Sabtu, 27 September
Sudah setahun lebih dua puluh hari aku berada di sini.
Melihat, membaca, mendengarkan keadaan sambil sesekali berbicara kepada
orang-orang yang tinggal di sini.
Semua berawal dari ketidaktahuanku yang diliputi oleh ego
dan kebodohan hingga pada akhirnya hari ini aku merasa tahu apa yang harus
kulakukan untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang.
Tentu, aku harus selesai dengan diriku sendiri sebelum
berinteraksi dengan orang-orang baru di sekitarku. Kalau saja bukan karena
pertolongan Tuhan berupa tekad untuk mengabdi barangkali aku sudah hengkang
dari tempat ini. Tapi tidak, aku berusaha untuk tidak jadi pecundang walaupun
suatu saat nanti aku harus dimusuhi oleh keadaan hingga menjadi terasing.
Hanya saja, ada satu kebiasaanku yang tiba-tiba menghilang
di telan bumi sampai aku lupa dari mana harus kumulai. Kebiasaan menulis
catatan harian dan membuat cerita telah ketenggelamkan dengan sengaja karena
alasan naif, takut jika yang kutulis adalah didasari oleh nafsu.
Seharusnya bukan begitu caranya, tinggal bagaimana
menenteramkan hari saat melakukan aktifitas tanpa harus menyingkirkan Tuhan
dari lubuk hati. Hanya itu yang diperlukan.
Sekitar tiga minggu lalu aku berjumpa dengan salah seorang
Kiai di daerah perbatasan Lamongan Gresik. Darinya, aku mendapatkan istilah
yang menarik, bahwa keberadaanku di tempat ini tak lain hanyalah sebagai
seorang kernet atau pembantu sopir.
Seorang kernet tidak dapat menentukan kemana arah jalan.
Kernet hanya membantu sopir menaikkan, menata dan menurunkan penumpang jika
tujuan telah sampai. Sedangkan penentu jalannya adalah seorang sopir. Mau
melewati jalan pintas, jalur utama atau bahkan harus berhenti di tengah jalan.
Namun demikian, sopir yang berpengalaman adalah yang sudah
memiliki jam terbang tinggi. Dan seorang sopir tidak boleh lebih dari satu.
Jika terjadi demikian maka tentunya akan terjadi perselisihan walau hanya
sekedar mendebatkan rute mana yang harus dilewati atau berapa cepat mobil harus
melaju.
Jika yang terjadi demikian, dimanakah posisi seorang
penumpang? Bagaimana nasib mereka? Tentu akan ada banyak penumpang yang
bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi di antara sopir yang lebih dari satu
tersebut. Dalam hal ini, justru posisi seorang kernet yang penting. Dialah yang
akan banyak ditanyai oleh penumpang. Maka mau tak mau, dia harus bisa menjawab
dengan diplomatis, menenangkan penumpang sambil mungkin memberikan hiburan agar
mereka tetap tenang sembari turut berdoa agar segera sampai tujuan dengan
selamat walaupun terjadi perdebatan antar sopir.
Dalam hal ini, kernet juga berhak menjadi penengah antar dua
sopir atau hanya sekedar menawrkan solusi yang tentu pasti akan dipakai para
sopir atau tidak. Padahal di saat yang sama dia juga masih harus menenangkan
para penumpang agar tidak terjadi makar.
Dan seterusnya dan seterusnya. Begitulah analogi tak
berdasar analisis ilmiah tentang posisiku sebagai pengabdi di tempat ini. Aku
bisa memutuskan tetap menjadi kernet atau naik jabatan jadi sopir jika sudah
memiliki kendaraan sendiri maupun jika harus menjadi kernet kepada sopir lain.
Tentu akan menjadi hal yang ironis jika pada akhirnya para
sopir saling bersikukuh dengan pendapat sendiri tanpa melihat bagaimana kondisi
penumpang yang sudah kebingungan.
5 kage kalo istilah kami dulu hhe
ReplyDelete