Tuesday, February 7, 2012

JUMAT, 3 FEBRUARI 2012

Hari ketiga pelatihan. Farabi Institute berada di pesantren Al Ishlah Paciran Lamongan. Sebelum pelatihan dimulai aku sempat meragukan kesiapan pihak pondok karena kurang koordinasi. Akan tetapi karena bantuan Lukman dan Alvian semua teratasi.
Pondok Al Ishlah adalah pondok Muhammadiyah yang diasuh oleh Ustazd Dawam Sholeh. Ia alumni Gontor yang ingin membuat pesantren di desa Sendang Agung Paciran seperti halnya Gontor yang berdiri di atas semua golongan. Sayang niatnya tak keturutan karena di samping pondok yang dibangun dekat dengan sekolah Muhammadiyah. Orang-orang yang membantu perjuangannya juga orang Muhammadiyah sehingga pondoknya tak bisa berdiri di atas golongan. Santrinya akhirnya menjadi orang-orang Muhammadiyah yang bisa dibilang militan.
Perjuangan Ustazd Dawam sangat besar. Pondok yang didirikan pada tahun 1986 awalnya hanya memiliki santri sepuluh. Kesepuluh santri digembleng kedisiplinan, bahasa, kegiatan ektrakulikuler dan olahraga seperti Gontor. Kini, santri pondok mencapai ribuan.
Kulihat saat memberi sambutan pertama, Kiai dan santri berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris. Aku teringat lima tahunan yang lalu saat masih mondok di Mambaus Sholihin. Hampir semua acara menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Sekarang, aku sudah susah berbicara Arab maupun Inggris.
Apa yang kusampaikan saat sambutan sama seperti sambutan di ponpes As Sa'adah. Hanya saja tadi kurang ada tantangan seperti kemarin karena tak ada kepala KUA maupun MUI.
Setelah pembukaan selesai, aku dan Harir langsung pulang mengambil buku Falak yang diterbitkan Farabi Institute. Saat aku pulang, materi Fikh Arah Kiblat sedang berlangsung oleh Lukman. Aku tak tahu bagaimana kondisi lapangan tapi aku terus memantau. Aku ingin mencoba bagaimana mereka saat tak ada aku atau Harir. Ternyata benar. Teman-teman masih belum bisa dilepas langsung. Informasi yang kuterima saat kembali, semangat tim Farabi berkurang. Untungnya Ramdani bisa menyemangati lagi dengn gaya da'inya. Dia bilang Farabi Institute terus berjalan meski tak ada Aku dan Harir. Farabi berjalan karena kesadaran untuk berjuang untuk keilmuan Lillahi Ta'ala. Tak ada orientasi materi. Titik.
Setelah Ramdani bicara, Ridani mencoba menjelaskan kenapa kurang semangat. Kepergianku dan Harir dikiranya lari dari tanggung jawab. Ini karena kesalahanku tak izin dulu kepada semua. Hanya beberapa yang kuberitahu kenapa aku pulang.
Setelah Isya, kami kembali mengisi pelatihan. Agak terlambat dari jadwal awal karena santri ada jam makan. Hampir jam sembilan baru bisa dimulai. Penyampaian materi dipimpin oleh Ridani dengan metode pendampingan. Selain pemateri utama, semua anggota Farabi menjadi pendamping. Tugas pendamping terlihat lebih berat dari pada pemateri utama karena harus mengawal para peserta hingga bisa. Jadi semua bisa berjalan tanpa harus ada yang nganggur.
Santri Al Ishlah lebih mudah memahami dan menghitung karena basic Matematika yang mereka miliki sudah bagus. Namun tidak semua. Ada beberapa santri yang masih lambat dalam menghitung.
Ada fenomena yang unik dalam pelatihan ini. Bukan hanya peserta yang belajar. Tim Farabi Institute juga sebenarnya belajar disini. Bukan hanya belajar jadi pemateri tapi juga belajar menghitung Kiblat seperti peserta. Banyak yang mengakuinya. Begitu juga aku. Ini karena penyampaian materi oleh dosen tidak sama antar angkatan. Aku sebagai angkatan yang lebih tua tak diajari teori yang diberikan kepada adik kelas. Ini luar biasa. Semoga semua manfaat dan berkah untuk kemajuan Islam di masa mendatang. Amiiin.
Besok tak ada jadwal. Pelatihan di Al Ishlah dipersingkat agar tidak mengambil jadwal sekolah.

No comments:

Post a Comment