Senin, 13 Oktobr 2014
Ketika sedang membaca zikir maghrib
semalam, ada perasaan yang membuatku berpikir jika memang segala kebaikan
datangnya hanya dari Allah maka seharusnya kebaikan yang kuminta harus
dikabulkan.
Kebaikan yang kumaksud bukan kebaikan yang nanti hanya
akan berefek pada masalah duniawi bukan. Kebaikan yang kuminta dari Allah
adalah yang berkaitan dengan ibadahku. Aku ingin setiap waktu yang kulalui
adalah ibadah. Hati yang selalu berzikir mengagungkan nama Allah bukan
sebaliknya kebaikan duniawi yang melalaikan ibadah. Tapi kenapa hal itu tidak
terjadi begitu saja? Apa doaku kurang tulus? Atau Allah punya penilaian lain
tentang doaku sehingga tak dikabulkan langsung?
Dalam suasana zikir juga aku
terpikir bagaimana jika jalan yang kuambil adalah seperti jalan para sufi?
Sibuk bersama Allah tanpa terlalu banyak meluangkan waktu bersama mahkluk
termasuk harus menjadi guru pondok seperti yang kualami saat ini? Bagaimana
jika kujalani hidup sebagaimana Jalaluddin Rumi atau Syaikh Abdul Qodir al-Jailani.
Menjadi Sufi pasti sangat berat.
Tapi setiap manusia bisa jika mau mengendalikan nafsu. Tapi apalah aku yang
lemah ini. Meminta agar selalu berhati khusyu’ pun tak lantas dikabulkan.
Sementara waktu semakin menipis untukku. Rasanya kurang tiga tahun lagi aku
akan mati. Tepat di usia 27 tahun nanti. Maka aku harus banyak meninggalkan
jejak terutama jejak tulisan.
Kembali pada topik yang masih
menjadi pertanyaan kemarin. Tentang kesalahan metodologis dalam mendidik baik
di sekolah maupun di pondok. Harus segera ditemukan kepastian metode agar bisa
segera membuat pendidikan sendiri. Tapi apa?
Aku terpukau dengan film-film
Hollywood. Semua dikerjakan secara sempurna. Akting, lighting, setting lokasi,
teknologi, khayalan, jalan cerita dan segala yang ada dalam film. Mengapa
bangsa barat sudah meninggalkan jauh peradaban Indonesia? Penyebab utama tentu
tak lain dan tak bukan adalah karena pendidikan.
Kesalahan yang dihadapi di
pendidikan sudah sangat mendasar. Aku terpikir jika suatu saat nanti punya anak,
aku tak mau menyekolahkannya biar nanti aku dan istriku yang mendidikanya
sendiri. Ah, terlalu banyak berkhayal. Tapi tak apa. This is my world. I don’t
care with eerything in my environmtment. Just do what must i do.
Aku malas mau membahas situasi di
sekitarku yang bagiku sudah tak karuan. Aku sendiri sudah merasa bahwa aku tak
lagi perlu melakukan perbuatan untuk kemajuan. Kemajuan macam apa yang memang
kuharapkan? Tak penting. Biarkan semua berlaku sebagaimana yang disuka. Aku
akan melakukan perbaikan hanya dengan orang yang mau.
Hari ini aku agak malas bicara. Aku
ingin banyak diam. Untunglah minggu ini waktunya ujian tengah semester. Aku pun
tak banyak bicara saat mengajar. Sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin aku
ingin banyak diam sebab dalam buku-buku tasawuf selain mengurangi makan
seseorang yang sedang mendalami ajaran tasawuf juga dianjurkan untuk tak banyak
bicara.
Memang sulit untuk melakukannya,
posisiku sebagai pengajar dan juga sebagai orang yang memang terlahir dengan
lidah yang suka berujar kata menjadi seorang pendiam tidaklah mudah. Akan
kucoba.
No comments:
Post a Comment