Thursday, October 16, 2014

JADI SUFI?

Senin, 13 Oktobr 2014

Ketika sedang membaca zikir maghrib semalam, ada perasaan yang membuatku berpikir jika memang segala kebaikan datangnya hanya dari Allah maka seharusnya kebaikan yang kuminta harus dikabulkan.

Kebaikan  yang kumaksud bukan kebaikan yang nanti hanya akan berefek pada masalah duniawi bukan. Kebaikan yang kuminta dari Allah adalah yang berkaitan dengan ibadahku. Aku ingin setiap waktu yang kulalui adalah ibadah. Hati yang selalu berzikir mengagungkan nama Allah bukan sebaliknya kebaikan duniawi yang melalaikan ibadah. Tapi kenapa hal itu tidak terjadi begitu saja? Apa doaku kurang tulus? Atau Allah punya penilaian lain tentang doaku sehingga tak dikabulkan langsung?

Dalam suasana zikir juga aku terpikir bagaimana jika jalan yang kuambil adalah seperti jalan para sufi? Sibuk bersama Allah tanpa terlalu banyak meluangkan waktu bersama mahkluk termasuk harus menjadi guru pondok seperti yang kualami saat ini? Bagaimana jika kujalani hidup sebagaimana Jalaluddin Rumi atau Syaikh Abdul Qodir al-Jailani.

Menjadi Sufi pasti sangat berat. Tapi setiap manusia bisa jika mau mengendalikan nafsu. Tapi apalah aku yang lemah ini. Meminta agar selalu berhati khusyu’ pun tak lantas dikabulkan. Sementara waktu semakin menipis untukku. Rasanya kurang tiga tahun lagi aku akan mati. Tepat di usia 27 tahun nanti. Maka aku harus banyak meninggalkan jejak terutama jejak tulisan.

Kembali pada topik yang masih menjadi pertanyaan kemarin. Tentang kesalahan metodologis dalam mendidik baik di sekolah maupun di pondok. Harus segera ditemukan kepastian metode agar bisa segera membuat pendidikan sendiri. Tapi apa?

Aku terpukau dengan film-film Hollywood. Semua dikerjakan secara sempurna. Akting, lighting, setting lokasi, teknologi, khayalan, jalan cerita dan segala yang ada dalam film. Mengapa bangsa barat sudah meninggalkan jauh peradaban Indonesia? Penyebab utama tentu tak lain dan tak bukan adalah karena pendidikan.

Kesalahan yang dihadapi di pendidikan sudah sangat mendasar. Aku terpikir jika suatu saat nanti punya anak, aku tak mau menyekolahkannya biar nanti aku dan istriku yang mendidikanya sendiri. Ah, terlalu banyak berkhayal. Tapi tak apa. This is my world. I don’t care with eerything in my environmtment. Just do what must i do.

Aku malas mau membahas situasi di sekitarku yang bagiku sudah tak karuan. Aku sendiri sudah merasa bahwa aku tak lagi perlu melakukan perbuatan untuk kemajuan. Kemajuan macam apa yang memang kuharapkan? Tak penting. Biarkan semua berlaku sebagaimana yang disuka. Aku akan melakukan perbaikan hanya dengan orang yang mau.

Hari ini aku agak malas bicara. Aku ingin banyak diam. Untunglah minggu ini waktunya ujian tengah semester. Aku pun tak banyak bicara saat mengajar. Sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin aku ingin banyak diam sebab dalam buku-buku tasawuf selain mengurangi makan seseorang yang sedang mendalami ajaran tasawuf juga dianjurkan untuk tak banyak bicara.

Memang sulit untuk melakukannya, posisiku sebagai pengajar dan juga sebagai orang yang memang terlahir dengan lidah yang suka berujar kata menjadi seorang pendiam tidaklah mudah. Akan kucoba.


No comments:

Post a Comment