Sunday, October 4, 2015

NASIB MALANG PERPUSTAKAAN KITA


Pongangan, 4 Oktober 2015
Ketika browsing gambar library, akan ada banyak pemandangan perpustakaan megah di luar negeri. Pemandangan yang bikin ngiri. Ternyata di luar sana banyak bangunan raksasa, buku tertata rapi dan ruangan yang bersih. Saya jadi teringat pengalaman pertama tahu perpustakaan. Waktu itu saya masih SD. Saya lupa kelas berapa. Belakangan saya sadar ruangan itu tidak representatif untuk belajar sebab digabung dengan UKS. Padahal cukup banyak siswa yang ingin membaca di sana.

Buku yang ada hanya satu rak. Untuk ukuranku dulu, bukunya jumlahnya sudah banyak. Dan sejak saat itu saya pernah pinjam bukunya. Bukan buku aneh-aneh yang saya pinjam. Hanya buku cerita yang hampir di tiap membalik halamannya ada gambar. Seusia SD, membaca buku tanpa gambar akan sangat membosankan. Selama enam tahun sekolah SD, seingat saya tak lebih dari lima kali saya pinjam.

Saya meyakini, ada banyak anak yang suka baca. Persoalannya adalah buku yang disediakan waktu itu terbatas. Anak SD butuh banyak buku dengan berbagai genre. Mereka akan memilih sesuai dengan passion masing-masing. Hanya saja persediaan yang tidak banyak.

Sampai sekarang, perpustakaan di SDku mungkin nasibnya tak jauh beda. Agaknya hal serupa juga terjadi di banyak sekolah dasar di seluruh Indonesia. Akses bacaan anak SD hanya dari buku semacam LKS. Buku ini tipis dengan kertas buram. Isinya ringkasan materi dan latihan soal. Betapa tidak menariknya buku itu. Selain itu juga ada buku paket yang full tulisan. Harganya agak mahal dan isinya jelas tidak menarik. Tidak ada hasrat membaca buku itu sendiri. Mengkaji buku itu selalu dengan bimbingan guru di kelas. Betapa banyak waktu yang tersiakan.

Ketika masuk tsanawiyah, perpustakaan lebih baik. Hanya saja suasananya agak angker. Bangunannya masih kurang besar sebab jumlah muridnya ribuan. Sementara perpustakaan hanya satu ruangan. Ketika masuk pondok pun demikian. Perpustakaan tidak representatif. Masuk ke sana adalah memasuki ruangan sepi tanpa dialog. Saya beberapa kali ke sana dan tidak menemukan buku yang menarik sampai kubaca khatam sebagaimana waktu SD.

Waktu masuk Aliyah pesantren semangat membaca jadi tinggi. Membaca menjadi salah satu hiburan alternatif di tengah padatnya kegiatan pondok yang seolah tanpa koma. Mengunjungi perpustakaan hanya bisa saya lakukan setelah kegiatan sekitar pukul sembilan malam. Buku-bukunya tidak hanya seputar agama.

Lagi-lagi perpustakaannya belum bisa mewakili jumlah santri yang banyak. Buku yang disediakan terbatas untuk ukuran pondok dengan jumlah santri lebih dari dua ribu. Apalagi batas waktu buka perpustakaan yang tidak lama.

Masuk kuliah, perpustakaan lumayan besar. Ada perpustakaan computer juga. Banyak mahasiswa yang membaca di situ. Saya hanya sesekali sebab lebih suka membeli buku sendiri dari pada pinjam di perpustakaan. Sekalian sambil nyicil untuk bikin perpustakaan kelak. Belakangan, dari uang beasiswa saya mencoba menyisihkan uang dua ratus ribu untuk membeli buku perbulan.

Ide beli buku sendiri sebetulnya sudah diperintah bapak jauh-jauh hari. Sejak waktu SD dulu. Tapi saya tak pernah hirau. Dulu lebih suka pinjam teman atau mewarisi kakak kelas. Saya sadar kondisi keuangan di rumah. Beli buku akan menyusahkan bapak. Dua tahun lalu kondisi berbalik. Bapak malah meminta untuk tidak terlalu banyak beli buku. Lebih baik dicelengi juga untuk keperluan sewaktu-waktu.

Setelah melanjutkan S2, sampai sekarang belum pernah masuk perpustakaan. Saya beli buku sendiri untuk referensi kuliah. Selain itu juga meminjam buku bisa saya lakukan di perpustakaan tempatku bekerja. Hal ini bukan berarti saya sama sekali tidak mengunjungi perpustakaan. Saya beberapa kali dating ke perpustakaan umum dimakam Soekarno.

Tinggal di kota yang menyediakan perpustakaan adalah keberuntungan. Tidak semua kota menyediakannya. Jumlah perpustakaan yang ada di tiap kota tidak sebanyak jumlah supermarket apalagi minimarket. Bukan hanya perpustakaan yang memprihatinkan tetapi juga toko buku. Ada banyak kota yang tidak punya perhatian khusus terhadap pengetahuan warganya baik dengan membuat pespustakaan atau dengan member subsidi buku (untuk sekarang masih mustahil).

Dengan tidak memberikan fasilitas untuk membaca, sama halnya membiarkan warganya tidak memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang lebih tahu, menjadi generasi yang lebih baik. Sebaliknya menjamurnya mini market, selain merugikan toko-toko kecil sebenarnya juga telah menanamkan jiwa konsumtif.

Membicarakan perpustakaan akan mengingatkan pada masa kejayaan Islam. Salah satu unsur penting penyokong kejayaan tersebut adalah keberadaan perpustakaan. Pada zaman di mana mesin cetak masih tidak secanggih sekarang, para ilmuwan dulu rajin menulis, melakukan penelitian lalu menjadi sebuah buku yang dikoleksi perpustakaan. Seandainya tidak dihancurkan pasukan mongol, barangkali perpustakaan itu akan menjadi perpustakaan terbesar di dunia yang luasnya saya bayangkan sekecematan atau bahkan lebih.

Penghancuran perpustakaan adalah bencana besar. Ketika perputakaan dihancurkan, hancurlah peradaban. Tidak mudah menyusun karya tulis dengan berbagai macam disiplin ilmu. Sehingga umat Islam mengalami masa kelam sampai sekarang.

Kesadaran akan pentingnya perpustakaan ini perlu dibangun lalu diwujudkan dengan menyediakan tempat yang menyenangkan dan menyediakan buku dalam berbagai bidang. Peradaban tidak bisa terwujud tanpa penyediaan perpustakaan atau toko buku yang memberikan ruang baca bagi yang kurang mampu membeli buku seperti di salah satu kota di Amerika (seperti cerita guruku yang pernah ke New York).

Alasan klise yang menyebutkan bahwa minat baca masyarakat sedikit boleh dibenarkan. Agaknya ini yang harus menjadi PR dan dicarikan solusinya. Diantaranya adalah dengan mencari penyebab mengapa perpustakaan tidak menjadi menarik. Salah satunya adalah dengan menyediakan buku-buku baru dengan berbagai varian.


No comments:

Post a Comment