Aku tak banyak tahu ilmu biologi, khusunya tentang genetika dan hormon. Apa dua hal itu berbeda sama sekali atau bersangkut paut. Sering kubaca di akun twitter fakta google tentang hormon. Ada banyak hormon yang kuanggap aneh. Tak ada hormon tersebut dalam pelajaran biologi waktu Tsanawiyah dulu. Seunik apapun fakta google, aku belum menemukan fakta tentang hormon cemburu. Apa hormon itu bisa meningkat dengan cepat jika ada orang lain sedang membicarakan orang yang kita cintai? Apa hormon cemburu juga punya hubungan dengan hormon cinta. Mungkinkah antara cemburu dan cinta berbanding lurus? Yang kurasakan memang begitu. Kalau aku sudah menyukai seseorang, aku akan cemburu jika ada orang lain yang membahasnya. Cemburu itu juga hilang dengan sendirinya saat cinta itu musnah sebagaimana saat salah seorang pemuda di kampungku membahas L. Seandainya fosilku itu masih jadi pacarku, lalu ada yang menceritakan bahwa seorang lelaki memboncengnya, tentu akan ada kecemburuan yang menguras hati. Dan itu tak terjadi. Aku biasa-biasa saja saat mendengarnya meski masih juga aku berpura-pura seolah tak pernah menjalin hubungan dengan menikmati ikan bakar. Kecemburuan memang menguras hati seperti dalam lagu Vidi Aldiano. Tapi, hei, sejak kecil aku sudah bisa naksir teman cantik di kelasku. Aku ingat pernah suka pada Hen. Dia sekarang sudah menikah dan punya anak. Seingatku belum ada perasaan cemburu. Pertama aku merasakannya saat SD. Aku lupa sejak kelas berapa. Waktu Tsanawiyah dan Aliyah seringkali rasa cemburu itu datang jika gadis yang diam-diam kusukai juga disukai orang lain. Terkadang dari rasa cemburu itu aku bisa marah tanpa kejelasan. Bagaimana tidak? Aku cemburu pada seorang gadis yang bukan siapa-siapaku. Lama-lama aku mulai bisa mengontrol diri agar tidak terlalu cemburu. Menahan rasa cemburu juga butuh latihan. Dan tadi pagi aku dibuat cemburu. Pada siapa? Jawabannya tidak sekarang.
No comments:
Post a Comment