberikan fasilitas untuk membaca, sama halnya membiarkan warganya tidak
memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang lebih tahu, menjadi generasi yang
lebih baik. Sebaliknya menjamurnya mini market, selain merugikan toko-toko
kecil sebenarnya juga telah menanamkan jiwa konsumtif.
Membicarakan
perpustakaan akan mengingatkan pada masa kejayaan Islam. Salah satu unsur
penting penyokong kejayaan tersebut adalah keberadaan perpustakaan. Pada zaman
di mana mesin cetak masih tidak secanggih sekarang, para ilmuwan dulu rajin
menulis, melakukan penelitian lalu menjadi sebuah buku yang dikoleksi
perpustakaan. Seandainya tidak dihancurkan pasukan mongol, barangkali
perpustakaan itu akan menjadi perpustakaan terbesar di dunia yang luasnya saya
bayangkan sekecematan atau bahkan lebih.
Penghancuran
perpustakaan adalah bencana besar. Ketika perputakaan dihancurkan, hancurlah
peradaban. Tidak mudah menyusun karya tulis dengan berbagai macam disiplin
ilmu. Sehingga umat Islam mengalami masa kelam sampai sekarang.
Kesadaran akan
pentingnya perpustakaan ini perlu dibangun lalu diwujudkan dengan menyediakan
tempat yang menyenangkan dan menyediakan buku dalam berbagai bidang. Peradaban
tidak bisa terwujud tanpa penyediaan perpustakaan atau toko buku yang
memberikan ruang baca bagi yang kurang mampu membeli buku seperti di salah satu
kota di Amerika (seperti cerita guruku yang pernah ke New York).
Alasan klise yang
menyebutkan bahwa minat baca masyarakat sedikit boleh dibenarkan. Agaknya ini
yang harus menjadi PR dan dicarikan solusinya. Diantaranya adalah dengan
mencari penyebab mengapa perpustakaan tidak menjadi menarik. Salah satunya
adalah dengan menyediakan buku-buku baru dengan berbagai varian.


No comments:
Post a Comment