Wednesday, June 8, 2011

MINGGU, 5 JUNI 2011

Sambil menunggu dimulainya seminar alangkah baiknya jika kulanjutkan kisah temanku kemarin.
Awalnya aku hanya menganggap apa yang ditulisakannya dalam catatan hariannya hanya sekedar fantasi biasa. Maka aku tak bisa menganggapnya sebagai kebenaran. Apalagi selama ini kisahnya hanya sepotong-potong. Terserah mau percaya atau tidak dengan kebenaran cerita ini. Begitu katanya.
Setelah kematian Nurul, temanku merasa harus segera mempersiapkan diri untuk menyambut Izrail. Entah apa sebab utamanya aku sendiri tak tahu. Dan aku juga tak mau menghubungkan ini dengan kanker otaknya yang masih meragukan sekalipun spekulasiku tentang kebenaran bahwa dia tervonis kanker itu mendekati angka 75 prosen.
Di Semarang dia masuk di sebuah pesantren dengan gaya gadis awam yang tak tahu bagaimana cara berpakaian muslimah yang baik. Saat itu Ramadhan sudah dekat. Dia merasakan dzauq, kenikmatan hati karena damai merasa dekat dengan Tuhan.
Dengan mudah dia bisa beradaptasi mengikuti kegiatan pondok. Ngaji, jamaah, tahajjud, berzikir dan kegiatan lainnya. Pengalaman spiritual itu membuat jiwanya semakin tenang. Rasanya apa yang dilakukannya di Yogya selama ini adalah dosa besar. Dosa yang harus segera dibersihkan dengan memohon ampunan pada Tuhan.
Tak jarang air matanya mengalir saat mengingat masa lalunya yang sia-sia. Astaghfirullah, seringkali kata-kata itu terucap dari mulutnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Memasuki bulan Ramadhan, kegiatan ibadah bertambah padat. Zikir di malam hari bertambah lama. Aktifitas ini membuat kondisi kejiwaannya semakin meningkat. Dia merasa kedekatannya pada Tuhan seperti tak berjarak lagi.
Tiap malam dia menangis karena dosa. Saat semua santri tertidur dia membaca zikir sambil menangis, terus menangis. Hingga pada suatu malam, sekitar pukul dua malam dia tertidur dalam zikirnya. Inilah permulaan kisah irasional itu. Katanya dalam tidurnya tadi dia merasa ada sosok berjubah hijau mendekatinya dan mengatakan
"Aku pinjam ruhmu" Temanku tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya manut pada sosok itu.
Sebelum kulanjutkan cerita yang msih belum bisa kuyakini kebenarannya, aku ingin menceritakan diskusiku dengan Aam dan Yusad di angkringan. Aam adalah santri alumni MBS. Dia kuliah di Universitas Negeri Malang. Kini dia sedang berlibur ke Semarang. Kami bertiga berdiskusi tentang tasawuf. Aku mencoba menanyakan pendapat mereka tentang pengalaman spiritual yang dialami temanku.
Kata Yusad pengalaman itu di Barat sedang diperdalam dengan sebutan Astral Projection. adalah suatu keadaan di mana jiwa kita melakukan perjalanan sendiri ke tempat lain, terpisah dari tubuh kita. Tapi ini bukan suatu mimpi, karena jika ditilik, jiwa kita benar-benar berada di tempat lain tersebut, dan bisa melakukan suatu aktivitas di sana.
Diskusi kita sangat lama, dengan background keilmuan yang berbeda tapi sangat bagus untuk proses transfer pengetahuan yang sangat bermanfaat. Yusad Ushuluddin, aku Syariah dan Aam, mahasiswa pendidikan Bahasa Arab yang menggandrungi dunia tasawuf. Aku mencoba memandang tasawfu secara kritis historis, Aam dari segi ajaran beberapa tokoh sufi dan Yusad dengan ilmu tafsir hadis yang diperolehnya di kampus.
Kulanjutkan ceritanya, setelah ruh temanku dibawa terbang memasuki alam lain.
Di alam lain dia dibawa dalam peristiwa yang menggambarkan kejadian setelah kematian. Tentang alam kubur, bangkitnya manusia dari kematian, tentang berubahnya wajah manusia sesuai amal ibadah dan lainnya. Peristiwa itu terlihat dengan jelas tanpa keraguan. Dia melihat kejadian-kejadian itu dengan mata kepalanya. Dia takut luar biasa meski di depannya masih ada sosok berjubah hijau sedang menuntunnya
Setelah peristiwa itu ruhnya dikembalikan ke jasad. Sosok hijau itu bilang "kukembalikan lagi ruhmu" temanku tersadar, dia takut luar biasa. Dia rasa sudah mati karena ruhnya habis dibawa sosok hijau itu. Kira-kira seperti itulah pengalaman spiritualnya. Secara rasional kebenaran cerita itu masih meragukan. Tapi temanku merasakan itu seperti benar-benar nyata.

No comments:

Post a Comment