Tak apalah. Sudah saatnya aku bosan pada dialektika perasaan yang terjadi pada diriku akhir-akhir ini. Waktunya untuk menegaskan langkah dan menentukan hati.
Aku harus bisa mengatakan dengan tegas bahwa aku adalah kader diriku sendiri. Bukan kader siapapun. Bukan pula kader Allah karena aku tidak nabi. Pengembangan kualitas spiritual, intelektual dan emosional aku sendiri yang bertanggung jawab. Jika aku tidak memaksimalkan detik-detik yang kujalani maka rugilah aku.
Dalam suasana kepengurusan HMI yang hampir selesai, aku merasa terharu. Saat kuingat-ingat awal mula masuk HMI dan alasan untuk memasukinya hingga sekarang. Aku merasakan banyak perubahan dalam diriku terutama dalam cara berpikir dan bergerak. Aku teringat saat masih menjadi apatis dimana waktuku habis dengan sia-sia tanpa perubahan. Meski sejak dulu aku gemar membaca tapi dulu aku masih membatasi diri. Berbeda dengan sekarang saat aku mencoba mengenal Tuhan dengan akal tidak cukup secara doktrinal. Aku semakin peka dengan kondisi-kondisi perpolitikan meski tak mampu ikut andil di dalamnya.
Rasa gelisah sering kurasakan saat aku secara subyektif tingkat tinggi melihat kondisi di sekitarku yang tidak ideal. Bahkan aku berani berspekulasi tentang sebuah kebenaran dari kepingan aksioma-aksioma yang berserakan. Aku tak takut mengkritisi buku-buku yang kubaca kecuali alquran.
Wednesday, June 8, 2011
SELASA, 31 MEI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment