Aku tak sengaja memutar surat Fathir di hp yang kupinjam dari Mas Rifki. Kutemukan kesejukan, ketakutan dan terharu mendengar ayat-ayat Quran di malam hari. Akupun ketagihan ingin mendengar terus ayat-ayat quran sampai teridur sambil menelusuri pesan-pesan yang dapat kutangkap.
Damai yang lama tak kurasakan. Quran adalah syifa, obat hatiku meski hanya menikmatinya lewat indra pendengaran.
Tadi sore sempat kuikuti diskusi bersama dosen-dosen yang berkecimpung di dunia tafsir hadis. Diskusi yang efektif dan efisien sebab yang datang tidak tanggung-tanggung. Ada yang sudah doktor, bahkan rektornya pun datang. Aku menyamar sebagai mahasiswa Ushuluddin karena disuruh temanku. Memang diskusinya eksklusif khusus pengkaji tafsir hadis. Namun demikian, meski aku dari fakultas Syariah, sejak Aliyah aku sudah suka kajian tafsir sehingga tidak heran nilaiku di bidang tafsir bagus sekali. Buku peganganku dulu buku ilmu quran karangan Manna' Kholil al Qotton. Pernah juga membaca kajian tafsir tematik pak Quraisy Shihab yang hingga kini masih kukagumi dan kubaca karya-karyanya.
Dikusinya dibiayai kampus. Jadi snacknya tidak snack yang biasa kumakan saat diskusi di CDIS atau HMI. Seandainya HMI bisa mengadakan diskusi seperti itu mungkin pesertanya bisa lebih banyak.
Diskusi tadi hanya diikuti kurang dari dua puluh peserta. Tapi cukup efektif untuk membicarakan Hermeneutika alQuran. Pak Rektor, Muhibbin paling sering memberi komentar atas pemaparan pematerinya. Aku duduk di samping anaknya rektor yang telah lama kukenal. Kebetulan dia juga jurusan tafsir hadis sekelas dengan Fatah. Semoga diskusi itu bisa langgeng dan bisa menghasilkan ijtihad baru yang bermanfaat bagi umat. Aku ingin tadabbur surat Huud dulu. Malam sudah larut.
Friday, June 24, 2011
SENIN, 21 JUNI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment