18 Januari 2016
Konferensi Ulama Thariqah
di Pekalongan cukup membahagiakan. Seperti memberi kabar baik bagi dunia
khususnya untuk umat Islam di Indonesia bahwa menjadi warga negara yang baik
adalah penting. Dari beberapa status dan twit yang disampaikan akun Habib
Muhammad Luthfi bin Yahya, kesimpulannya adalah bahwa agama Islam adalah agama
damai yang mementingkan hubungan antar sesama manusia dalam bernegara tidak
hanya sesama muslim saja.
Ide tersebut
mudah-mudahan bisa membuka mata banyak orang Islam yang diidentikan sebagai
kelompok intoleran bahwa paham agamanya adalah keliru. Dari salah satu
pernyataan yang disampaikab oleh salah satu pemateri dalam forum tersebut
disimpulkan bahwa semangat penegakan syariah dalam bernegara tak lebih penting
dari kesejahteraan dan keamaan warganya. Sebab tanpa kedua hal tersebut,
penegakan syariah akan susah. Yang, ada hanya pemaksaan dan kekerasan yang
memaksa umat dalam beragama.
Sebenarnya apa yang
disampaikan para ulama dari perwakilan beberapa Negara tersebut sudah lama
dicetuskan oleh pendiri bangsa Indonesia melalui NKRI. Bisa dilihat di buku
Negara Paripurna karya Yudhi Latif tentang nilai-nilai agama dalam Pancasila
yang tak jauh dari apa yang dilakukan nabi ketika membangun madinah. Misalnya
tentang Piagam Madinah kebebasan warga madinah dalam berakidah dilindungi. Hal
ini semangatnya sama halnya dengan sila pertama Pancasila.
Para ulama dari kalangan
pesantren pun sebenarnya sudah lama menyatakan pentingnya bela negara walaupun
tidak secara terang-terangan. Tidak ada Kiai di pesantren yang merongrong
pemerintah walaupun pesantren sering dizalimi pemerintah. Tidak ada Kiai yang
meminta santri berdemo atau hanya sekedar menghina Negara. Semangat bernegara
dari kalangan santri secara akademik disampaikan Gus Dur, Cak Nur dan ilmuwan
yang sepemikiran. Sayangnya orang-orang seperti mereka justru dituduh
macam-macam, dituduh antek Amerika, liberal dan lain sebagainya sehingga ada
beberapa kelompok yang masih antipati terhadap ide-ide dalam bernegara dan
beragama tersebut.
Konferensi ini ke
depannya harusnya lebih membuka mata banyak orang. Harus dikaui bahwa ide Gus
Dur, Cak Nur, NU, Muhammadiyah dan mayoritas ulama nusantara senada dengan yang
disampaikan oleh para pemateri. Dengan dihadirkannya para ulama tersebut,
orang-orang yang banyak berbeda pendapat dengan ulama pesantren pada umumnya.
Seperti kelompok yang sangat menentang Syiah oleh Habib Zaid dari Yaman
diluruskan dengan pernyataannya bahwa di Yaman Sunni-Syiah menikah,
bersosialisasi dan melakukan hubungan baik dalam bermasyarakat.

No comments:
Post a Comment