Sabtu, 30 Januari 2016
Kemarin saya bertemu
dengan seorang yang akan merintis pondok. Dia seniorku jauh di pondok. Dengan
dana seadanya dia berpikir untuk mendirikan pesantren untuk anak tak mampu.
Padahal saya lihat kehidupannya juga bukan termasuk orang menengah ke atas. Setiap
hari dia berjualan jajanan yang dikirmkan ke warung-warung dan jualan telur
asin.
Namanya orang itu
Mahfduz. Usianya sekarang tiga puluh delapan tahun. Dia dulu mondok sampai
Aliyah. Setelah lulus melanjutkan kuliah bidang ekonomi sampai semester tujuh.
Kuliah tidak dilanjutkannya karena ingin mondok di Kwagean Kediri padahal
usianya sudah dua puluh empat tahun. Pa Mahfudz berada di pondok sampai delapan
tahun. Menikah di usia dua puluh Sembilan tahun dengan warga Kwagean.
Setelah berkeluarga,
dia hidup pas-pasan dan menikmatinya. Menikmati kemiskinan tanpa terlalu
memikirkan pekerjaan sebab dia lebih suka wiridan. Sehari bisa membaca ayat
kursi sampai seribu kali. Sampai akhirnya mertuanya memarahi Pak Mahfudz dan
memintanya bekerja. Dia pun bekerja sampai sekarang memiliki tiga anak.
Saya heran. Di dunia
seperti ini masih ada orang yang memiliki pola pikir demikian. Apa yang
membentuk dirinya sehingga memilih hidup seperti itu. Hanya karena ajaran agama
kah atau ada penyebab lain? Orang seperti itu harusnya disuplay oleh
pemerintah. Membangun lembaga pendidikan juga secara tidak langsung untuk
melaksanakan program mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun menurutku, lebih baik
tak usah ikut campur dengan urusan pemerintah. Yang ada justru akan membuat
ruwet. Yang bahaya lagi malah akan disetir pemerintah.
No comments:
Post a Comment