Tuesday, February 7, 2012

Senin, 06 Februari 2012

Pelatihan falak terakhir di pondok Mambaus Sholihin menyenangkan dan mengesankan. Sebelum pelatihan mulai aku dan teman-teman Farabi Institute menyempatkan diri sowan ke Kiai Masbuchin. Dengan berbahasa Arab beliau banyak member pesan untuk kami. Beliau berharap agar kami bisa memperjuangkan agama Islam.
Kata Kiai, tidak ada dikotomi antara ilmu agama maupun ilmu umum. Semua ilmu jika bermanfaat maka akan membawa semua orang untuk dekat kepada Allah Swt. Tafaqquh fiddin adalah hal terpenting bagi semua santri tak terkecuali mahasiswa santri berprestasi. Dengan tafaqquh fiddin, maka santri bisa jadi pejuang-pejuang Allah. Kira-kira itulah pesan yang diberikan Kiai.
Tak hanya itu, tadi Kiai juga menyinggung agar aku bisa kuliah S2 langsung. Aku langsung menjawab tentang kebijakan departemen agama untuk mengabdi di pondok asal. Kiai lalu diam. Kukira Kiai tak tahu kebijakan itu. Itu tak terlalu penting. Ada satu hal yang masih mengganjal. Kiai minta kompas arah kiblat untuk memudahkan beliau dalam perjalanan. Aku tak bisa menyanggupinya karena alat yang kami bawa bukan milik pribadi. Insya Allah aku akan membawa untuknya di lain waktu.
Pelatihan hari ini sudah masuk ke ranah perhitungan. Baik arah kiblat maupun waktu sholat. Awalnya aku ragu dengan para santri karena jargon mereka adalah santri tulen yang jarang pegang kalkulator, jarang berhitung dan rata-rata tidak suka dengan Matematika. Ketika perhitungan kiblat, dugaanku benar. Fiki sebagai pemateri merasa kesulitan dalam menyampaikan begitu pula para pendamping.
Perhitungan arah kiblat selesai kira-kira pukul sepuluh. Setelah itu para santri diajak untuk praktek langsung. Ketika itu pula sekolah sedang istirahat sehingga banyak santri yang bukan peserta ikut berkumpul di halaman pondok saat kami mencoba mengecek arah kiblat dengan rashdul kiblat dengan dibantu Mizwala.
Setelah Dhuhur baru perhitungan waktu sholat. Afrijal mengisi materi dengan gaya kocak. Para santri sudah akrab dengan kalkulator. Lama-lama dugaan awalku salah, mereka bisa mahir seketika dalam perhitungan falakiyah meski beberapa sampai tertatih-tatih.
Pelatihan selesai sekitar jam empat. Kami segera berkemas untuk menuju Surabaya. Sayang mendung gelap menurunkan air. Perjalanan agak terganggu. Tapi ada rahasia yang sudah disetting Allah. Ketika alat transportasi hanya dua sepeda motor. Secara tak sengaja, Miftah, rois amm berjumpa Afrijal di jalan. Saat itu Afrijal sedang menunggu angkot. Miftah mendekati mereka dan mengatakan bahwa kami akan diantar menggunakan mobil pondok. Lagi-lagi Farabi Institute merasakan bukti kekuasaan Allah. Mudah-mudahan ini bukan pengulu-ngulu dari Allah Swt.
Sekarang aku sudah berada di Surabaya untuk menyipakan pelatihan besok. Dan setelah beberapa waktu disibukkan oleh aktifitas pelatihan, akhirnya malam ini aku bisa menikmati malam bersama Kahitna.

No comments:

Post a Comment