Tanpa kurasa, ini adalah tahun kedua aku mengabdi di sini. Terhitung sejak tujuh September tahun lalu aku menjadi guru. Banyak hal yang merubah diriku dan yang paling kentara adalah ketenanganku selama berada di sini. Ketenangan itu telah mempengaruhi berat badanku. Kini bobotku lebih dari lima puluh kilo. Sewaktu kuliah aku sangat kurus kecuali setelah KKN. Karena terlalu kurus, berat badanku tak mencukupi syarat untuk bisa ikut donor darah yang diadakan di kampus. Sedang selama di sini pola makanku sama. Kadang tak sarapan. Kalau malam hanya makan mie instan. Tentu berat badan yang bertambah bukan disebabkan makan tapi ketenangan yang kudapatkan di sini. Kegiatan yang sudah teratur, kegiatan ibadah yang terjamin meski aku tak rajin jamaah dan aktifitas mengajar ilmu agama yang menambah pengetahuanku. Sebagai guru bukan berarti aku sudah tahu ilmu yang kuajarkan. Justru aku banyak belajar dari mata pelajaran yang ditanggungjawabkan kepadaku. Kepala sekolah mempercayaiku untuk mengajar tauhid, Sejarah dan PKN. Tiga mata pelajaran sekaligus. Aku lah satu-satuya guru yang diberi amanat menjadi guru agama dan guru pelajaran umum (aku masih belum setuju dengan dikotomi antara ilmu agama dan umum. Menurut pandanganku semua sama. Ilmu dapat dijadikan sarana untuk ibadah) Setelah kupikir-pikir mengapa Tuhan meletakkanku di sini. Kudapatkan kesimpulan yang sederhana. Aku di sini agar bisa terus belajar lagi dan banyak membeli buku untuk dibaca di lokasi yang cukup tenang. Dan demikian kenyataannya. Koleksi buku tambah banyak. Aku bisa lebih banyak beli buku disbanding waktu kuliah dulu. Buku yang banyak tentu menyenangkanku dan menenteramkan batinku. Hei, ada hal lain yang buatku tenang disbanding tahun lalu. Aku sudah tahu medan. Aku bisa mengambil keputusan bagaimana sebaiknya aku bersikap selama di sini. Bukan hanya itu, pakaianku sudah ada yang mencucikan. Para pembersih ruanganku dan pencuci bajuku adalah sekelompok santri hebat. Aku memberi mereka upah karena membersihkan kamar dan bajuku. Sejak dulu, aku memang malas membersihkan baju kotorku. Santri-santri hebat itu kuanggap anak-anak ideologisku yang luar biasa. Mereka sedikit demi sedikit kuubah pola pikirnya menjadi sosok yang lebih dewasa dibanding usianya. Aku tak mengharap pamrih untuk masalah satu ini. Aku bangga dengan mereka. Ada Khusnul hebat yang pandai melukis, membuat komik dan sekarang dia sudah mulai bisa desain di potoshop dan corel draw. Dia melampauiku dalam hal ini. Ada Gibran yang pandai mengarang cerpen. Dia mampu merangkai kata-kata indah bahkan beberapa susunan katanya mengalahkanku. Ada Irham yang kalem dan dari fisiknya menampakkan sosok yang cerdas. Ada Syukron yang punya bakat jadi ‘tukang’. Sama dengan Muqorrobin, ia juga mulai belajar menulis. Dan masih banyak lagi santri berbakat tapi jarang ke kamarku. Yang masih kelas satu dan calon pengganti mereka adalah Anang. Anak berbakat, cerdas, pandai menulis, hafalan cepat dan masih malu-malu. Terkadang aku memarahi anak-anak ideologisku agar mereka lebih giat dan lebih produktif lagi sebagai pemuda. Dalam hal kebersihan, pemikiran, kedisiplinan dan pengetahuan tentunya. Dalam hal tulis-menulis aku sampai jengkel karena lelah mengingatkan mereka tentang kesalahan penulisan koma, titik, huruf besar, kata sambung dan lainnya. Dalam hal kebersihan apalagi. Mereka belum terdidik untuk memiliki mindset hidup bersih. Dalam masalah pengetahuan, aku meminta mereka membaca bku-buku yang kubeli asal dibaca di kamar. Aku tak suka jika buku itu dibawa ke kamar lalu kembali dalam keadaan rusak. Sampai aku harus membelikan mereka kamus ilmiah popular agar mereka bisa memahami istilah-istilah ilmiah. Sebanarnya juga agar aku tak menjawab pertannyaan mereka sekananya bukan makna aslinya. Aku sendiri kadang merasa kesulitan memahami.
No comments:
Post a Comment