Friday, November 22, 2013

GENERASI

Tuhan mengingatkan umatnya untuk tidak melupakan nasib generasinya. Peringatan itu tercantum dalam ayat Quran. Aku lupa bagaimana ayatnya. Walaupun hanya ada satu ayat, peringatan ini perlu dihayati dan dilaksanakan. Aku pernah bergelut dalam sebuah organisasi yang seringkali mengumandangkan slogan ‘perkaderan’. Aku sempat tak paham dengan kata-kata itu. Dari segi kata-kata memang bisa diartikan dengan sederhana sebagai proses regenerasi. Yang tak sepenuhnya kupahami adalah dalam ranah prakteknya. Di akhir periode pengurusan ada Rapat Anggota sebagai keputusan tertinggi dalam organisasi. Di dalamnya ada LPJ dan dilanjutkan pemilihan ketua baru. Yang paling seru dalam rangkaian acara tersebut adalah Laporan Pertanggungjawaban. Semasa menjadi anggota organisasi tersebut, Rapat Komisariat yang paling lama adalah saat masa pengurusanku. Yang menjadi bulan-bulanan para anggota dan para senior adalah ketua umum. Aku sampai kasihan kepadanya. Banyak senior yang menghakimi bahwa dia tak becus menjabat ketua umum. Memang kenyataannya demikian adanya. Dia kurang cakap menjadi ketua umum. Tapi aku tak meragukan komitmennya sebagai ketua. Dia sudah bekerja keras sayang tak didukung dengan kualitas intelektual yang memadai. Di saat LPJ di mana banyak senior yang menyalahkan kinerja pengurus seolah mereka tak menghormati hasil kerja selama setahun. Semua kesalahan diutarakan mulai dari administrasi perbendaharaan, pelaksanaan program kerja sampai hal-hal detail lainnya. Aku sempat melihat ketuaku membela diri dengan terbata-bata hampir menangis. Sungguh pengadilan yang menyeramkan. Lebih menegangkan dari ujian skripsi. Aku sendiri sempat ikut emosional dengan para senior. Mengapa jika ada kesalahan selama bekerja dalam organisasi tidak diluruskan langsung saat mereka melihat tidak dalam forum seperti ini? mengapa mereka hanya diam saat melihat kesalahan kami? Pertanyaan-pertanyaan itu baru kujawab lama setelah aku tak aktif dalam organisasi mahasiswa tersebut. Aku menemukan jawabannya setelah berada di sini. Kulihat banyak mahasiswa yang usianya sama dengan usiaku dulu saat kuliah masih belum mampu menyampaikan idenya dalam agenda-agenda organisasi. Mereka hanya menjadi pesuruh tanpa banyak menyumbang ide dan pelaku kerja. Jawaban itu kutemukan. Mengapa seniorku dulu tidak mengingatkan. Karena mereka ingin melihat adik-adiknya bisa membuat program sendiri, mengadakan seminar, mengadakan diskusi dan segala agenda lainnya tanpa melakukan intervensi. Baik buruknya kegiatan yang dirancang oleh para pengurus merupakan wujud keberhasilan atau kegagalan mereka. Kalau berhasil, kepengurusan mereka berhasil. Jika gagal artinya memang sebatas itu kemampuan mereka. Dan boleh jadi itu juga termasuk kegagalan para senior saat mereka jadi pengurus karena tak bisa mempersiapkan generasi. Jika demikian adanya, maka senior mana pun baik yang statusnya masih jadi mahasiswa maupun sudah jadi dosen memang tidak berhak ikut campur dalam kepengurusan. Status senior adalah menjadi anggota atau peserta dalam semua kegiatan. Bukan berarti senior diam saja. Tentunya mereka banyak melakukan koreksi meski tidak langsung mengingatkan. Biasanya, peringatan itu baru akan disampaikan saat Rapat Anggota. Kembali pada kenyataan yang terjadi di sini. Apa yang terjadi? Ternyata masih banyak yang menggantung pada guru bahkan pengasuh. Mereka belum berani melaksanakan kegiatan tanpa campur tangan para guru. Bagiku ini perlu diluruskan. Mahasiswa atau santri perlu diberi kepercayaan untuk melaksanakan kegiatannya tidak hanya jadi pesuruh tapi juga pemilik ide dan bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan. Biarkan guru dan pengasuh menjadi penikmat saja. Tak perlu kontrol yang ketat. Cukup diawasi. Budaya seperti inilah yang ingin kubangun di sini. Generasi muda harus mampu menjadi pelopor dalam setiap kegiatan di pondok. Apapun kegiatannya. Aku telah memulainya dari hal-hal kecil mulai dari pengurus mading, majalah, IPNU-IPPNU dan pengurus asrama. Setiap rapat kubiarkan mereka saling bertukar pikiran sedang aku hanya hadir tanpa ikut campur. Walhasil mereka bisa. Semua ide bisa mereka tuangkan dalam kertas lalu mereka ketik selanjutnya mereka laksanakan. Hasilnya cukup memuaskan. Bahkan untuk urusan mading, mereka sukses besar. Justru caraku mengaktifkan mading hanya dengan mengandalkan orang itu-itu saja kuanggap gagal. Mereka lebih sukses dengan caranya sendiri yakni mengadakan pertandingan antar kelas. Ideku gagal karena ternyata mading di bawah pimpinan Syukron berhenti di tengah jalan. Foto waktu rapat pertama masih terpajang di kantor tapi madingnya tak ada. Sekarang mading yang sukses itu di bawah pimpinan Gibran. Dan aku tak menafikan peran Shofa. Mahasiswa santri putri yang ikut berperan besar dalam proses ini. Gibran dan Shofa lebih bisa mengontrol dengan baik walau sesekali perlu diberi masukan. Yang perlu dipikir lagi adalah generani berikutnya. Siapa pemimpin mading pasca Gibran. Sekarang dia sudah kelas tiga. Artinya sebentar lagi dia lulus. Aku masih meragukan peran Irham jika dijadikan pimpinan. Dia memang cerdas namun leadershipnya belum teruji. Dia wakil ketua IPNU. Sejauh ini aku tak melihat perannya dalam organisasi siswa SMA tersebut. Keberanian dan kecakapannya menjadi pemimpin harus dipersiapkan untuk tahun berikutnya agar keberhasilan ini berhenti karena tak ada generasi. Proses regenari tidak hanya terjadi dalam sebuah organisasi. Semua aspek kehidupan punya generasi dan harus ada regenerasi agar kehidupan ini tak berhenti. Hei, bahkan Islam mengajurkan pernikahan salah satu tujuannya adalah untuk regenerasi. Kalau kembali pada kisah Solik aku jadi ingat bagaimana grup sholawat di desaku mati. Penyebabnya karena tak ada regenerasi. Aku masih terlalu muda utuk memikirkan hal itu. Usiaku sekitar 15 tahun saat meninggalkan desa untuk menuntut ilmu di pondok. Sementara pelatihku harus menikah dan meninggalkan desaku. Pelatihku itulah yang hebat. Selama masih berada di desa, dengan sabar dan ulet mampu melakukan regenerasi dengan baik. Di desa barunya pun grup sholawatnya berkembang jauh lebih pesat. Sementara di desaku sudah mati. Penyebabnya tak ada regenerasi. Pernah dulu salah satu anggota grup setingkat di atasku meninggal sehingga aku terpaksa menggantikannya walaupun kemampuanku jauh dari kata layak. Itu lebih baik dari pada tidak ada pengganti sama sekali. Nampaknya masalah regenerasi ini juga akhirnya berdampak pada grup band Solik. Kalau tak ada generasinya, pasti band itu akan mati mengikuti jejak Solik sebagai basisnya. Oh tentu ini sangat menyedihkan. Dari banyak kisah di atas, wajar jika Tuhan mengingatkan umatnya agar memperhatikan generasi masa depan.

No comments:

Post a Comment