Sabtu, 23 Januari 2016
Hidup di
kampung bagi orang yang dihinggapi jiwa individualis adalah hal yang penuh
dengan tekanan. Apalagi individualis yang sudah menjadi parasit lajang. Ada
banyak norma yang berlaku dimana semuanya adalah untuk hidup rukun dengan
tetangga atau apalah itu namanya. Sedang aku sendiri tak akan melakukan apapun
kalau itu bukan karena pilihanku yang didasarkan pada nafsu dan akalku.
Menjadi
seorang parasit takkan pernah benar-benar nyaman. Segala aktifitas yang
dilakukan tidak akan pernah bisa dilakukan dengan sepenuh hati. Mau melakukan
apapun akan dipenuhi dengan pertimbangan. Pilihan yang tepat sebenarnya adalah
keluar rumah dan pergi entah kemana sambil membawa laptop dan buku secukupnya.
Tapi mau
kemana?
Mau ke
Suci dengan uang pas-pasan adalah pilihan yang tak tepat. Mau ke Jombang juga
belum waktunya. Ke rumah mbak juga akan begitu-begitu saja. Pilihan terbaik
adalah pergi ke Blitar. Aku bisa melakukan banyak hal di sana tanpa berpikir
akan kehabisan bekal atau apa. Menghabiskan banyak waktu di pojok kantor Inkafa
sambil membuka laptop adalah pilihan yang baik. Namun aku terpikir bagaimana
jika yang di Gresik mencariku? Apa yang dicari dariku? Untuk kepentingan apa?
Majalah? Bukan waktunya lagi memikirkan majalah. Semua bisa kugarap dari
manapun.
No comments:
Post a Comment