Sunday, October 12, 2014

AKU HANYA SEORANG KERNET

Sabtu, 27 September

Sudah setahun lebih dua puluh hari aku berada di sini. Melihat, membaca, mendengarkan keadaan sambil sesekali berbicara kepada orang-orang yang tinggal di sini.
Semua berawal dari ketidaktahuanku yang diliputi oleh ego dan kebodohan hingga pada akhirnya hari ini aku merasa tahu apa yang harus kulakukan untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang.
Tentu, aku harus selesai dengan diriku sendiri sebelum berinteraksi dengan orang-orang baru di sekitarku. Kalau saja bukan karena pertolongan Tuhan berupa tekad untuk mengabdi barangkali aku sudah hengkang dari tempat ini. Tapi tidak, aku berusaha untuk tidak jadi pecundang walaupun suatu saat nanti aku harus dimusuhi oleh keadaan hingga menjadi terasing.
Hanya saja, ada satu kebiasaanku yang tiba-tiba menghilang di telan bumi sampai aku lupa dari mana harus kumulai. Kebiasaan menulis catatan harian dan membuat cerita telah ketenggelamkan dengan sengaja karena alasan naif, takut jika yang kutulis adalah didasari oleh nafsu.
Seharusnya bukan begitu caranya, tinggal bagaimana menenteramkan hari saat melakukan aktifitas tanpa harus menyingkirkan Tuhan dari lubuk hati. Hanya itu yang diperlukan.
Sekitar tiga minggu lalu aku berjumpa dengan salah seorang Kiai di daerah perbatasan Lamongan Gresik. Darinya, aku mendapatkan istilah yang menarik, bahwa keberadaanku di tempat ini tak lain hanyalah sebagai seorang kernet atau pembantu sopir.
Seorang kernet tidak dapat menentukan kemana arah jalan. Kernet hanya membantu sopir menaikkan, menata dan menurunkan penumpang jika tujuan telah sampai. Sedangkan penentu jalannya adalah seorang sopir. Mau melewati jalan pintas, jalur utama atau bahkan harus berhenti di tengah jalan.
Namun demikian, sopir yang berpengalaman adalah yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Dan seorang sopir tidak boleh lebih dari satu. Jika terjadi demikian maka tentunya akan terjadi perselisihan walau hanya sekedar mendebatkan rute mana yang harus dilewati atau berapa cepat mobil harus melaju.
Jika yang terjadi demikian, dimanakah posisi seorang penumpang? Bagaimana nasib mereka? Tentu akan ada banyak penumpang yang bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi di antara sopir yang lebih dari satu tersebut. Dalam hal ini, justru posisi seorang kernet yang penting. Dialah yang akan banyak ditanyai oleh penumpang. Maka mau tak mau, dia harus bisa menjawab dengan diplomatis, menenangkan penumpang sambil mungkin memberikan hiburan agar mereka tetap tenang sembari turut berdoa agar segera sampai tujuan dengan selamat walaupun terjadi perdebatan antar sopir.
Dalam hal ini, kernet juga berhak menjadi penengah antar dua sopir atau hanya sekedar menawrkan solusi yang tentu pasti akan dipakai para sopir atau tidak. Padahal di saat yang sama dia juga masih harus menenangkan para penumpang agar tidak terjadi makar.
Dan seterusnya dan seterusnya. Begitulah analogi tak berdasar analisis ilmiah tentang posisiku sebagai pengabdi di tempat ini. Aku bisa memutuskan tetap menjadi kernet atau naik jabatan jadi sopir jika sudah memiliki kendaraan sendiri maupun jika harus menjadi kernet kepada sopir lain.
Tentu akan menjadi hal yang ironis jika pada akhirnya para sopir saling bersikukuh dengan pendapat sendiri tanpa melihat bagaimana kondisi penumpang yang sudah kebingungan.

1 comment: