Ini bukan tentang manusia purba atau benda-benda bersejarah. Ini tentang mantan yang kusebut dengan fosil. Jika fosil benda-benda bersejarah terpendam ribuan tahun dalam tanah, mantan adalah fosil yang mengerak di dalam hati. Ada kalanya fosil menjadi hal penting ada kalanya tidak. Ada banyak fosil yang terpendam, terselip dalam relung hati. Kisah-kisahnya banyak yang terlupa olehku karena sebetulnya tidak semua fosil itu menjalin hubungan karena kudasari dengan cinta. Aku tak mudah jatuh cinta tapi mudah mengagumi kecantikan orang lain. Cantik selalu menarik. Hei, fosil yang akan kubahas di sini adalah yang terpendam di kubangan hati sekitar tiga tahun lalu. Di luar dugaan, ada cerita yang membuatku tersentak untuk menuliskannya. Liburan idul fitri kemarin aku ngobrol dengan emakku. “Z, L saja sudah mau punya anak kok.” Begitu kata emakku. Kemungkinan emak tahu dulu aku pernah pacaran dengannya. Suatu ketika saat aku akan pergi ke Tuban, tanpa kusengaja aku satu bis dengan tetanggaku yang rumahnya dekat denganku. Mereka tahu aku sedang bersama L yang manis dan tampak agamis itu. Tak mungkin mereka diam. Tentu mereka bercerita kepada orang tuaku. Buktinya, setelah L menjadi fosil, Emak sering menyindir tentang L. Terakhir tentang kehamilannya itu. Ada yang tidak wajar dengan pernikahan L. Dia masih punya kakak perempuan yang masih kuliah dan belum menikah. Secara tiba-tiba L menikah melangkahi kakaknya. Aku tak berpikir macam-macam. Aku tahu bagaimana dia menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki. Dia juga anak tokoh agama. Ibunya adalah salah satu pemimpin kegiatan muslimat NU di desa. Tak mungkin dia berbuat mesum dengan lelaki. Setelah jadi fosil, L pernah mengirim pesan singkat. Bisa jadi karena kangen atau karena sebab lain.Aku pernah bertanya kepadanya siapa kekasihnya. “Dia kuliah atau masih kerja?” “Sudah kerja.” Setahuku, pacarnya juga salah satu pemimpin organisasi keagamaan pemuda di kecamatan Babat. Mana mungkin mereka berbuat zina. Mereka sama-sama tahu agama. Tidak mungkin melakukannya. Pernikahannya pasti karena sebab lain. Pernikahannya bukan karena zina tapi untuk menghindari zina. Suatu malam, setelah hari raya idul fitri, pemuda-pemuda desaku sedang berkumpul. Seperti biasa, membicarakan perempuan pasti jadi salah satu tema menarik tanpa ada habisnya. Obyek pembicaraannya kali ini adalah tentang gadis-gadis desa. Ada juga yang sempat menyinggung mantan-mantan mereka masing-masing. Ada yang sudah menikah ada yang belum. Ternyata L tidak lepas dari obyek pembahasan. Ada saja yang tahu aku pernah pacaran dengannya. Ada satu kalimat yang dulu kuanggap tidak penting namun lama-lama menjadi salah satu puzzle yang melengkapi jawaban atas pertanyaanku. “Kalau L. Aku sering lihat dia dibonceng pacarnya waktu masih sekolah dulu.” Aku cukup jadi pendengar sambil menikmati ikan bakar. Apa maksud ucapannya aku tak tahu. Kalimat itu biasa-biasa saja. Tak ada yang special. Beberapa hari kemudian aku baru sadar setelah puzzle lengkap. Adik perempuanku, Fifin memperjelas teka-teki yang belum bisa kuungkap. Dia bilang padaku saat asyik di depan tv. “Mas, L sudah menikah. Dia hamil duluan sebelum nikah.” Hei, tentu aku kaget mendengar cerita ini. Cerita ini hanya gossip atau benar adanya. Baiklah akan kujawab sendiri. L baru saja menikah. Emak bilang, dia sebentar lagi punya anak. Sebenarnya aku pura-pura tak hirau saat Emak bercerita tentang L. Apa manfaatnya membahas fosil. Apalagi fosil yang sudah dinikahi orang. Cerita teman waktu malam-malam bakar ikan bersama pemuda tentu jadi pelengkap atas jawabanku. Dari cara bercerita, tentu dia ingin mengungkap pesan bahwa wajar jika L hamil duluan sebab diam-diam dia sering bersama pacarnya. Dan pernyataan adikku adalah penyempurna. L menikah karena zina bukan menikah untuk menghindari zina. Selesai. Barangkali sampai detik ini dialah fosil yang bisa membuatku ‘terpukau’. Walau aku sendiri tak tahu dengan fosil-fosil lain. Aku tak ingin menerka-nerka.
No comments:
Post a Comment