Farabi Institute sudah sampai di Mambaus Sholihin. Awalnya sempat terjadi ketidakjelasan dari pihak pondok sebab penanggungjawabnya kabur. Padahal dia orang yang sangat kupercaya. Aku juga tak percaya kekaburannya. Dia orang cerdas dan sudah sarjana. Tak mungkin dia melakukan hal sebodoh itu. Parahnya dia tidak memberikan penjelasan kepada teman-temannya. Dia kabur begitu saja.
Sebelum berada di pondok, aku sudah pasrah kepada Fiki. Aku percaya dia bisa berkoordinasi dengan temanku yang kabur tadi. Tapi ternyata Fiki tak bisa. Dia berkali-kali memintaku segera ke pondok di saat aku menunggu jemuran bajuku kering. Akhirnya aku terpaksa berangkat ke pondok dengan pakaian yang belum sempurna kering.
Sesampai di pondok, aku masih mencoba menghubungi Fatah, temanku yang kabur. Masih tak ada hasil. Tak ada satu pun yang tahu. Fiki dan aku sempat berbeda pendapat tentang Fatah. Aku percaya dia sepenuhnya. Sedang Fiki ragu. Itulah ciri khasnya. Selalu ragu dan tak mudah percaya pada apapun sebelum melihatnya secara langsung.
Untungnya masih ada Daniel dan Ghofur yang bisa diberi tanggungjawab. Kedua anak itu harus mempersiapkan pelatihan dalam waktu yang sangat singkat dengan dibantu oleh Hakim dan beberapa orang. Ketika mereka sedang bersiap-siap, tim Farabi sedang berada di luar pondok.
Sekitar jam sembilan, aku dan teman-teman menuju lokasi pelatihan. Ada dekorasi kecil bertuliskan "Pelatihan Falak bersama Farabi Institute". Di depannya ada proyektor yang dipancarkan ke bekas banner. Pemandangan itu dipercantik dengan ex banner Farabi yang kami bawa. Pesertanya hanya sekitar dua puluh lima santri.
Pembukaan acara tidak dihadiri satu pun ustadz. Rois Ammnya pun datang terlambat. Pembukaan dilakukan secara singkat. Seperti biasa aku mengenalkan apa itu Farabi Institute dengan sedikit membicarakan tentang pengalamanku di Mambaus Sholihin. Pengisi materi pertama aku sendiri. Aku bisa menjelaskan dengan lancar namun yang mengagetkanku adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan santri. Meski dua puluh lima orang saja, semua pertanyaannya kritis-kritis sekali. Namun sudah bisa ditebak bagaimana pola pikir santri. Paradigmanya masih fikih oriented yang masih banyak pengandaian. Aku mengalami kesulitan menjawab. Untungnya teman-teman Farabi membantu menjawab pertanyaan. Dan peserta bisa menerima.
Rois Amm baru memberi sambutan di akhir acara. Miftah berusaha sedikit berbicara pengalamannya tentang falak.
Hari kelima ini, kami kehilangan satu orang. Muhammad Ramdani, dia harus pulang karena sakit saat hari kedua di Paciran. Hari kedua di Paciran kosong. Pelatihan dipersingkat pada hari Jumat tanggal 3. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk pulang dan bertemu dengan Indah. Dia datang dari Solo, ke rumah buliknya.
Dan hari ini, Syarif harus istirahat. Dia sakit. Aku tadi juga merasa kalau aku akan sakit. Tapi setelah makan di rumah Fiki, suhu hangat di kepalaku hilang. Mudah-mudahan aku bisa sehat hingga akhir pelatihan.
Tuesday, February 7, 2012
MINGGU, 5 FEBRUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment