Ini
hari kedua aku tinggal di Ibu kota. Hari kedua pula aku tak melihatmu setelah
malam itu, saat kau dengan mata berkaca-kaca memberiku cincin emas kesayanganmu
dan kuberikan tasbih besi untuk kau gunakan sebagai alat untuk mengingat Tuhan
saat kau merindukanku. Selalu saja begitu. Kau memberiku barang yang lebih
mahal dari yang kuberi. Sama seperti lima belas tahun yang lalu. Kau memberiku
makanan yang mahal dari apa yang kuberi saat bertukar kado di hari valentine
tahun 2001.
Malam
itu akan selalu kuingat, Sayang. Bukan karena baju warna tosca muda yang kau
gunakan atau kaca mata yang menutupi merah matamu karena menangis seharian. Tangisan
deras karena kesalahanku. Ya, aku salah sebab tak datang ke rumahmu. Sedang
kelembutan hatimu ternyata terlukai olehku secara tak sengaja. Kau anggap
ketidakdatanganku adalah ingkar janji yang sangat mengecawakanmu. Aku tersadar
kesalahan terbesarku setelah aku teringat aku pernah mengalami hal serupa. Maafkan
aku, Sayang. Maafkan aku.
Untung
saja pada akhirnya semua tersadar, bahwa kemarahan itu ada karena besarnya
cintamu padaku. Aku pun begitu memendam cinta yang agung padamu. Hanya
barangkali cara mengungkapkannya yang disalahpahami sehingga menimbulkan emosi.
Dan cinta sejati akan kembali walaupun banyak hal yang menghalangi. Peristiwa
kesalahpahaman kemarin adalah salah satu bentuk ujian bagi kita untuk lebih
kuat lagi menggenggam cinta akan ikatan menjadi kuat dan tak ada yang mampu
melepaskannya. Sampai tibalah waktu aku bilang padamu, I love You. Dan
kau menjawab dengan kalimat serupa. Kalimat yang pertama kali kita ucapkan
dalam perjumpaan walau kau tak berani menatap mataku.
Aku
sadar bahwa aku harus berhati-hati lagi dalam bicara atau menulis sesuatu sebab
aku tak ingin melukai hatimu. Dulu aku pernah begitu padamu sampai aku merasa
bahwa lagu Sheila on 7 yang berjudul Bila Kau Tak Di Sampingku adalah
penggambaran perasaanku padamu. Bahwa tak seharusnya kita berpisah, tak
seharusnya kita bertengkar karena diriku masih butuh kau. Terlalu bodoh untuk
diriku menahan berat jutaan rindu apalagi menahan egoku. Maafkanlah sikapku,
lupakanlah salahku. Takkan kubiarkan kau terkikis, takkan kubiarkan kau
menangis karena perasaanmu terluka oleh ucapanku. Maka jika itu terjadi,
maafkanlah semua sikap kasarku, sebab aku tak bermaksud untuk melukaimu. Aku
hanyalah orang yang penuh rasa cemburu bila kau tak di sampingku.
Ingatkah
lagu itu, Sayang? Lagu yang kuhafalkan dengan susah payah sebab dulu tak ada
aat pemutar MP3. Jika ingin melihat video klip lagu itu, aku harus ke rumah
tetangga sebab aku tak mempunyai tivi di rumah. Ternyata lagu itu masih relevan
hari ini.
Sayang,
pemberian cincin dan tasbih malam itu menjadi salah satu petunjuk bahwa sejak
dahulu kala sampai hari ini, aku tetap menjadi orang yang tidak memiliki banyak
uang, Sayang. Tapi mudah-mudahan dengan hadirmu, ke depannya aku menjadi lelaki
yang lebih giat lagi mencari uang. Sebab menikahimu membutuhkan modal. Ini
bukan lagi kisah anak ingusan yang bertukar makanan. Tapi tentang sepasang
makhluk Tuhan yang akan mewujudkan kebahagiaan.
Dalam
banyak kisah klasik, cinta orang kaya dan miskin selalu banyak rintangan. Di
era modern, persoalan klise ini masih aktual dan akan terus ada sebab di belahan
dunia mana pun, materi masih menjadi ukuran. Tapi, cinta yang besar akan
menghantam semua sehingga kita dengan segala kedaifan yang ada, akan bersama
mengarungi kebahagiaan sampai pihak yang menolak akan menginsafi bahwa mereka
sedang berbuat kesalahan. Tak perlu diperpanjang lagi. Kita hanya butuh dua
hal. Berdoa dengan khusyu dan berusaha dengan cerdas.
Baiklah.
Aku akan bercerita tentang pengalaman singkat hari pertama di Jakarta. Harusnya
aku menulisnya semalam. Sayang, hal yang berbeda dengan pengalamanku sebelumnya
di Jakarta adalah tekadku. Ini kali keempat aku di sini. Sebelumnya, aku selalu
merasa alergi dengan ibu kota dengan segala keruwetannya. Macet, orang-orang
yang keras, kota yang semrawut dan lain sebagainya. Sedang aku datang ke sini
menambah jumlah pendatang ibu kota padahal menurutku para pendatang di sini
harus kembali ke tanah kelahirannya agar Jakarta tak serumit ini.
Sekarang
tak ada lagi perasaan takut itu. Aku datang dengan mental optimis untuk
menaklukkan ibu kota. Aku harus bisa hidup di sini untuk mencari ilmu dan
katamu, untuk cari uang. Kata teman yang lama di Jakarta juga demikian. Aku
harus cari kerja di sini. Sementara, tawaran datang dari teman untuk mengajar
di sebuah SMP di daerah Ciputat dekat tempa tinggalku. Tapi aku masih ragu
sebab belum tahu jadwal kegiatan di PSQ. Lagi pula, jika aku mengajar SMP, maka
semua waktuku akan banyak tersita di sana.
Soal
tempat tinggal. Aku sementara berada di kos-kosan teman. Tempatnya cukup elit.
Uang kos perbulan satu juta lebih. Kamarnya luas. Cukup untuk hidup berdua
bahkan bertiga. Kamar mandinya juga airnya bersih dan segar. Sayangnya sinyal
seluler tidak lancar di sini. Terpaksa kartuku tak terpakai.
Besok,
aku baru ke PSQ. Kemungkinan aku akan tinggal di asrama saja. Di sana, pasti
ada banyak buku dan wi fi tersedia sehingga aku bisa lancar berkomunikasi
denganmu dan bisa menulis banyak hal. Tapi aku masih belum tahu bagaimana
kondisinya. Tadi malam baru sekedar lewat depan saja.
Besok
juga aku rencana ke rumah Pak Yudhie Haryono. Aku harap dia juga punya lowongan
kerja yang pantas untukku dan waktunya tak mengganggu aktifitasku. Aku yakin
Pak Yudhie ada banyak lowongan pekerjaan. Sebab dia punya banyak jaringan di
birokrasi, kampus dan lainnya. Semoga saja besok aku diberinya pekerjaan
sampingan. Syukur-syukur jika berhubungan dengan dunia tulis menulis.
Nanti
malam aku akan melanjutkan diskusi lagi. Diskusi yang sangat berat mengenai
filsafat, sejarah, politik dan asmara. Diskusi ini seolah memecah kerinduan
sejak tahun 2012 silam dimana seminggu dua kali aku dan teman-teman
mendiskusikan banyak hal yang serius dan berbobot.
Dalam
sela diskusi, aku sebenarnya ingin menceritakan tentang kehadiran perempuan
dalam hidupku sebelum aku ke sini. Yang tak lain adalah dirimu. Tapi teman-teman
seperti enggan mendengarnya. Barangkali mereka tak rela dengan kenyataan bahwa
aku memiliki kekasih yang cantik sepertimu. Tak mengapa. Boleh jadi, itu hanya
becandaan saja.
Yang
paling menarik dan ringan untuk kau pahami dalam diskusi semalam adalah
mengenai shock therapy. Bahwa Tuhan pasti akan memberikan shock therapy kepada
umatnya sebagai ujian yang berat. Bentuknya bermacam-macam. Bisa ditinggal mati
orang tercinta seperti ayah yang malas ibadah kemudian ditinggal mati anaknya
yang tercinta. Atau sepertiku dulu ditinggal selingkuh mantanku sehingga
akhirnya aku tersadar bahwa aku harus melakukan perubahan dalam hidupku yang
monoton. Hingga pada akhirnya aku mendekat sedekat-dekatnya kepada Tuhan.
Menjadi hamba yang baik lalu memutuskan untuk melanjukan kuliah S2.
Dalam
hal ini, shock therapy memang perlu dan akan dihadapi manusia. Terkadang sangat
berat sekali untuk dihadapi seolah di luar batas kemampuan manusia. Sehingga ia
menyadari bahwa dirinya selama ini sedang berbuat dosa kepada Tuhannya.
Puncaknya adalah dia harus kembali menghamba.
Temanku
pun begitu. Dia diputus kekasihnya yang sampai sekarang ia masih cintai.
Berbeda denganku yang sudah lupa dengan mantan-mantanku sebab kau telah hadir
kembali dalam hidupku dengan membawa cinta yang manis, cinta yang pernah
kusangka ada dalam dirimu orang yang sejak usia enam tahun ingin kumiliki
hatinya. Sampai aku rela dimiliki orang lain demi kebahagiaanmu. Sedang kini
kau datang dengan segudang cerita bahwa kau tak bahagia dan merasa bahagia jika
denganku. Maka, aku akan berusaha mewujudkannya. Semoga Allah meridhai semua.
No comments:
Post a Comment