Kata Mendagri, bikin e-ktp gratis, pelayan harus jemput bola. Faktanya waktu Minta surat keterangan ke kantor desa, diminta Rp. 5000,-. lalu di kantor kecamatan, pelayannya ndak ada. Datang lagi beberapa hari kemudian juga pelayannya ndak ada. Terpaksa dititipkan ke teman si pelayan dan menunggu ngambil kertas surat pengantar keesokan harinya. Saya nitip ambil sepupu Tino Ora Nyono. Waktu balik dia cerita, oleh si pelayan, dimintai duit Rp. 10.000,- karena dia ndak bawa duit dan dompet, langsung saja steykul keluar tanpa kasih duit. Muka si pelayan berubah katanya. Sip itu. Ndak usah dikasih. Kataku. Kata orang Jawa, marai tuman.
Lanjut ke dinas kabupaten yang kantornya sempit dan ndak layak. Di depan ada spanduk macam-macam tentang korupsi dan lain-lain. Sayang waktu itu ndak bawa hp buat poto. Di situ pelayan pelayan lebih licin. Modusnya disuruh beli map oleh si pelayan yang harganya di atas normal. Rp. 3.000,-. Intinya ndak ada itu gratis gratis.
Bukan karena nominal, tapi kelakuannya itu loh. Mbok ya sadar, mereka yang disebut pegawai negeri itu sebenarnya pelayan. La wong gajinya dibayar dari pajak kita-kita juga. La kok nggaya macak bos. Pecat saja lah yang begitu-begitu. Jelas waktu seleksi pns, ndak beres prosesnya.
No comments:
Post a Comment