Sunday, January 24, 2016

KONFERENSI TARIQAH DAN ULAMA KITA


18 Januari 2016

Konferensi Ulama Thariqah di Pekalongan cukup membahagiakan. Seperti memberi kabar baik bagi dunia khususnya untuk umat Islam di Indonesia bahwa menjadi warga negara yang baik adalah penting. Dari beberapa status dan twit yang disampaikan akun Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, kesimpulannya adalah bahwa agama Islam adalah agama damai yang mementingkan hubungan antar sesama manusia dalam bernegara tidak hanya sesama muslim saja.

Ide tersebut mudah-mudahan bisa membuka mata banyak orang Islam yang diidentikan sebagai kelompok intoleran bahwa paham agamanya adalah keliru. Dari salah satu pernyataan yang disampaikab oleh salah satu pemateri dalam forum tersebut disimpulkan bahwa semangat penegakan syariah dalam bernegara tak lebih penting dari kesejahteraan dan keamaan warganya. Sebab tanpa kedua hal tersebut, penegakan syariah akan susah. Yang, ada hanya pemaksaan dan kekerasan yang memaksa umat dalam beragama.

Sebenarnya apa yang disampaikan para ulama dari perwakilan beberapa Negara tersebut sudah lama dicetuskan oleh pendiri bangsa Indonesia melalui NKRI. Bisa dilihat di buku Negara Paripurna karya Yudhi Latif tentang nilai-nilai agama dalam Pancasila yang tak jauh dari apa yang dilakukan nabi ketika membangun madinah. Misalnya tentang Piagam Madinah kebebasan warga madinah dalam berakidah dilindungi. Hal ini semangatnya sama halnya dengan sila pertama Pancasila.

Para ulama dari kalangan pesantren pun sebenarnya sudah lama menyatakan pentingnya bela negara walaupun tidak secara terang-terangan. Tidak ada Kiai di pesantren yang merongrong pemerintah walaupun pesantren sering dizalimi pemerintah. Tidak ada Kiai yang meminta santri berdemo atau hanya sekedar menghina Negara. Semangat bernegara dari kalangan santri secara akademik disampaikan Gus Dur, Cak Nur dan ilmuwan yang sepemikiran. Sayangnya orang-orang seperti mereka justru dituduh macam-macam, dituduh antek Amerika, liberal dan lain sebagainya sehingga ada beberapa kelompok yang masih antipati terhadap ide-ide dalam bernegara dan beragama tersebut.

Konferensi ini ke depannya harusnya lebih membuka mata banyak orang. Harus dikaui bahwa ide Gus Dur, Cak Nur, NU, Muhammadiyah dan mayoritas ulama nusantara senada dengan yang disampaikan oleh para pemateri. Dengan dihadirkannya para ulama tersebut, orang-orang yang banyak berbeda pendapat dengan ulama pesantren pada umumnya. Seperti kelompok yang sangat menentang Syiah oleh Habib Zaid dari Yaman diluruskan dengan pernyataannya bahwa di Yaman Sunni-Syiah menikah, bersosialisasi dan melakukan hubungan baik dalam bermasyarakat.

No comments:

Post a Comment