Aku harus berterima kasih banyak kepada Nurjannah, pembaca tulisan-tulisanku di blog. Ia memberikanku semangat baru untuk kembali, kembali mencatat sejarah hidup yang kualami selama berada di pesantren. Aku sudah lupa apa penyebabku tak lagi menuliskan cerita selama berbulan-bulan. Sungguh aku sendiri yang merugi tak bisa merekam jejak-jejak hidupku sendiri. Aku pernah mengatakan pada diriku sendiri dan pada orang lain. Kalau bukan diri sendiri yang menulis cerita, lalu siapa lagi? Aku akan melakukan balas dendam. Seharusnya memang seperti itu. Akan kutulis semua yang terlah berlalu selama berbulan-bulan ini. Kalau bisa dalam waktu semalam dan malam-malam berikutnya. Nurjannah, teman dunia maya kukenal sejak lama. Sekali pun aku tak pernah menemuinya. Pertama kenal pun aku sudah lupa kapan waktunya. Yang masih kuingat, ada hal yang bisa membuatku dengannya cepat dekat. Harry Potter dan Yovie Widianto. Aku dan dia sama-sama mengagumi film Harry Potter hingga banyak menghafal tentang cerita, tokoh-tokoh hingga mantra-mantra sihir. Aku sendiri lupa sejak kapan suka film yang berlatarkan sihir itu. Dulu waktu masih duduk di MTsN, banyak teman-temanku mendiskusikannya tapi aku tak tahu sama sekali. Seolah dulu Harry Potter hanya dikonsumsi teman-temanku yang kaya sedang aku anak desa yang miskin mana tahu film-film Harry Potter apalagi buku-bukunya. Lalu karya-karya Yovie Widoanto juga menjadi bahasan yang menarik saat aku dan Nurjannah saling menulis komentar di facebook. Mulai dari lagu-lagu Kahitna, jadwal konser, lagu Yovie Nuno dan lain sebagainya. Musik memang universal. Aku di sini dan Nurjannah di Jawa Barat sana bisa saling kenal karena selera music yang sama walaupun tidak sama seluruhnya. Sampai saat ini aku tak pernah sekali pun bertemu dengannya. Hanya tahu dari facebook, sms dan whatsapp. Aku ingat dia mengaku sedih saat aku memutuskan untuk tidak lagi aktif di facebook. Seperti beberapa teman lain yang rindu dengan tulisan-tulisanku di status. Kata mereka menarik. Aku sendiri memutuskan untuk meninggalkan facebook karena semakin merasa waktuku terbuang. Apalagi membaca tulisan status maupun komentar orang-orang yang kuanggap kurang cerdas. Aku pun beralih ke twitter. Bukan karena ingin menyalurkan hasrat untuk menulis. Jujur setelah tak aktif di facebook, kemauanku menulis merosot sedikit demi sedikit. Sementara di twitter aku lebih banyak membaca tulisan-tulisan orang yang inspiratif mulai dari tokoh agama, politisi, ahli hukum, sastrawan, budayawan atau hanya sekedar komedian. Kutemukan manfaat lain di dunia maya yang jauh berbeda saat masih aktif di facebook. Dulu banyak menulis kini banyak membaca. Dan Nurjannah tiba-tiba datang menyapaku di kala petang dengan cara yang menarik. Dia membuatku terusik dan akhirnya aku kembali menulis. Tuhan punya cara mengembalikan umatnya untuk kembali menulis. Aku merasa kembali.
No comments:
Post a Comment