Friday, July 29, 2016

26 Juli 2016

Ini hari kedua aku tinggal di Ibu kota. Hari kedua pula aku tak melihatmu setelah malam itu, saat kau dengan mata berkaca-kaca memberiku cincin emas kesayanganmu dan kuberikan tasbih besi untuk kau gunakan sebagai alat untuk mengingat Tuhan saat kau merindukanku. Selalu saja begitu. Kau memberiku barang yang lebih mahal dari yang kuberi. Sama seperti lima belas tahun yang lalu. Kau memberiku makanan yang mahal dari apa yang kuberi saat bertukar kado di hari valentine tahun 2001.

Malam itu akan selalu kuingat, Sayang. Bukan karena baju warna tosca muda yang kau gunakan atau kaca mata yang menutupi merah matamu karena menangis seharian. Tangisan deras karena kesalahanku. Ya, aku salah sebab tak datang ke rumahmu. Sedang kelembutan hatimu ternyata terlukai olehku secara tak sengaja. Kau anggap ketidakdatanganku adalah ingkar janji yang sangat mengecawakanmu. Aku tersadar kesalahan terbesarku setelah aku teringat aku pernah mengalami hal serupa. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku.

Untung saja pada akhirnya semua tersadar, bahwa kemarahan itu ada karena besarnya cintamu padaku. Aku pun begitu memendam cinta yang agung padamu. Hanya barangkali cara mengungkapkannya yang disalahpahami sehingga menimbulkan emosi. Dan cinta sejati akan kembali walaupun banyak hal yang menghalangi. Peristiwa kesalahpahaman kemarin adalah salah satu bentuk ujian bagi kita untuk lebih kuat lagi menggenggam cinta akan ikatan menjadi kuat dan tak ada yang mampu melepaskannya. Sampai tibalah waktu aku bilang padamu, I love You. Dan kau menjawab dengan kalimat serupa. Kalimat yang pertama kali kita ucapkan dalam perjumpaan walau kau tak berani menatap mataku.

Aku sadar bahwa aku harus berhati-hati lagi dalam bicara atau menulis sesuatu sebab aku tak ingin melukai hatimu. Dulu aku pernah begitu padamu sampai aku merasa bahwa lagu Sheila on 7 yang berjudul Bila Kau Tak Di Sampingku adalah penggambaran perasaanku padamu. Bahwa tak seharusnya kita berpisah, tak seharusnya kita bertengkar karena diriku masih butuh kau. Terlalu bodoh untuk diriku menahan berat jutaan rindu apalagi menahan egoku. Maafkanlah sikapku, lupakanlah salahku. Takkan kubiarkan kau terkikis, takkan kubiarkan kau menangis karena perasaanmu terluka oleh ucapanku. Maka jika itu terjadi, maafkanlah semua sikap kasarku, sebab aku tak bermaksud untuk melukaimu. Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu bila kau tak di sampingku.

Ingatkah lagu itu, Sayang? Lagu yang kuhafalkan dengan susah payah sebab dulu tak ada aat pemutar MP3. Jika ingin melihat video klip lagu itu, aku harus ke rumah tetangga sebab aku tak mempunyai tivi di rumah. Ternyata lagu itu masih relevan hari ini.

Sayang, pemberian cincin dan tasbih malam itu menjadi salah satu petunjuk bahwa sejak dahulu kala sampai hari ini, aku tetap menjadi orang yang tidak memiliki banyak uang, Sayang. Tapi mudah-mudahan dengan hadirmu, ke depannya aku menjadi lelaki yang lebih giat lagi mencari uang. Sebab menikahimu membutuhkan modal. Ini bukan lagi kisah anak ingusan yang bertukar makanan. Tapi tentang sepasang makhluk Tuhan yang akan mewujudkan kebahagiaan.

Dalam banyak kisah klasik, cinta orang kaya dan miskin selalu banyak rintangan. Di era modern, persoalan klise ini masih aktual dan akan terus ada sebab di belahan dunia mana pun, materi masih menjadi ukuran. Tapi, cinta yang besar akan menghantam semua sehingga kita dengan segala kedaifan yang ada, akan bersama mengarungi kebahagiaan sampai pihak yang menolak akan menginsafi bahwa mereka sedang berbuat kesalahan. Tak perlu diperpanjang lagi. Kita hanya butuh dua hal. Berdoa dengan khusyu dan berusaha dengan cerdas.

Baiklah. Aku akan bercerita tentang pengalaman singkat hari pertama di Jakarta. Harusnya aku menulisnya semalam. Sayang, hal yang berbeda dengan pengalamanku sebelumnya di Jakarta adalah tekadku. Ini kali keempat aku di sini. Sebelumnya, aku selalu merasa alergi dengan ibu kota dengan segala keruwetannya. Macet, orang-orang yang keras, kota yang semrawut dan lain sebagainya. Sedang aku datang ke sini menambah jumlah pendatang ibu kota padahal menurutku para pendatang di sini harus kembali ke tanah kelahirannya agar Jakarta tak serumit ini.

Sekarang tak ada lagi perasaan takut itu. Aku datang dengan mental optimis untuk menaklukkan ibu kota. Aku harus bisa hidup di sini untuk mencari ilmu dan katamu, untuk cari uang. Kata teman yang lama di Jakarta juga demikian. Aku harus cari kerja di sini. Sementara, tawaran datang dari teman untuk mengajar di sebuah SMP di daerah Ciputat dekat tempa tinggalku. Tapi aku masih ragu sebab belum tahu jadwal kegiatan di PSQ. Lagi pula, jika aku mengajar SMP, maka semua waktuku akan banyak tersita di sana.

Soal tempat tinggal. Aku sementara berada di kos-kosan teman. Tempatnya cukup elit. Uang kos perbulan satu juta lebih. Kamarnya luas. Cukup untuk hidup berdua bahkan bertiga. Kamar mandinya juga airnya bersih dan segar. Sayangnya sinyal seluler tidak lancar di sini. Terpaksa kartuku tak terpakai.

Besok, aku baru ke PSQ. Kemungkinan aku akan tinggal di asrama saja. Di sana, pasti ada banyak buku dan wi fi tersedia sehingga aku bisa lancar berkomunikasi denganmu dan bisa menulis banyak hal. Tapi aku masih belum tahu bagaimana kondisinya. Tadi malam baru sekedar lewat depan saja.

Besok juga aku rencana ke rumah Pak Yudhie Haryono. Aku harap dia juga punya lowongan kerja yang pantas untukku dan waktunya tak mengganggu aktifitasku. Aku yakin Pak Yudhie ada banyak lowongan pekerjaan. Sebab dia punya banyak jaringan di birokrasi, kampus dan lainnya. Semoga saja besok aku diberinya pekerjaan sampingan. Syukur-syukur jika berhubungan dengan dunia tulis menulis.

Nanti malam aku akan melanjutkan diskusi lagi. Diskusi yang sangat berat mengenai filsafat, sejarah, politik dan asmara. Diskusi ini seolah memecah kerinduan sejak tahun 2012 silam dimana seminggu dua kali aku dan teman-teman mendiskusikan banyak hal yang serius dan berbobot.

Dalam sela diskusi, aku sebenarnya ingin menceritakan tentang kehadiran perempuan dalam hidupku sebelum aku ke sini. Yang tak lain adalah dirimu. Tapi teman-teman seperti enggan mendengarnya. Barangkali mereka tak rela dengan kenyataan bahwa aku memiliki kekasih yang cantik sepertimu. Tak mengapa. Boleh jadi, itu hanya becandaan saja.

Yang paling menarik dan ringan untuk kau pahami dalam diskusi semalam adalah mengenai shock therapy. Bahwa Tuhan pasti akan memberikan shock therapy kepada umatnya sebagai ujian yang berat. Bentuknya bermacam-macam. Bisa ditinggal mati orang tercinta seperti ayah yang malas ibadah kemudian ditinggal mati anaknya yang tercinta. Atau sepertiku dulu ditinggal selingkuh mantanku sehingga akhirnya aku tersadar bahwa aku harus melakukan perubahan dalam hidupku yang monoton. Hingga pada akhirnya aku mendekat sedekat-dekatnya kepada Tuhan. Menjadi hamba yang baik lalu memutuskan untuk melanjukan kuliah S2.

Dalam hal ini, shock therapy memang perlu dan akan dihadapi manusia. Terkadang sangat berat sekali untuk dihadapi seolah di luar batas kemampuan manusia. Sehingga ia menyadari bahwa dirinya selama ini sedang berbuat dosa kepada Tuhannya. Puncaknya adalah dia harus kembali menghamba.

Temanku pun begitu. Dia diputus kekasihnya yang sampai sekarang ia masih cintai. Berbeda denganku yang sudah lupa dengan mantan-mantanku sebab kau telah hadir kembali dalam hidupku dengan membawa cinta yang manis, cinta yang pernah kusangka ada dalam dirimu orang yang sejak usia enam tahun ingin kumiliki hatinya. Sampai aku rela dimiliki orang lain demi kebahagiaanmu. Sedang kini kau datang dengan segudang cerita bahwa kau tak bahagia dan merasa bahagia jika denganku. Maka, aku akan berusaha mewujudkannya. Semoga Allah meridhai semua.


No comments:

Post a Comment