Wednesday, June 8, 2011

SELASA, 7 JUNI 2011

Tak apalah bilaku malam ini harus kecewa pada spekulasiku. Kuhanya bisa memaksaku untuk mengatakan pada hati bahwa dimanapun orang yang kusayangi sejauh apapun itu sebenarnya dia ada di hatiku. Namun tak bisa dipungkiri bahwa kuingin selalu ada di dekatnya. Atau paling tidak kubisa mendengar suara manjanya agar tenang raga ini mendengar tawanya. Mendengar nada-nada suaranya yang indah.
Pedih juga rasanya menjadi orang yang tak bisa memahami orang kusayangi. Pantasnya aku memang menjadi orang yang hanya mencintai bayangan, cinta sendiri.
Bagaimana bila aku memaksa berspekulasi menganggap orang yang kuhormati merebut wanita yang kusayang. Diam-diam menerkam hatiku dengan kuku-kuku tajam saat aku meratap dengan sekuat tenaga untuk menjadi sahabat dan partner yang selalu siap membantunya. Naif.
Seperti puisi yang pernah kubuat beberapa bulan lalu. Bahwa aku harus memaksa telinga dan hatiku menterjemahkan lirik-lirik romantis yang kusuka. Cinta Sendiri, Kau Ubah Hariku, Aku Dirimu Dirinya, Menanti, Cinta Sudah Lewat dan lainnya.
Kini ku merasakan tak bisa bergerak bebas sesuai kehendak sendiri. Aku dibatasi oleh sisi lain hatiku yang menyayangi orang lain tanpa harus ingin memilikinya.

No comments:

Post a Comment